BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang cenderung semakin luas penyebarannya
adalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini nyaris ditemukan
hampir diseluruh belahan dunia terutama di Negara tropik dan sub
tropik baik secara endemik dan epidemik dengan masa peralihan berkaitan dengan
datangnya musim penghujan (Djunaedi, 2006
dalam Widia, 2009).
Banyak
faktor yang menyebabkan semakin tingginya jumlah penderita DBD antara lain
karena kepadatan vektor penular (Nyamuk Aedes Aegepty), mobilitas penduduk,
belum optimalnya program pemberantasan sarang nyamuk baik dilihat dari sarana
maupun prasarana, perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat belum optimal
(Depkes, 2010). Selain itu kasus DBD
biasanya meningkat selama musim penghujan (Endang,
2010).
Data
Dunia dan Nasional pada Januari-Oktober 2010 mencatat 2.106 kasus. Jumlah ini
dilaporkan jauh meningkat dibandingkan dengan kasus yang terjadi pada 2009 yang
hanya 1.859 kasus, sementara untuk tahun 2008 jauh lebih tinggi hingga mencapai
angka 2.436 kasus. Ada 4 kabupaten/kota di Aceh yang tergolong endemis DBD
sejak 2008 hingga Januari-Oktober 2010, yaitu Lhoksemawe, Banda Aceh, Aceh Besar
dan Aceh Tamiang (www.berita8.com).
Berdasarkan data Profil Dinas kesehatan Provinsi Aceh
(2009), jumlah kasus DBD sebanyak 2.072 kasus. Sementara data yang didapatkan
dari Dinas Kesehatan kota Banda Aceh
tahun 2010, jumlah kasus yang terjadi sebanyak 750 kasus jauh lebih tinggi
daripada angka kejadian pada tahun 2009 yang berjumlah 306 kasus.
Upaya-upaya
untuk mengantisipasi dan menanggulangi berjangkitnya DBD di daerah-daerah telah
dilakukan oleh dinas terkait, seperti penanganan kasus di Rumah Sakit, Puskesmas,
dan fogging. Demikian juga bentuk-bentuk upaya pemberdayaan masyarakat
khususnya dalam pencegahan dan penanggulangan DBD melalui gerakan 3M Plus, peningkatan
derajat kesehatan, upaya perlindungan khusus terhadap penyakit, upaya penemuan
kasus secara dini dan pengobatan segera, serta upaya untuk mencegah kefatalan
dan kecacatan ini terus dikembangkan dan ditingkatkan (Zahtamal, 2010).
Namun pada
kenyataannya penanganan DBD di tingkat masyarakat belum menunjukkan hasil yang
menggembirakan. Hal ini dilihat dari belum banyaknya masyarakat yang memahami
dan melakukan upaya penanganan yang tepat yakni melalui gerakan 3M Plus
sehingga angka kasus DBD ini masih ada dan cukup tinggi.
Meskipun
banyak upaya yang dilakukan, target pemerintah untuk menurunkan kejadian DBD
menjadi 20 per 100.000 penduduk didaerah endemis masih tetap sulit dicapai, hal
ini terlihat pada akhir 2008 saja jumlah kasus DBD masih tetap tinggi. Secara
nasional angka kejadian saat ini 48 per 100.000 dengan angka kematian/Case
Fatality Rate (CFR) pada tahun 2009 adalah 1,8%, tidak jauh berbeda
dengan angka kejadian DBD tahun 2008 sebanyak 50 per 100.000 penduduk dengan
angka kematian sebesar 1% (Kandun, 2009).
Adanya
kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan oleh berbagai tenaga kesehatan
diharapkan mampu memberdayakan peran serta masyarakat untuk dapat mencegah dan
menurunkan angka Demam Berdarah Dengue. Promosi kesehatan atau penyuluhan
kesehatan yang di berikan tentang pertolongan pertama pada penderita Demam Berdarah
Dengue, dan selanjutnya dirujuk ke rumah sakit bila perlu, penaburan bubuk
abate pada tempat-tempat penampungan air, pemberantasan sarang nyamuk dengan
cara bergotong royong yang melibatkan masyarakat, serta penyebaran leaflet pada
masyarakat.
Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Widia
(2009), bahwa hasil
penelitian menunjukkan Ada hubungan antara keberadaan jentik Aedes aegypti pada
kontainer (p=0,001), kebiasaan menggantung pakaian (p=0,001), ketersediaan
tutup pada kontainer (p=0,001), frekuensi pengurasan kontainer (p=0,027),
pengetahuan responden tentang DBD (p=0,030) dengan kejadian DBD di Kelurahan
Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009. Hal ini berarti bahwa masyarakat harus
aktif dalam kegiatan 3M plus dan harus lebih diintensifkan secara mandiri agar
dapat mengurangi keberadaan jentik, masyarakat juga harus merubah kebiasaan menggantung
pakaian dengan maksud untuk menekan penularan penyakit DBD.
Pengumpulan
data awal oleh peneliti, didapatkan bahwa di Puskesmas Ulee Kareng tahun 2009
dan 2010 tercatat 75 kasus DBD dan pada tahun 2011 bulan Januari-Juni tercatat
31 kasus DBD. Dan tingkat tertinggi penyakit DBD dalam wilayah kerja Puskesmas
Ulee Kareng adalah di Desa Lamglumpang sebanyak 23 kasus DBD.
Menurut petugas promosi kesehatan Puskesmas Ulee
kareng, promosi kesehatan biasanya dilakukan setiap bulan. Kegiatan yang sering
dilakukan adalah penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) tentang gizi keluarga,
kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, imunisasi dan sebagainya termasuk
promosi tentang pemberantasan penyakit menular, terutama pada penyakit yang
menjadi tren terkini seperti DBD.
Berdasarkan
hasil wawancara dengan petugas pelaksana promosi kesehatan di Puskesmas Ulee
Kareng telah melakukan kegiatan promosi
kesehatan tentang DBD di desa-desa seperti penyuluhan DBD, pemberantasan sarang
nyamuk, pencegahan DBD dan pembagian abate. Namun pada saat pelaksanaan
penyuluhan kesehatan terutama penyuluhan tentang DBD yang sering hadir ibu-ibu
dari pada kepala keluarga, hal ini terlihat pada saat kegiatan tersebut peserta
yang hadir hanya berkisar kira-kira + 20 orang.
Data yang diperoleh dari beberapa orang tokoh
masyarakat yang penulis
wawancara bahwa ketika
akan dilaksanakan kegiatan penyuluhan tidak ada pemberitahuan dari pihak kepala
desa atau pengumunan yang disampaikan dari balai desa/meunasah. Masyarakat juga menyatakan bahwa mereka
tidak memahami apa kegunaan serta fungsi dari mengikuti penyuluhan kesehatan
tentang Demam Berdarah Dengue yang dilaksanakan oleh pihak puskesmas. Serta masyarakat mengharapkan adanya pemberitahuan
sebelum diadakannya penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas
kesehatan.
Dari
data-data diatas terdapat kesenjangan sehingga peneliti merasa tertarik untuk
melakukan penelitian yang terkait dengan promosi kesehatan. Penelitian ini
berjudul “Persepsi Masyarakat Tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan Demam
Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh
Tahun 2011”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
fenomena tersebut diatas maka peneliti dapat merumuskan permasalahan penelitian
sebagai berikut : “Bagaimanakah Pelaksanaan Promosi Kesehatan Demam Berdarah
Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh Tahun 2011”
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Mengetahui pelaksanaan
promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee
Kareng Banda Aceh tahun 2011.
2.
Tujuan
Khusus
a. Mengetahui
pelaksanaan promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue di tinjau dari segi
advokasi Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng.
b. Mengetahui
pelaksanaan promosi kesehatan Demam
Berdarah Dengue di tinjau dari segi dukungan sosial Di Desa Lamglumpang Kecamatan
Ulee Kareng.
c. Mengetahui
pelaksanaan promosi kesehatan Demam
Berdarah Dengue di tinjau dari segi pemberdayaan masyarakat Di Desa Lamglumpang
Kecamatan Ulee Kareng.
D.
Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Peneliti,
Dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan
serta sebagai pengalaman didalam melakukan penelitian keperawatan, khususnya dibidang keperawatan komunitas
2. Institusi
Pendidikan khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala, dapat menjadi
referensi, sebagai tambahan bahan
bacaan, serta tinjauan keilmuan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian,
khususnya dibidang keperawatan komunitas
yang berkaitan dengan promosi kesehatan.
3. Petugas
Dinas kesehatan, sebagai
bahan masukan bagi pengambilan kebijakan di bidang kesehatan sehingga dapat
diambil langkah-langkah dalam upaya peningkatan promosi kesehatan khususnya
tentang upaya pencegahan demam berdarah dengue pada masyarakat.
4. Bagi Puskesmas Ulee Kareng Kecamatan Ulee Kareng Banda
Aceh, sebagai bahan masukan untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan khususnya
promosi kesehatan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada masyarakat.
5. Bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan pengetahuan
dalam penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
6. Peneliti
lain, dapat dijadikan sebagai dasar referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Promosi
kesehatan
1.
Promosi
kesehatan
Promosi
kesehatan adalah upaya memberdayakan individu, kelompok, dan masyarakat agar
memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan
pengetahuan, kemauan dan kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung,
dilakukan dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai dengan foktor budaya setempat
(Sudiharto, 2007, p.76).
Sedangkan
menurut (Notoadmodjo, 2007, p.23), Promosi kesehatan
adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang
sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal
dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi
lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Hal ini
berarti bahwa promosi kesehatan adalah program kesehatan yang dirancang untuk
membawa perubahan (perbaikan), baik dalam masyarakat sendiri, maupun dalam
organisasi dan lingkungannya. Maka promosi kesehatan bukan sekedar menyampaikan
pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan agar masyarakat mengetahui dan
berperilaku hidup sehat, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatannya.
2.
Strategi
promosi kesehatan
Untuk
dapat mewujudkan promosi kesehatan, diperlukan suatu strategi yang baik.
Strategi adalah cara yang digunakan dalam mencapai apa yang diinginkan dalam
promosi kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lain seperti
pemberantasan penyakit menular, sanaitasi lingkungan, status gizi masyarakat,
pelayanan kesehatan dan lain sebagainya. Adapun strategi yang digunakan dalam
mewujudkan promosi kesehatan di antaranya adalah dengan strategi global.
Strategi
Global menurut WHO 1984 dalam (Mubarak, 2009,
p.247) adalah sebagai berikut:
a.
Advokasi (advocacy)
Kegiatan
memberikan bantuan kepada masyarakat dengan membuat keputusan (decision makers) dan penentu kebijakan (policy makers) dalam bidang kesehatan maupun
sektor lain di luar kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat.
Dengan demikian, para pembuat keputusan akan mengadakan atau mengeluarkan
kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi yang
diharapkan menguntungkan bagi kesehatan masyarakat umum.
Strategi
ini akan berhasil jika sasarannya tepat dan sasaran advokasi ini adalah para
pejabat ekskutif dan legislatif, para pejabat pemerintah, swasta, pengusaha,
partai politik dan organisasi masyarakat atau LSM di tingkat pusat sampai
daerah. Bentuk dari advokasi berupa lobbying
melalui pendekatan atau pembicaraan–pembicaraan formal atau informal terhadap
para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah kesehatan yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat setempat dan seminar-seminar kesehatan.
b.
Dukungan sosial (social support)
Promosi
kesehatan akan mudah dilakukan jika mendapat dukungan dari berbagai elemen yang
ada di masyarakat. Dukungan masyarakat antara lain berasal dari unsur informal
(tokoh agama dan tokoh adat yang mempunyai pengaruh di masyarakat), unsur
formal (petugas kesehatan, pejabat pemerintah dan sebagainya).
Dengan
adanya dukungan dari dua unsur tersebut, diharapkan promosi kesehatan dapat
dijembatani baik dari pihak pengelola program kesehatan dan masyarakat.
Sehingga jika dua unsur tersebut sudah mempunyai perilaku sehat maka akan mudah
ditiru oleh anggota masyarakat yang lain.
c.
Pemberdayaan masyarakat
(empowerment community)
Pemberdayaan masyarakat
dibutuhkan dalam kaitannya supaya masyarakat memperoleh kemampuan dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatan. Upaya ini dapat dilakukan melalui penyuluhan
kesehatan, pengorganisasian pembangunan masyarakat (PPM) dalam bentuk pelatihan
keterampilan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat (keluarga). Oleh
karena itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat lebih dari pada kegiatan
pemberdayaan masyarakat untuk kesehatan seperti dana sehat, pengobatan gratis,
kerja bakti, dan lain sebagainya. Kegiatan ini sering disebut gerakan
masyarakat untuk kesehatan.
Menurut
(Mubarak, 2009, p:357), ada lima rumusan
strategi promosi kesehatan berdasarkan piagam ottawa yaitu:
a. Kemampuan/keterampilan
individu
Diharapkan tiap-tiap
individu yang berada di dalam masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan
yang baik dalam memelihara kesehatannya,
mengenal penyebab penyakit, mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya dan
mampu mencari pengobatan yang layak bilamana mereka atau anak-anak mereka
sakit. Oleh sebab itu, meningkatkan keterampilan setiap anggota masyarakat agar
mampu memelihara dan mampu meningkatkan kesehatan mereka sendiri (personal
sklil) adalah hal yang sangat penting.
b. Gerakan masyarakat
Perwujudan derajat
kesehatan masyarakat akan menjadi lebih efektif
Jika unsur-unsur yang
ada di masyarakat melakukan kegiatan bersama-sama. Kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan bersama merupakan upaya peningkatan kesehatan mereka sendiri
sebagai wujud dari gerakan masyarakat.
c. Reorientasi
pelayanan kesehatan
Titik berat pelayanan
kesehatan saat ini masih bertumpu pada pemerintah dan swasta, kurang melibatkan
masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan. Melibatkan masyarakat dalam
pelayanan kesehatan berarti memberdayakan masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Karena kesehatan masyarakat bukan hanya
masalah pihak provider dalam hal ini pemerintah dan pihak swasta, melainkan
juga menjadi tanggung jawab masyarakat (konsumen). Oleh sebab itu,
penyelenggaraan pelayanan kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara
pihak pemberi pelayanan (provider) dan pihak penerima pelayanan (konsumen).
d. Kebijakan
berwawasan kesehatan
Kebijakan yang
dimaksudkan di sini adalah semua kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus
menpertimbangkan dampak kesehatan bagi masyarakat, oleh karenanya kebijakan ini
akan berhasil jika dituangkan dalam bentuk aturan atau undang-undang. Jika ini dapat dilaksanakan oleh semua orang
yang berwawasan kesehatan (development health public) akan dapat
diwujudkan.
e. Lingkungan
yang mendukung
Hendaknya setiap
aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat harus memperhatikan dampak pada
lingkungan sekitar. Oleh karenanya, supportive
environment (lingkungan yang mendukung) akan mempermudah upaya promosi
kesehatan. Lingkungan yang dimaksud di sini bukan saja lingkungan fisik, tetapi
juga lingkungan non-fisik yang kondusif terhadap kesehatan masyarakat.
3.
Health
Belief Model
Model
kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model sosio-psikologis.
Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem-problem kesehatan
ditandai oleh kegagalan-kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima
usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh
provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku
pencegahan penyakit (preventive health
behaviour), yang oleh Becker (1974) dikembangkan dari teori lapangan (Fieldtheory,Lewin, 1954) menjadi model
kepercayaan kesehatan (health belief
model) (Notoatmodjo, 2007, p.213).
Sedangkan
menurut (Bensley, 2008, p.7), Health belief model merupakan salah satu model pertama yang
dirancang untuk mendorong penduduk melakukan tindakan ke arah kesehatan yang
positif. Model ini menekankan “peranan persepsi kerentanan terhadap suatu
penyakit dan keefektifan potensial dalam pengobatan”. Artinya, pendidik
kesehatan harus mempertimbangkan persepsi individu bahwa mereka rentan terhadap
penyakit yang mengancam kesehatan mereka dan tindakan dari individu tersebut
yang dapat mencegah ancaman dan memusnahkan penyakit yang mungkin menyerang.
Health belief model
(HBM) didasarkan pada kepercayaan bahwa perilaku kesehatan ditentukan oleh
apakah individu (1) memandang diri mereka rentan terhadap suatu masalah
kesehatan, (2) memandang masalah itu sebagai masalah serius, (3) yakin mereka
mendapat manfaat dari pengobatan atau
upaya pencegahan, dan (4) mengenali kebutuhan untuk mengambil tindakan dan
kendala apapun yang dapat mengganggu tindakan ini. Health belief model ini sebagai suatu pendekatan pendidikan
kesehatan yang didasarkan pada kepercayaan atau persepsi yang dimiliki
seseorang berkaitan dengan kerentanannya terhadap penyakit.
Kebutuhan
yang dirasakan untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang
mempengaruhi persepsi seseorang dan akibatnya, secara tidak langsung mempengaruhi
perilaku kesehatannya. Faktor pemodifikasi
tersebut mencakup tingkat pendidikan yang dimiliki, perbedaan
kebudayaan, usia, pengalaman pribadi, jenis kelamin, dan status ekonomi, dan
dapat memengaruhi persepsi kerentanan, keparahan risiko, manfaat, dan kendala.
Anderson
(1974) dalam (Notoatmodjo, 2007, p.214), menggambarkan model
sistem kesehatan yang berupa model kepercayaan kesehatan. Di dalam model
Anderson ini terdapat 3 kategori utama dalam pelayanan kesehatan, yakni:
karakteristik predisposisi, karakteristik pendukung, dan karakteristik
kebutuhan.
Health Belief Model
|
Pendorong (cues) untuk bertindak (kampanye media massa, peringatan dari
dokter/dokter gigi, tulisan dalam surat kabar, majalah)
|
|
Manfaat yang dilihat dari
pengambilan tindakan dikurangi biaya (rintangan) yang dilihat dari
pengambilan tindakan
|
|
Kecenderungan yang dilihat (preceived) mengenai
gejala/penyakit. Syaratnya yang dilihat mengenai gejala dan penyakit
|
|
Ancaman yang dilihat mengenai
gejala dan penyakit
|
|
Variabel
demografi (umur, jenis kelamin, bangsa kelompok etnis).
Variabel
sosial psikologis (peer dan reference groups, kepribadian,
pengalaman sebelumnya)
Variabel
struktur (kelas sosial, akses ke pelayanan kesehatan, dan sebagainya)
|
|
Kemungkinan mengambil tindakan
tepat untuk perilaku sehat/sakit.
|
Gambar 2.2 skema health belief model,
sumber : Notoatmodjo (2007, p.215)
a. Karakteristik
predisposisi (predisposing
characteristics)
Karakteristik ini digunakan untuk
menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai kecenderungan untuk
menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena
adanya ciri-ciri individu, yang digolongkan kedalam 3 kelompok yaitu:
1)
Ciri-ciri demografi,
seperti jenis kelamin dan umur
2)
Struktur sosial,
seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras, dan sebagainya
3)
Manfaat-manfaat
kesehatan, seperti kayakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses
penyembuhan penyakit. Selanjutnya Anderson percaya bahwa:
a)
Setiap individu atau
orang mempunyai perbedaan karakteristik, mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi
penyakit, dan mempunyai perbedaan pola penggunaan kesehatan.
b)
Setiap individu
mempunyai perbedaan struktur sosial, mempunyai perbedaan gaya hidup, dan
akhirnya mempunyai perbedaan pola penggunaan pelayanan kesehatan.
c)
Individu percaya adanya
kemanjuran dalam penggunaan pelayanan kesehatan.
b. Karakteristik
pendukung (Enabling characteristics)
Karakteristik ini mencerminkan bahwa
meskipun mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatatn, ia tak
akan bertindak untuk menggunakannya, kecuali bila ia mampu menggunakannya.
Penggunaan pelayanan kesehatan yang ada tergantung kepada kemampuan konsumen
untuk membayar.
c. Karakteristik
kebutuhan (Need characteristics)
Faktor predisposisi dan faktor yang
memungkinkan untuk mencari pengobatan dapat terwujud di dalam tindakan apabila
itu dirasakan sebagai kebutuhan. Dengan kata lain kebutuhan merupakan dasar dan
stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan, bilamana tingkat
predisposisi dan enabling itu ada.
Kebutuhan (need) di sini dibagi
menjadi 2 kategori, dirasa atau preceived
(subject assesment) dan evaluated (clinical diagnosis).
B.
Demam
Berdarah Dengue
1.
Pengertian
Demam
Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit infeksi akut dan menular yang
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (Lumenta, 2004, p.14). Sedangkan menurut( Satari,
2004, p.2), Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi yang dapat
berakibat fatal. Dalam waktu yang relatif singkat, penyakit ini dapat merenggut
nyawa penderitanya jika tidak ditangani secepatnya.
2.
Penyebab
Demam
Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae (Suhendro, 2007, p.1709). Sedangkan menurut (Depkes RI, 2005, p.6), penyebab Demam
Berdarah Dengue adalah virus Dengue yang sampai sekarang di kenal 4 serotipe
(Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, Dengue-4), termasuk dalam grup B Arthopod Borne
virus (Arbovirus). Ke empat virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di
indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat
berkaitan dengan kasus Demam Berdarah Dengue berat dan merupakan serotipe yang
paling luas distribusinya di susul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4. Dan
menurut (Satari, 2004, p.3),
ke empat serotipe ini menunjukkan gejala yang berbeda-beda saat menyerang
manusia. Serotipe yang menyebabkan infeksi paling berat di Indonesia yaitu
Dengue-3.
3.
Tanda
dan gejala
Tanda
dan gejala Demam Berdarah Dengue menurut (Mubarak, 2006, p.161), yaitu mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak
lemah dan lesu, sering terasa nyeri di ulu hati karena perdarahan di lambung,
dan tampak bintik merah pada kulit seperti bekas gigitan nyamuk yang disebabkan
karena pecahnya pembuluh kapiler di kulit. Untuk membedakan dengan bintik merah
bekas gigitan nyamuk, renggangkan kulit, bila bintik merah itu hilang itu bukan
tanda demam berdarah.
Bila
sudah parah penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan berkeringat.
Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung/mimisan, mungkin terjadi muntah atau
bercak bercampur darah. Dapat terlihat dari tampilan wajah yang cenderung
memerah dan tinja yang berwarna hitam atau mengandung darah. Syok ditandai
dengan denyut nadi yang menjadi cepat, lemah, penyempitan tekanan nadi ataupun
timbulnya hipotensi disertai rasa dingin, kulit terasa lembab dan pasien
menjadi gelisah.
4.
Penularan
Menurut
(Depkes RI, 2005, p.10), cara penularan Demam Berdarah Dengue yaitu
dengan cara bila penderita Demam Berdarah Dengue digigit nyamuk penular, maka
virus dalam darah ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya
virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk
termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 (satu) minggu setelah menghisap
darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus
ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk
sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, nyamuk Aedes Aegypti yang telah menghisap
virus Dengue akan menjadi penular sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi
karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit), sebelum menghisap darah akan
mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya, agar darah yang dihisap
tidak membeku. Bersama air liur inilah virus Dengue dipindahkan dari nyamuk ke
manusia.
5.
Pencegahan
Vaksin
untuk mencegah Demam Berdarah Dengue belum ditemukan karena itu satu-satunya
upaya pencegahan yaitu dengan memberantas nyamuk penularnya (Mubarak, 2006, p.162). Menurut (Depkes R,I 2004, p.13), cara pencegahan demam berdarah dengue yaitu dengan
cara: penyemprotan, dimana nyamuk Aedes
Aegypti dapat diberantas dengan menyemprotkan racun serangga, termasuk
racun serangga yang dipergunakan sehari-hari di rumah tangga. Melakukan
penyemprotan saja tidak cukup, karena dengan penyemprotan itu yang mati hanya
nyamuk dewasa saja. Selama nyentiknya tidak dibasmi, setiap hari akan muncul
nyamuk yang baru menetas dari tempat berkembangbiaknya. Karena itu cara yang
paling tepat adalah memberantas jentiknya yang dikenal dengan istilah
pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Pemberantasan sarang
nyamuk Demam Berdarah Dengue dilakukan dengan cara 3 M yaitu: menguras
tempat-tempat penampungan air, sekurang-kurangnya seminggu sekali. Menutup
rapat-rapat tempat penampungan air dan menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan
atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti
kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
Selain
itu, ditambah dengan cara lainnya yang dikenal dengan istilah 3 M plus seperti
ganti air vas bunga, tempat minum burung dan tempat-tempat lainnya seminggu
sekali. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak, tutup
lubang-lubang pada potongan bambu, pohon dan lain-lain misalnya dengan tanah.
Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang bisa menampung air separti pelepah
pisang atau tanaman lainnya termasuk tempat-tempat lain yang dapat menampung air hujan di
perkarangan, kebun, pemakaman, rumah kosong dan lain-lain. Lakukan larvasida
yaitu membubuhkan bubuk pembunuh jentik di tempat-tempat yang sulit dikuras atau
didaerah yang sulit air. Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk, pasang kawat kasa
dirumah, pencahayaan dan ventilasi yang memadai. Jangan biasakan menggantung
pakaian di dalam rumah, tidur menggunakan kelambu dan gunakan obat nyamuk (bakar
atau gosok) dan lain-lain untuk mencegah gigitan nyamuk.
6.
Pengendalian
penyakit DBD
Upaya
pengendalian DBD di masyarakat, difokuskan pada pencegahan penularan kasus DBD
diantaranya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pemeriksaan jentik
berkala, pengendalian vektor penular melalui pemasangan Lavitrap dan
penyelidikan Epidemiologi (PE). Upaya pengendalian DBD pada tingkat klinis
dilaksanakan pada tingkat puskesmas dan rumah sakit yang difokuskan pada
deteksi dini dan pencegahan kematian akibat Demam Berdarah dengan diagnosa Demam
Dengue. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan angka Bebas
jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD
dapat dicegah atau dikurangi. Kegiatan PSN dilakukan dengan cara 3M (menguras
atau menyikat tempat penampungan air, menutup tempat-tempat air, serta mengubur
barang bekas yang dapat menimbulkan pertumbuhan jentik nyamuk). Angka bebas
jentik selama tahun 2008-2009 belum berhasil mencapai target (>95%). Begitu
pula dengan persentase kejadian DBD yang di tangani sesuai standar, belum mencapai target (80%)
(Dinkes, 2009, p.56).
jika inging bab lengkap semua
hub admin 085277672185
Tidak ada komentar:
Posting Komentar