Selasa, 13 Januari 2015

Persepsi Masyarakat Tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cenderung semakin luas penyebarannya adalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini nyaris ditemukan hampir diseluruh belahan dunia terutama di Negara tropik dan sub tropik baik secara endemik dan epidemik dengan masa peralihan berkaitan dengan datangnya musim penghujan (Djunaedi, 2006 dalam Widia, 2009).
Banyak faktor yang menyebabkan semakin tingginya jumlah penderita DBD antara lain karena kepadatan vektor penular (Nyamuk Aedes Aegepty), mobilitas penduduk, belum optimalnya program pemberantasan sarang nyamuk baik dilihat dari sarana maupun prasarana, perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat belum optimal (Depkes, 2010). Selain itu kasus DBD biasanya meningkat selama musim penghujan (Endang, 2010).
Data Dunia dan Nasional pada Januari-Oktober 2010 mencatat 2.106 kasus. Jumlah ini dilaporkan jauh meningkat dibandingkan dengan kasus yang terjadi pada 2009 yang hanya 1.859 kasus, sementara untuk tahun 2008 jauh lebih tinggi hingga mencapai angka 2.436 kasus. Ada 4 kabupaten/kota di Aceh yang tergolong endemis DBD sejak 2008 hingga Januari-Oktober 2010, yaitu Lhoksemawe, Banda Aceh, Aceh Besar dan Aceh Tamiang (www.berita8.com).
Berdasarkan data Profil Dinas kesehatan Provinsi Aceh (2009), jumlah kasus DBD sebanyak 2.072 kasus. Sementara data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan  kota Banda Aceh tahun 2010, jumlah kasus yang terjadi sebanyak 750 kasus jauh lebih tinggi daripada angka kejadian pada tahun 2009 yang berjumlah 306 kasus.
Upaya-upaya untuk mengantisipasi dan menanggulangi berjangkitnya DBD di daerah-daerah telah dilakukan oleh dinas terkait, seperti penanganan kasus di Rumah Sakit, Puskesmas, dan fogging. Demikian juga bentuk-bentuk upaya pemberdayaan masyarakat khususnya dalam pencegahan dan penanggulangan DBD melalui gerakan 3M Plus, peningkatan derajat kesehatan, upaya perlindungan khusus terhadap penyakit, upaya penemuan kasus secara dini dan pengobatan segera, serta upaya untuk mencegah kefatalan dan kecacatan ini terus dikembangkan dan ditingkatkan (Zahtamal, 2010).
Namun pada kenyataannya penanganan DBD di tingkat masyarakat belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari belum banyaknya masyarakat yang memahami dan melakukan upaya penanganan yang tepat yakni melalui gerakan 3M Plus sehingga angka kasus DBD ini masih ada dan cukup tinggi.
Meskipun banyak upaya yang dilakukan, target pemerintah untuk menurunkan kejadian DBD menjadi 20 per 100.000 penduduk didaerah endemis masih tetap sulit dicapai, hal ini terlihat pada akhir 2008 saja jumlah kasus DBD masih tetap tinggi. Secara nasional angka kejadian saat ini 48 per 100.000 dengan angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2009 adalah 1,8%, tidak jauh berbeda dengan angka kejadian DBD tahun 2008 sebanyak 50 per 100.000 penduduk dengan angka kematian sebesar 1% (Kandun, 2009).
Adanya kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan oleh berbagai tenaga kesehatan diharapkan mampu memberdayakan peran serta masyarakat untuk dapat mencegah dan menurunkan angka Demam Berdarah Dengue. Promosi kesehatan atau penyuluhan kesehatan yang di berikan tentang pertolongan pertama pada penderita Demam Berdarah Dengue, dan selanjutnya dirujuk ke rumah sakit bila perlu, penaburan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air, pemberantasan sarang nyamuk dengan cara bergotong royong yang melibatkan masyarakat, serta penyebaran leaflet pada masyarakat.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widia (2009), bahwa hasil penelitian menunjukkan Ada hubungan antara keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer (p=0,001), kebiasaan menggantung pakaian (p=0,001), ketersediaan tutup pada kontainer (p=0,001), frekuensi pengurasan kontainer (p=0,027), pengetahuan responden tentang DBD (p=0,030) dengan kejadian DBD di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009. Hal ini berarti bahwa masyarakat harus aktif dalam kegiatan 3M plus dan harus lebih diintensifkan secara mandiri agar dapat mengurangi keberadaan jentik, masyarakat juga harus merubah kebiasaan menggantung pakaian dengan maksud untuk menekan penularan penyakit DBD.
Pengumpulan data awal oleh peneliti, didapatkan bahwa di Puskesmas Ulee Kareng tahun 2009 dan 2010 tercatat 75 kasus DBD dan pada tahun 2011 bulan Januari-Juni tercatat 31 kasus DBD. Dan tingkat tertinggi penyakit DBD dalam wilayah kerja Puskesmas Ulee Kareng adalah di Desa Lamglumpang sebanyak 23 kasus DBD.
Menurut petugas promosi kesehatan Puskesmas Ulee kareng, promosi kesehatan biasanya dilakukan setiap bulan. Kegiatan yang sering dilakukan adalah penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) tentang gizi keluarga, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, imunisasi dan sebagainya termasuk promosi tentang pemberantasan penyakit menular, terutama pada penyakit yang menjadi tren terkini seperti DBD. 
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pelaksana promosi kesehatan di Puskesmas Ulee Kareng telah melakukan kegiatan  promosi kesehatan tentang DBD di desa-desa seperti penyuluhan DBD, pemberantasan sarang nyamuk, pencegahan DBD dan pembagian abate. Namun pada saat pelaksanaan penyuluhan kesehatan terutama penyuluhan tentang DBD yang sering hadir ibu-ibu dari pada kepala keluarga, hal ini terlihat pada saat kegiatan tersebut peserta yang hadir hanya berkisar kira-kira + 20 orang.
 Data yang diperoleh dari beberapa orang tokoh masyarakat yang penulis wawancara bahwa ketika akan dilaksanakan kegiatan penyuluhan tidak ada pemberitahuan dari pihak kepala desa atau pengumunan yang disampaikan dari balai desa/meunasah. Masyarakat juga menyatakan bahwa mereka tidak memahami apa kegunaan serta fungsi dari mengikuti penyuluhan kesehatan tentang Demam Berdarah Dengue yang dilaksanakan oleh pihak puskesmas. Serta masyarakat mengharapkan adanya pemberitahuan sebelum diadakannya penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan. 
Dari data-data diatas terdapat kesenjangan sehingga peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang terkait dengan promosi kesehatan. Penelitian ini berjudul “Persepsi Masyarakat Tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh Tahun 2011”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka peneliti dapat merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : “Bagaimanakah Pelaksanaan Promosi Kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh Tahun 2011”

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh tahun 2011.

2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui pelaksanaan promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue di tinjau dari segi advokasi Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng.
b.      Mengetahui  pelaksanaan promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue di tinjau dari segi dukungan sosial Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng.
c.       Mengetahui  pelaksanaan promosi kesehatan Demam Berdarah Dengue di tinjau dari segi pemberdayaan masyarakat Di Desa Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Peneliti, Dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan  serta sebagai pengalaman didalam melakukan  penelitian keperawatan,  khususnya dibidang keperawatan komunitas
2.      Institusi Pendidikan khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, dapat menjadi  referensi,  sebagai tambahan bahan bacaan, serta tinjauan keilmuan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian, khususnya  dibidang keperawatan komunitas yang berkaitan dengan  promosi kesehatan.
3.      Petugas Dinas kesehatan, sebagai bahan masukan bagi pengambilan kebijakan di bidang kesehatan sehingga dapat diambil langkah-langkah dalam upaya peningkatan promosi kesehatan khususnya tentang upaya pencegahan demam berdarah dengue pada masyarakat.
4.      Bagi Puskesmas Ulee Kareng Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh, sebagai bahan masukan untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan khususnya promosi kesehatan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada masyarakat.
5.      Bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan pengetahuan dalam penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
6.      Peneliti lain, dapat dijadikan sebagai dasar referensi untuk  melakukan penelitian lebih lanjut.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Promosi kesehatan

1.      Promosi kesehatan

Promosi kesehatan adalah upaya memberdayakan individu, kelompok, dan masyarakat agar memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung, dilakukan dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai dengan foktor budaya setempat (Sudiharto, 2007, p.76).
Sedangkan menurut (Notoadmodjo, 2007, p.23), Promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Hal ini berarti bahwa promosi kesehatan adalah program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya. Maka promosi kesehatan bukan sekedar menyampaikan pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan agar masyarakat mengetahui dan berperilaku hidup sehat, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

2.      Strategi promosi kesehatan
Untuk dapat mewujudkan promosi kesehatan, diperlukan suatu strategi yang baik. Strategi adalah cara yang digunakan dalam mencapai apa yang diinginkan dalam promosi kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lain seperti pemberantasan penyakit menular, sanaitasi lingkungan, status gizi masyarakat, pelayanan kesehatan dan lain sebagainya. Adapun strategi yang digunakan dalam mewujudkan promosi kesehatan di antaranya adalah dengan strategi global.
Strategi Global menurut WHO 1984 dalam (Mubarak, 2009, p.247) adalah sebagai berikut:
a.         Advokasi (advocacy)
Kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat dengan membuat keputusan (decision makers) dan penentu kebijakan (policy makers) dalam bidang kesehatan maupun sektor lain di luar kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat. Dengan demikian, para pembuat keputusan akan mengadakan atau mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi yang diharapkan menguntungkan bagi kesehatan masyarakat umum. 
Strategi ini akan berhasil jika sasarannya tepat dan sasaran advokasi ini adalah para pejabat ekskutif dan legislatif, para pejabat pemerintah, swasta, pengusaha, partai politik dan organisasi masyarakat atau LSM di tingkat pusat sampai daerah. Bentuk dari advokasi berupa lobbying melalui pendekatan atau pembicaraan–pembicaraan formal atau informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah kesehatan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat dan seminar-seminar kesehatan.
b.        Dukungan sosial (social support)
Promosi kesehatan akan mudah dilakukan jika mendapat dukungan dari berbagai elemen yang ada di masyarakat. Dukungan masyarakat antara lain berasal dari unsur informal (tokoh agama dan tokoh adat yang mempunyai pengaruh di masyarakat), unsur formal (petugas kesehatan, pejabat pemerintah dan sebagainya).
Dengan adanya dukungan dari dua unsur tersebut, diharapkan promosi kesehatan dapat dijembatani baik dari pihak pengelola program kesehatan dan masyarakat. Sehingga jika dua unsur tersebut sudah mempunyai perilaku sehat maka akan mudah ditiru oleh anggota masyarakat yang lain.
c.         Pemberdayaan masyarakat (empowerment community)
Pemberdayaan masyarakat dibutuhkan dalam kaitannya supaya masyarakat memperoleh kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Upaya ini dapat dilakukan melalui penyuluhan kesehatan, pengorganisasian pembangunan masyarakat (PPM) dalam bentuk pelatihan keterampilan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat (keluarga). Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat lebih dari pada kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk kesehatan seperti dana sehat, pengobatan gratis, kerja bakti, dan lain sebagainya. Kegiatan ini sering disebut gerakan masyarakat untuk kesehatan.
Menurut (Mubarak, 2009, p:357), ada lima rumusan strategi promosi kesehatan berdasarkan piagam ottawa yaitu:
a.    Kemampuan/keterampilan individu
Diharapkan tiap-tiap individu yang berada di dalam masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik dalam memelihara  kesehatannya, mengenal penyebab penyakit, mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya dan mampu mencari pengobatan yang layak bilamana mereka atau anak-anak mereka sakit. Oleh sebab itu, meningkatkan keterampilan setiap anggota masyarakat agar mampu memelihara dan mampu meningkatkan kesehatan mereka sendiri (personal sklil) adalah hal yang sangat penting.
b.    Gerakan masyarakat
Perwujudan derajat kesehatan masyarakat akan menjadi lebih efektif
Jika unsur-unsur yang ada di masyarakat melakukan kegiatan bersama-sama. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan bersama merupakan upaya peningkatan kesehatan mereka sendiri sebagai wujud dari gerakan masyarakat.
c.    Reorientasi pelayanan kesehatan
Titik berat pelayanan kesehatan saat ini masih bertumpu pada pemerintah dan swasta, kurang melibatkan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan. Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan berarti memberdayakan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Karena kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak provider dalam hal ini pemerintah dan pihak swasta, melainkan juga menjadi tanggung jawab masyarakat (konsumen). Oleh sebab itu, penyelenggaraan pelayanan kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pihak pemberi pelayanan (provider) dan pihak penerima pelayanan (konsumen).
d.   Kebijakan berwawasan kesehatan
Kebijakan yang dimaksudkan di sini adalah semua kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus menpertimbangkan dampak kesehatan bagi masyarakat, oleh karenanya kebijakan ini akan berhasil jika dituangkan dalam bentuk aturan atau undang-undang.  Jika ini dapat dilaksanakan oleh semua orang yang  berwawasan kesehatan (development health public) akan dapat diwujudkan.
e.    Lingkungan yang mendukung
Hendaknya setiap aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat harus memperhatikan dampak pada lingkungan sekitar. Oleh karenanya, supportive environment (lingkungan yang mendukung) akan mempermudah upaya promosi kesehatan. Lingkungan yang dimaksud di sini bukan saja lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan non-fisik yang kondusif terhadap kesehatan masyarakat.

3.      Health Belief Model
Model kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model sosio-psikologis. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem-problem kesehatan ditandai oleh kegagalan-kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit (preventive health behaviour), yang oleh Becker (1974) dikembangkan dari teori lapangan (Fieldtheory,Lewin, 1954) menjadi model kepercayaan kesehatan (health belief model) (Notoatmodjo, 2007, p.213).
Sedangkan menurut (Bensley, 2008, p.7), Health belief model merupakan salah satu model pertama yang dirancang untuk mendorong penduduk melakukan tindakan ke arah kesehatan yang positif. Model ini menekankan “peranan persepsi kerentanan terhadap suatu penyakit dan keefektifan potensial dalam pengobatan”. Artinya, pendidik kesehatan harus mempertimbangkan persepsi individu bahwa mereka rentan terhadap penyakit yang mengancam kesehatan mereka dan tindakan dari individu tersebut yang dapat mencegah ancaman dan memusnahkan penyakit yang mungkin menyerang.
Health belief model (HBM) didasarkan pada kepercayaan bahwa perilaku kesehatan ditentukan oleh apakah individu (1) memandang diri mereka rentan terhadap suatu masalah kesehatan, (2) memandang masalah itu sebagai masalah serius, (3) yakin mereka mendapat  manfaat dari pengobatan atau upaya pencegahan, dan (4) mengenali kebutuhan untuk mengambil tindakan dan kendala apapun yang dapat mengganggu tindakan ini. Health belief model ini sebagai suatu pendekatan pendidikan kesehatan yang didasarkan pada kepercayaan atau persepsi yang dimiliki seseorang berkaitan dengan kerentanannya terhadap penyakit.
Kebutuhan yang dirasakan untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang mempengaruhi persepsi seseorang dan akibatnya, secara tidak langsung mempengaruhi perilaku kesehatannya. Faktor pemodifikasi  tersebut mencakup tingkat pendidikan yang dimiliki, perbedaan kebudayaan, usia, pengalaman pribadi, jenis kelamin, dan status ekonomi, dan dapat memengaruhi persepsi kerentanan, keparahan risiko, manfaat, dan kendala.
Anderson (1974) dalam (Notoatmodjo, 2007, p.214), menggambarkan model sistem kesehatan yang berupa model kepercayaan kesehatan. Di dalam model Anderson ini terdapat 3 kategori utama dalam pelayanan kesehatan, yakni: karakteristik predisposisi, karakteristik pendukung, dan karakteristik kebutuhan.
Health Belief Model
Pendorong (cues) untuk bertindak (kampanye media massa, peringatan dari dokter/dokter gigi, tulisan dalam surat kabar, majalah)
Manfaat yang dilihat dari pengambilan tindakan dikurangi biaya (rintangan) yang dilihat dari pengambilan tindakan
Kecenderungan yang dilihat (preceived) mengenai gejala/penyakit. Syaratnya yang dilihat mengenai gejala dan penyakit

Ancaman yang dilihat mengenai gejala dan penyakit
Variabel demografi (umur, jenis kelamin, bangsa kelompok etnis).
Variabel sosial psikologis (peer dan reference groups, kepribadian, pengalaman sebelumnya)
Variabel struktur (kelas sosial, akses ke pelayanan kesehatan, dan sebagainya)
Kemungkinan mengambil tindakan tepat untuk perilaku sehat/sakit.
 















Gambar 2.2 skema health belief model, sumber : Notoatmodjo (2007, p.215)
a.       Karakteristik predisposisi (predisposing characteristics)
Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu, yang digolongkan kedalam 3 kelompok yaitu:
1)      Ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur
2)      Struktur sosial, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras, dan sebagainya
3)      Manfaat-manfaat kesehatan, seperti kayakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit. Selanjutnya Anderson percaya bahwa:
a)      Setiap individu atau orang mempunyai perbedaan karakteristik, mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi penyakit, dan mempunyai perbedaan pola penggunaan kesehatan.
b)      Setiap individu mempunyai perbedaan struktur sosial, mempunyai perbedaan gaya hidup, dan akhirnya mempunyai perbedaan pola penggunaan pelayanan kesehatan.
c)      Individu percaya adanya kemanjuran dalam penggunaan pelayanan kesehatan.

b.      Karakteristik pendukung (Enabling characteristics)
Karakteristik ini mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatatn, ia tak akan bertindak untuk menggunakannya, kecuali bila ia mampu menggunakannya. Penggunaan pelayanan kesehatan yang ada tergantung kepada kemampuan konsumen untuk membayar.

c.       Karakteristik kebutuhan (Need characteristics)
Faktor predisposisi dan faktor yang memungkinkan untuk mencari pengobatan dapat terwujud di dalam tindakan apabila itu dirasakan sebagai kebutuhan. Dengan kata lain kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan, bilamana tingkat predisposisi dan enabling itu ada. Kebutuhan (need) di sini dibagi menjadi 2 kategori, dirasa atau preceived (subject assesment) dan evaluated (clinical diagnosis).

B.     Demam Berdarah Dengue
1.        Pengertian
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit infeksi akut dan menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (Lumenta, 2004, p.14). Sedangkan menurut( Satari, 2004, p.2), Demam Berdarah Dengue  merupakan penyakit infeksi yang dapat berakibat fatal. Dalam waktu yang relatif singkat, penyakit ini dapat merenggut nyawa penderitanya jika tidak ditangani secepatnya.

2.         Penyebab
Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae (Suhendro, 2007, p.1709). Sedangkan menurut (Depkes RI, 2005, p.6), penyebab Demam Berdarah Dengue adalah virus Dengue yang sampai sekarang di kenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, Dengue-4), termasuk dalam grup B Arthopod Borne virus (Arbovirus). Ke empat virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus Demam Berdarah Dengue berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya di susul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4. Dan menurut (Satari, 2004, p.3), ke empat serotipe ini menunjukkan gejala yang berbeda-beda saat menyerang manusia. Serotipe yang menyebabkan infeksi paling berat di Indonesia yaitu Dengue-3.

3.         Tanda dan gejala
Tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue menurut (Mubarak, 2006, p.161), yaitu mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah dan lesu, sering terasa nyeri di ulu hati karena perdarahan di lambung, dan tampak bintik merah pada kulit  seperti bekas gigitan nyamuk yang disebabkan karena pecahnya pembuluh kapiler di kulit. Untuk membedakan dengan bintik merah bekas gigitan nyamuk, renggangkan kulit, bila bintik merah itu hilang itu bukan tanda demam berdarah.
Bila sudah parah penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan berkeringat. Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung/mimisan, mungkin terjadi muntah atau bercak bercampur darah. Dapat terlihat dari tampilan wajah yang cenderung memerah dan tinja yang berwarna hitam atau mengandung darah. Syok ditandai dengan denyut nadi yang menjadi cepat, lemah, penyempitan tekanan nadi ataupun timbulnya hipotensi disertai rasa dingin, kulit terasa lembab dan pasien menjadi gelisah.

4.        Penularan
Menurut (Depkes RI, 2005, p.10),  cara penularan Demam Berdarah Dengue yaitu dengan cara bila penderita Demam Berdarah Dengue digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 (satu) minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk  sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, nyamuk Aedes Aegypti yang telah menghisap virus Dengue akan menjadi penular sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit), sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya, agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus Dengue dipindahkan dari nyamuk ke manusia.

5.        Pencegahan
Vaksin untuk mencegah Demam Berdarah Dengue belum ditemukan karena itu satu-satunya upaya pencegahan yaitu dengan memberantas nyamuk penularnya (Mubarak, 2006, p.162). Menurut (Depkes R,I 2004, p.13), cara pencegahan demam berdarah dengue yaitu dengan cara: penyemprotan, dimana nyamuk Aedes Aegypti dapat diberantas dengan menyemprotkan racun serangga, termasuk racun serangga yang dipergunakan sehari-hari di rumah tangga. Melakukan penyemprotan saja tidak cukup, karena dengan penyemprotan itu yang mati hanya nyamuk dewasa saja. Selama nyentiknya tidak dibasmi, setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat berkembangbiaknya. Karena itu cara yang paling tepat adalah memberantas jentiknya yang dikenal dengan istilah pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue dilakukan dengan cara 3 M yaitu: menguras tempat-tempat penampungan air, sekurang-kurangnya seminggu sekali. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik bekas dan lain-lain.
Selain itu, ditambah dengan cara lainnya yang dikenal dengan istilah 3 M plus seperti ganti air vas bunga, tempat minum burung dan tempat-tempat lainnya seminggu sekali. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak, tutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon dan lain-lain misalnya dengan tanah. Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang bisa menampung air separti pelepah pisang atau tanaman lainnya termasuk tempat-tempat  lain yang dapat menampung air hujan di perkarangan, kebun, pemakaman, rumah kosong dan lain-lain. Lakukan larvasida yaitu membubuhkan bubuk pembunuh jentik di tempat-tempat yang sulit dikuras atau didaerah yang sulit air. Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk, pasang kawat kasa dirumah, pencahayaan dan ventilasi yang memadai. Jangan biasakan menggantung pakaian di dalam rumah, tidur menggunakan kelambu dan gunakan obat nyamuk (bakar atau gosok) dan lain-lain untuk mencegah gigitan nyamuk.

6.        Pengendalian penyakit DBD

Upaya pengendalian DBD di masyarakat, difokuskan pada pencegahan penularan kasus DBD diantaranya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pemeriksaan jentik berkala, pengendalian vektor penular melalui pemasangan Lavitrap dan penyelidikan Epidemiologi (PE). Upaya pengendalian DBD pada tingkat klinis dilaksanakan pada tingkat puskesmas dan rumah sakit yang difokuskan pada deteksi dini dan pencegahan kematian akibat Demam Berdarah dengan diagnosa Demam Dengue. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan angka Bebas jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Kegiatan PSN dilakukan dengan cara 3M (menguras atau menyikat tempat penampungan air, menutup tempat-tempat air, serta mengubur barang bekas yang dapat menimbulkan pertumbuhan jentik nyamuk). Angka bebas jentik selama tahun 2008-2009 belum berhasil mencapai target (>95%). Begitu pula dengan persentase kejadian DBD yang di tangani  sesuai standar, belum mencapai target (80%) (Dinkes, 2009, p.56).

jika inging bab lengkap semua
hub admin 085277672185

Tidak ada komentar:

Posting Komentar