Selasa, 13 Januari 2015

hubungan antara konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum


               BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Konsep diri didefinisikan sebagai semua  pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir tetapi dipelajari sebagai pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Konsep diri memberikan rasa kontinuitas, keutuhan dan konsistensi pada seseorang. Konsep diri yang sehat mempunyai kestabilan yang tinggi dan  membangkitkan perasaan positif atau negatif pada diri sendiri (Stuart & Sundeen, 1998, p.227).
Komponen konsep diri terdiri dari citra tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran dan identitas personal. Citra tubuh adalah kumpulan sikap individu yang disadari terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan sekarang serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan di modifikasikan dengan persepsi dan pengalaman yang baru. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku  berdasarkan standar, aspirasi, tujuan  atau nilai personal tertentu. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai interpesonal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dengan kelompok sosial. Peran merupakan serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dengan berbagai kelompok sosial. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, keseimbangan, konsisten dan komunikasi individu (Stuart & Sundeen, 1998, p.228).
Metode pembedahan pada pasien fraktur ekstremitas dapat mengakibatkan kerusakan bentuk tubuh dan gangguan fungsi. pendekatan multi disiplin sangat penting selama dan setelah menjalani pembedahan. pendekatan ini memberikan pasien tersebut sesuatu yang positif untuk difokuskan ketika pikiran–pikiran tentang perubahan bentuk tubuh yang mungkin begitu kuat. efek pembedahan pada citra tubuh, harga diri, dan kemempuan fungsi menjadi perhatian. bila perlu rencana rehabilitasi pascaoperatif dibuat sebelum intervensi pembedahan (Smeltzer & Bare, 2001, p.327)
Stres menurut Selye (1950) dikutip oleh Hidayat (2007, p.55) merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stres apabila seseorang mengalami beban yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi bebannya, maka tubuh akan berespons dengan tidak mampu terhadap beban tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres. Sebaliknya apabila seseorang dengan beban yang berat tetapi mampu mengatasi beban tersebut dan tubuh berespons dengan baik maka orang itu tidak mengalami stres.
Pembedahan atau operasi pada pasien fraktur ekstremitas merupakan salah satu bentuk terapi medis, tindakan tersebut dapat menyebabkan stres karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Komunikasi yang jujur dan informatif dengan pasien dan keluarga mengenai tujuan dari pembedahan adalah penting untuk mencegah harapan yang tidak nyata dan kekecewaan. Pasien membutuhkan bantuan untuk menghadapi kemungkinan perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh pembedahan. Pasien post operasi fraktur ekstremitas biasanya merasa cemas akan perubahan kondisi fisiknya karena pasien merasa akan tidak sanggup lagi melakukan aktifitas seperti biasa (Smeltzer & Bare, 2001, p.329).
Pasien post operasi fraktur ekstremitas yang mengalami stres tubuhnya akan mengaktifkan respon melawan atau menghindari baik tubuhnya tetap aktif maupun diam saja. Akibatnya tubuh akan mengeluarkan banyak energi yang dapat menyebabkan keletihan baik secara mental maupun fisik, dan bila stres tidak segera teratasi dikhawatirkan akan memperpanjang hari rawatan dan memperlambat proses penyembuhannya (Hudak & Gallo, 1997,p.31).
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang, penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2007 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda, dari hasil survey tim Depkes RI didapatkan 25% penderita fraktur yang mengalami kematian, 45 mengalami cacat fisik, 15% mengalami stress psikologis dan 10% mengalami kesembuhan dengan baik. dan di Sumatera Selatan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2006 didapatkan sekitar 2700 orang mengalami insiden fraktur, 56% penderita mengalami kecacatan fisik, 24% mengalami kematian, 15% mengalami kesembuhan dan 5% mengalami gangguan psikologis terhadap adanya kejadian fraktur (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti dari buku register pasien di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, Jeumpa II dan Jeumpa III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh didapatkan jumlah pasien post operasi fraktur ekstremitas yang dirawat dari Januari 2010 sampai dengan Desember 2010 di Ruang Jeumpa I berjumlah 80 orang, Ruang Jeumpa II berjumlah 58 orang serta Ruang Jeumpa III berjumlah 75 orang. dan totalnya semua berjumlah 213 dengan rata-rata perbulan 18 orang.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama 4 tahun bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas menunjukkan reaksi peningkatan ketegangan psikologis dimana pasien merasa khawatir, merasa kurang berharga, sedih dan malu akibat keadaan fisiknya yang sudah jelek dan tidak sempurna lagi setelah tindakan operasi serta sering bertanya apakah fisiknya masih bisa kuat seperti sebelumya.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap 10 pasien post operasi fraktur ekstremitas di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, II , III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 15 April 2011, semuanya menunjukkan tanda-tanda gelisah dan sedih akan kondisi fisiknya dan selalu bertanya tentang  kondisi penyakitnya, 6 orang diantaranya merasa sedih dan malu dengan kondisi fisiknya yang sudah jelek setelah operasi dan menanyakan apakah masih mungkin untuk kembali sempurna seperti semula. 8 orang diantaranya mengatakan sangat mudah marah, frustasi dan tersinggung dengan keluarga dan petugas setelah tindakan operasi dilakukan. Pasien juga merasa khawatir soal pekerjaan, khawatir tergantung pada keluarga, khawatir soal keuangan dan takut akan hari depannya.
Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Konsep Diri dengan Stres Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.

Gambaran Perkembangan Sosial Remaja Di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masa remaja atau adolesensi merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa remaja yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan (Narendra, Sularyo, Soetjiningsih, Suyitno, Ranuh & Wiradisurya. 2002, p.138).
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua. Bagian dari kebebasan ini memerlukan perkembangan hubungan sosial di luar keluarga yang membantu remaja mengidentifikasi peran mereka di masyarakat. Pada masa remaja kemampuan bersosialisasi yang sangat kuat dan sering kali merupakan suatu masa kesepian yang sama-sama kuat, penerimaan teman sebaya, beberapa teman dekat dan jaminan rasa cinta dari keluarga yang mendukung merupakan syarat-syarat untuk proses kematangan interpersonal. Variabel dari perkembangan sosial antara lain perkembangan sosial dengan pengasuh, dengan teman sebaya dan dengan teman lawan jenis (heteroseksual) (Wong, Eaton, Wilson, Winkelstein & Schwartz. 2008, p.592).
Perkembangan  sosial pada masa puber dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu mulai  terbentuknya kelompok  teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda dan mulai memisahkan diri dari orang tua (Suprobo, 2008).
Pola perilaku sosial atau prilaku yang tidak sosial dibina pada masa kanak-kanak awal atau masa pembentukan, pengalaman sosial awal sangat menentukan kepribadian setelah anak menjadi remaja atau dewasa. Banyaknya pengalaman kebahagiaan mendorong anak untuk mencari pengalaman semacam itu lagi dan untuk menjadi orang yang mempunyai sifat sosial. Pengalaman yang tidak menyenangkan yang terlalu banyak juga dapat mendorong remaja menjadi tidak sosial dan anti sosial (Hurlock, 1978, p.256).
Panti asuhan merupakan salah satu tempat penampungan anak yatim/piatu, anak terlantar dan anak fakir miskin. Bagi kebanyakan anak, panti asuhan memberi lingkungan hidup yang aman dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara fisik dan mengembangkan potensi yang dipunyainya. Namun untuk anak yang lain, panti asuhan merupakan salah satu tempat yang dianggap sebagai riwayat perampasan kehidupannya (Behrman, Kliegman & Arvin, 1996, p.33). Pada umumnya anak-anak yang ada di panti asuhan merasa rendah diri karena mereka merasa berbeda dengan anak lainnya, mereka di asuh bukan oleh keluarganya sendiri. Dalam hubungan sosial mereka juga merasa agak sedikit minder karena statusnya sebagai anak panti. Dengan demikian hubungan sosial dengan masyarakat di sekitarnyapun agak sedikit terbatas, walaupun penerimaan masyarakat terhadap mereka itu baik.
Dalam menilai perkembangan sosial remaja, banyak hal yang mempengaruhinya antara lain keluarga, kematangan anak, status ekonomi sosial, pendidikan dan kapasitas mental, emosi serta inteligensi (Maimalu, 2010). Satu hal yang lainnya yang ikut mempengaruhi perkembangan sosial yaitu keyakinan. Di dalam ajaran agama islam memiliki aturan atau norma-norma dalam bergaul dengan teman lawan jenis. Sejak syariat Islam ditetapkan di Provinsi Aceh pada tanggal 14 Maret 2002, hal tersebut telah mempengaruhi interaksi sosial terhadap setiap kalangan dari masyarakat, termasuk remaja (Yusni, 2010).
Berkomunikasi atau berinteraksi dengan lawan jenis diperbolehkan dalam ajaran agama islam, asalkan dalam batasan yang wajar dan sesuai dengan aturan-aturan (Bioman, 2010). Aturan bergaul dengan teman lawan jenis dalam ajaran Islam antara lain dilarang untuk berkholwat (berdua-duaan), menjaga aurat terhadap lawan jenis, menundukkan pandangan, tidak boleh ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita) dan menjaga kemaluan (Zainab, 2010).
Menurut Meizara (2006), perilaku anak panti asuhan cenderung rendah diri dan memiliki kenakalan yang luar biasa. Banyak hal yang menjadikan mereka bersikap rendah diri, karena status mereka sebagai anak yang tidak mempunyai orang tua dan besar di lingkungan panti asuhan. Pemberian kasih sayang dari pengasuh tidak dapat disalurkan secara menyeluruh, banyaknya anak yang harus mendapatkan perhatian sehingga secara totalitas tidak tercapai. Secara fisik mungkin dirasakan, namun secara psikologis anak tidak mendapatkannya. Setiap anak menginginkan perhatian dan kasih sayang yang lebih, tetapi karena jumlah mereka yang banyak menjadikan para pengasuh panti tidak dapat memberikan perhatian secara utuh. Secara psikologis anak-anak akan merasakan kesendirian, tidak ada keluarga untuk berbagi dan ini cenderung tidak diperhatikan oleh pengurus panti asuhan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Susanti (2006, p.43), mengenai gambaran kebutuhan psikologis anak yatim usia remaja di panti asuhan Nirmala Lampineung Banda Aceh terhadap 33 responden secara garis besar didapat hasil 51,52% dengan kategori kurang. Keikut sertaan dan diterima dalam kelompok sosial pada anak remaja di panti asuhan Nirmala berada pada kategori baik, yaitu 66,67%. Hal ini disebabkan karena adanya solidaritas dan rasa kepedulian yang tinggi dari masyarakat setempat terhadap anak yatim yang tinggal di panti.
Penelitian yang dilakukan oleh Rosita (2008, p.79), tentang hubungan pola bimbingan perkembangan sosial oleh keluarga terhadap perilaku sosial pada remaja di SMA Negeri 5 Banda Aceh, pola bimbingan perkembangan sosial pada siswa-siswi di SMAN 5 Banda Aceh sebagian besar dalam kategori positif, sebanyak 57 orang (64%). Perilaku sosial siswa-siswi di SMAN 5 Banda Aceh sebagian besar berada pada kategori baik, sebanyak 58 orang (64%).
Berdasarkan data yang dimiliki oleh lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khususnya anak-anak (Unicef) pada tahun 2010, jumlah anak yatim/piatu di Indonesia mencapai 4,4 juta jiwa dan jumlah panti asuhan diperkirakan mencapai 7.000 panti (Hiru, 2010). Di Propinsi NAD terdapat 222 Panti Asuhan (Swasta dan Pemda) dengan jumlah anak yatim/piatu sekitar 124.003 orang. Ada 12 panti asuhan di Banda Aceh dengan jumlah anak yatim/piatu di sekitar 2.902 orang (Data Dinas Sosial Propinsi Aceh, 2010).
Berdasarkan hasil pengumpulan data awal pada bulan April 2011 di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh terdapat 80 orang anak yang tinggal di panti (50 orang laki-laki dan 30 orang perempuan). Jumlah pengasuh di panti sebanyak 6 orang, termasuk juru masak. Semua anak-anak di panti  mendapatkan pendidikan formal yang berada diluar panti, diantaranya 5 orang sedang mengikuti sekolah dasar (SD), 60 orang SMP dan 15 orang SMA. Jumlah anak remaja di Panti Asuhan tersebut ada 75 orang.
Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Perkembangan Sosial Remaja Di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011”.


B.     Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran perkembangan sosial remaja di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011?.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan pengasuh di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
b.      Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan teman sebaya di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
c.       Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan teman lawan jenis (heteroseksual) di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan, pengetahuan serta pengalaman dalam melakukan penelitian keperawatan, khususnya yang berkaitan dengan gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
2.      Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan, pengetahuan dan menambah wawasan khususnya tentang gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
3.      Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan tinjauan keilmuan khususnya dibidang keperawatan serta dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
4.      Bagi Panti Asuhan
Untuk menambah wawasan dan sebagai bahan masukan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan khususnya pada perkembangan sosial remaja yang tinggal di panti asuhan.
5.      Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai dasar referensi untuk penelitian selanjutnya, mengenai gambaran perkembangan sosial anak remaja di panti asuhan.

skripsi tentang Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan istirahat tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Setiap orang dengan latar belakang yang beragam memiliki kebutuhan dan kebiasaan tidur yang berbeda-beda. (Mott, James, & Sperhae, 1990). Demikian pula halnya dengan anak usiaprasekolah. Anak-anak usia ini masih memerlukan waktu tidur yang rutin. Namun pada usia ini anak jarang tidur siang dan sering terbangun di malam hari karena kegiatan fisik disiang hari meningkat seperti bermain. Orang tua dapat membantu anak-anaknya dengan mengingatkan waktu tidur, menggunakan pendekatan dan dilakukan secara terus menerus secara konsisten (Rudolph, 2006).
 Mengenai kapan anak tidur tergantung pada umur, keadaan kesehatan, kegiatan sehari, dan bagaimana keadaan anak. Ketika anak mengalami perawatan di rumah sakit, anak membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup, karena tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan. Kebutuhan tidur anak usia prasekolah adalah 11 jam/ hari dengan atau tanpa tidur siang. Pada anak-anak, tidur berdampak positif terhadap kesehatan fisik, mental, emosi, serta sistem kekebalan tubuh. Lebih penting lagi, tidur merupakan salah satu rangsang bagi tumbuh kembang otak di samping sebagai upaya pendidikan (pembelajaran) dan pemenuhan gizi (Hidayat, 2006).
Anak yang mengalami kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat dinilai atau diidentifikasi dari kondisi fisik ataupun psikologis anak. Menurut Kozier, Erb, Blais & Wilkinson (1995), untuk menilai masalah tidur dapat dilihat dari penampilan wajah, tingkah laku dan tingkat energi. Adanya lingkaran hitam di sekeliling mata, konjungtiva yang merah dan kantung mata yang bengkak merupakan indikasi tidur yang tidak cukup. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada tingkat kooperatif anak terhadap tindakan keperawatan ataupun pengobatanselama anak mengalami hospitalisasi (Kozier, 1995).
Hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan (Supartini, 2004). Penyakit dan hospitalisasi menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Kecemasan karena perpisahan, kehilangan control, ketakutan tubuh disakiti merupakan penyebab utama reaksi perilaku dari anak yang mengalami hospitalisasi. Usia menunjukkan manifestasi khusus, anak prasekolah sering menunjukkan perilaku seperti menangisi orang tua, tidak mau bekerja sama dengan perawat, menolak makan, dan kemunduran eliminasi merupakan reaksi terhadap gangguan pencapaian tugas perkembangan yang dicapai anak prasekolah (Wong, 2009) .
Selama mengalami hospitalisasi anak harus beradaptasi terhadap lingkungan yang asing seperti aktivitas rumah sakit, petugas rumah sakit, perubahan rutinitas, dan ketergantungan yang harus dipatuhi yaitu tindakan keperawatan pengobatan (Supartini, 2004).
Beberapa tindakan keperawatan rutin yang diterima anak selama hospitalisasi adalah tindakan injeksi, pemasangan infuse, harus minum obat yang rasanya tidak enak, serta harus menjalani prosedur invasive (Wong, 2009). Tindakan lain seperti, pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok, dipaksa untuk berbaring, menjadi subjek untuk prosedur yang tidak diketahui seperti sinar x, elektrokardiogram,  elektroensefalogram, serta harus menggunakan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan seperti, kebutuhan nutrisi, respirasi dan lain-lain (Rudolph, 2006).
Tindakan tersebut sangat membuat anak merasa tidak nyaman, apalagi ada tindakan keperawatan yang dilakukan pada malam hari yang dapat menganggu waktu tidur anak. Usaha pasien dalam memenuhi kebutuhan tidurnya kurang menjadi fokus perhatian perawat, selama ini perawat hanya fokus pada respon fisik yang muncul akibat penyakit yang diderita pasien. Terpenuhi tidaknya kebutuhan tidur pasien merupakan suatu yang bersifat subjektif, sulit dinilai sehingga perlu pendekatan yang baik (Wong, 2004).
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan keperawatan pada anak. Berdasarkan hasil wawancara penulis pada 6 orang tua anak yang dirawat di Ruang Serune I, di peroleh bahwa anak merasa takut dan terasa sakit saat diberikan tindakan medis seperti pemberian obat melalui injeksi, pemasangan infus, pemasangan oksigen serta mengganti balutan yang dapat mengganggu waktu tidur mereka. Dan orang tua anak juga mengatakan bahwa anaknya sering meminta makanan dan minuman saat tengah malam sehingga butuh waktu lagi untuk membuat mereka tertidur.
Salah satu penelitian tindakan keperawatan yang mempengaruhi tidur yang telah dilakukanoleh Huth,1999  menunjukkan bahwa pemberian injeksi merupakan salah satu prosedur yang paling ditakuti. Karena injeksi menyakitkan perawat harus melakukan teknik injeksi yang sempurna dan tindakan pereda nyeri yang efektif untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Jika obat diberikan selama 24 jam, perawat tidak boleh mencoba memberikan injeksi pada anak yang sedang tidur sekalipun terlihat lebih mudah jika dibandingkan dengan anak kecil yang tidak tidur. Hal ini dapat menyebabkan anak takut tidur, jika anak dibangunkan terlebih dahulu ia akan mengetahui bahwa tidak akan ada yang terjadi kecuali jika ia diberitahu terlebih dahulu (Wong,2008).
Menurut Evans dan French (1995),  fungsi tidur adalah berhubungan dengan penyembuhan, memperoleh kualitas tidur yang baik  penting untuk peningkatan kesehatan yang baik dan pemulihan klien yang sakit, karena tidur diyakini dapat memberikan pemulihan fisiologis dan psikologis. Salah satu intervensi yang harus dilakukan pada anak yang dirawat inap adalah menetapkan periode untuk tidur dan istirahat tanpa gangguan (Potter & Perry, 2006)
Mengingat tidur yang baik sangat berhubungan dengan penyembuhan maka peneliti tertarik untuk membuat sebuah penelitian mengenai “ Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  di atas maka yang menjadi permasalahan penelitian adalah  “Adakah Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui hubungan tindakan keperawatan dengan Waktu tidur anak usia prasekolah di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian obat secara injeksi dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
b.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemasangan infus dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
c.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian O2 dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
d.   Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian makanan dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
e.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian minuman dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan hasil berupa “Hubungan Tindakan Keperawatan dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Serune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel AbidinBanda Aceh, sehingga dapat memberikan manfaat bagi:
a.       Peneliti
Sebagai bahan kajian ilmuwan untuk menambah wawasan tentang waktu tidur pada pasien anak dan sebagai bahan dalam proses pembelajaran penyusunan skripsi.
b.      Institusi Rumah Sakit
Sebagai masukan kepada pihak pengelola Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin dalam memberikan pelayanan dan pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.


c.       Tenaga Keperawatan
Sebagai masukan bagi perawat untuk melakukan praktek keperawatan professional dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya dalam memenuhi kebutuhan waktupada pasien anak.
d.      Instansi Pendidikan Keperawatan
Sebagai informasi bagi pendidikan keperawatan, sehingga dapat memotivasi instansi pendidikan keperawatan untuk menciptakan lulusan perawat yang siap mengimplementasikan praktek keperawatan professional khususnya dalam keperawatan anak.
e.       Penelitian Keperawatan
Sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya dan bahan pertimbangan bagi yang berkepentingan untuk melanjutkan penelitian dalam ruang lingkup yang sama dan sebagai tambahan dalam teori keperawatan anak.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anak Usia Prasekolah
Anak adalah usia individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, dimana dapat memfalisitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, 2004). Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja Masa prasekolah yaitu usia 3 sampai 6 tahun, dimana pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kilogram dan tinggi badan bertambah rata-rata 6,75  sampai 7,5 centimeter setiap tahunnya (Hidayat, 2005). 

Download Skripsi Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung kecamatan Darussalam kabupaten Aceh Besar Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Penyakit menular merupakan sebab dari 37,2% kematian didunia sejak tahun 1992. Namun untuk kelompok usia 1-4 tahun, diare merupakan problema kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi. Diare sering dianggap penyakit yang biasa, padahal ditingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya, kejadian diare masih menunjukkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah penderita terbanyak dalam waktu yang singkat (Amiruddin dkk, 2009).
Penyakit diare hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian utama pada anak usia di bawah lima tahun (balita). Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang berjudul "Diarrhoea: why children are still dying and what can be done" menyebutkan, setiap tahun 1,5 juta anak balita meninggal dunia akibat diare. Penyakit itu menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada anak balita setelah penyakit ISPA (Tvonenews, 2011).
World Health Organization (WHO), memperkirakan setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare. Angka kejadian diare pada anak didunia mencapai 1 milyar kasus tiap tahunnya dan penyebab kematian sekitar 5 juta jiwa. Statistik di Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta kasus diare dan 16,5 juta diantaranya balita (Warman, 2005).
Menurut Astaqauliah (2010), kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau usia lanjut, di mana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara maju. 
Angka kesakitan diare adalah sekitar 200–400 kejadian diare, dapat ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawah lima tahun (± 40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare. Sebagian dari penderita (1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000–500.000 anak dibawah lima tahun meninggal setiap tahunnya (Astaqauliah, 2010).
Berdasarkan data Profil Dinas Kesehatan Provinsi Aceh tahun 2009, diare merupakan penyakit yang banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita. Jumlah pasien untuk semua golongan umur yang dilaporkan pada periode tahun 2009 mencapai 88.569. Sedikit menurun bila dibandingkan tahun 2008 yang jumlah kasusnya mencapai 88.913. Adapun proporsi kasus diare balita tidak jauh berbeda dibandingkan tahun yang lalu. Pada tahun 2009 proporsi kasus diare balita mencapai 44,5%, sedangkan pada tahun 2008 sebesar 44,3%. Berdasarkan jumlah kasus diare diatas, maka angka kesakitan diare pada semua kelompok umur adalah 18 per 1.000 penduduk. 
Menurut Savitri (2002), ada beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita yaitu faktor lingkungan, faktor penyapihan yang buruk, dan faktor individu. Menurut Nilton dkk (2008) faktor yang mempengaruhi terjadinya diare diantaranya yaitu penggunaan air bersih, pemakaian jamban, pengolahan sampah, sanitasi makanan, kebiasaan mencuci tangan, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Sedangkan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung dalam penentuan perilaku hidup bersih dan sehat (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2007, p:13) menyatakan bahwa orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status kesehatan kepada anak-anak mereka. Orang tua yang sehat dan gizinya baik akan mewariskan kesehatan yang baik pula kepada anaknya. Sebaliknya kesehatan orang tua, khususnya kesehatan ibu yang rendah dan kurang gizi, akan mewariskan kesehatan yang rendah pula pada anaknya. Rendahnya kesehatan orang tua, terutama ibu, bukan hanya karena sosial ekonominya rendah, tetapi sering juga disebabkan karena orang tua atau ibu tidak mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatannya atau tidak tahu makanan yang bergizi yang harus dimakan.
Hasil penelitian Adisasmito (2007), faktor resiko diare menurut faktor ibu yang bermakna adalah pengetahuan ibu terhadap diare, perilaku dan hygiene ibu. Sedangkan faktor resiko anak adalah status gizi, dan pemberian ASI Eksklusif, faktor lingkungan sarana air bersih yang tercemar jamban. Menurut Ngastiyah (2005, p:233), kurangnya pengetahuan orang tua terhadap penyakit diare merupakan salah salah satu faktor resiko yang ikut berperan dalam timbulnya diare, maka perlu diberikan penyuluhan kepada orang tua tentang kebersihan perorangan anak maupun lingkungan dan  pola pemberian makanan.
Hasil analisis Yunus (2003), menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian diare balita yaitu sarana air bersih, jamban, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian diare balita adalah kualitas air bersih, sampah, dan rumah. Dari ke empat variabel yang berhubungan tersebut yang paling dominan berisiko terhadap kejadian diare balita adalah perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare.
Peran ibu dalam melakukan pelaksanaan dan pencegahan terhadap diare diperlukan suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi mempunyai hubungan yang positif, yakni dengan peningkatan pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan cepat (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan pengumpulan data awal oleh peneliti, didapatkan bahwa pada tahun 2009 Aceh Besar tercatat sebagai kabupaten/kota yang memiliki angka kematian balita terbanyak ke-4 setelah Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Aceh singkil yaitu sebanyak 9 orang. Diare juga merupakan penyakit yang ke-2 paling banyak terjadi di Puskesmas setelah influenza. Di kabupaten/kota Aceh Besar merupakan kota yang memiliki jumlah kasus ke-3 terbanyak yaitu sebanyak 9.629 kasus, kasus diare yang terjadi pada balita sebanyak 9.628 kasus, yang ditangani sebanyak 2.590 kasus (26,90%) dari kasus yang ada yang terjadi pada tahun 2009. Berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan Darussalam tahun 2011 terdapat 282 kasus diare pada balita yang diakumulasikan dari bulan maret 2010 sampai maret 2011.
Berdasarkan data diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung kecamatan Darussalam kabupaten Aceh Besar Tahun 2011”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalahnya adalah “Bagaimana Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011?”.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011.

2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara penggunaan air bersih dalam upaya pencegahan diare pada balita.
b.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian jamban dalam upaya pencegahan diare pada balita.
c.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pengolahan sampah dalam upaya pencegahan diare pada balita.
d.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara mengolah makanan (sanitasi makanan) dalam upaya pencegahan diare pada balita.
e.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap kebiasaan mencuci tangan dalam upaya pencegahan diare pada balita.
f.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara memanfaatkan ketersediaan fasilitas kesehatan dalam upaya pencegahan diare pada balita.
g.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian botol susu dalam upaya pencegahan diare pada balita.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penelitian khususnya berkaitan dengan  faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
2.    Bagi Institusi pendidikan, khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, diharapkan agar dapat menjadi bahan tinjauan dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
3.    Bagi Profesi Keperawatan, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam upaya peningkatan kesehatan khususnya tentang upaya pencegahan diare pada balita.
4.    Bagi Masyarakat, sebagai sumber informasi tentang faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
5.    Bagi Peneliti selanjutnya, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan dapat melanjutkan penelitian pada aspek yang lainnya mengenai penyakit diare.