Selasa, 13 Januari 2015

Gambaran Perkembangan Sosial Remaja Di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masa remaja atau adolesensi merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa remaja yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan (Narendra, Sularyo, Soetjiningsih, Suyitno, Ranuh & Wiradisurya. 2002, p.138).
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua. Bagian dari kebebasan ini memerlukan perkembangan hubungan sosial di luar keluarga yang membantu remaja mengidentifikasi peran mereka di masyarakat. Pada masa remaja kemampuan bersosialisasi yang sangat kuat dan sering kali merupakan suatu masa kesepian yang sama-sama kuat, penerimaan teman sebaya, beberapa teman dekat dan jaminan rasa cinta dari keluarga yang mendukung merupakan syarat-syarat untuk proses kematangan interpersonal. Variabel dari perkembangan sosial antara lain perkembangan sosial dengan pengasuh, dengan teman sebaya dan dengan teman lawan jenis (heteroseksual) (Wong, Eaton, Wilson, Winkelstein & Schwartz. 2008, p.592).
Perkembangan  sosial pada masa puber dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu mulai  terbentuknya kelompok  teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda dan mulai memisahkan diri dari orang tua (Suprobo, 2008).
Pola perilaku sosial atau prilaku yang tidak sosial dibina pada masa kanak-kanak awal atau masa pembentukan, pengalaman sosial awal sangat menentukan kepribadian setelah anak menjadi remaja atau dewasa. Banyaknya pengalaman kebahagiaan mendorong anak untuk mencari pengalaman semacam itu lagi dan untuk menjadi orang yang mempunyai sifat sosial. Pengalaman yang tidak menyenangkan yang terlalu banyak juga dapat mendorong remaja menjadi tidak sosial dan anti sosial (Hurlock, 1978, p.256).
Panti asuhan merupakan salah satu tempat penampungan anak yatim/piatu, anak terlantar dan anak fakir miskin. Bagi kebanyakan anak, panti asuhan memberi lingkungan hidup yang aman dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara fisik dan mengembangkan potensi yang dipunyainya. Namun untuk anak yang lain, panti asuhan merupakan salah satu tempat yang dianggap sebagai riwayat perampasan kehidupannya (Behrman, Kliegman & Arvin, 1996, p.33). Pada umumnya anak-anak yang ada di panti asuhan merasa rendah diri karena mereka merasa berbeda dengan anak lainnya, mereka di asuh bukan oleh keluarganya sendiri. Dalam hubungan sosial mereka juga merasa agak sedikit minder karena statusnya sebagai anak panti. Dengan demikian hubungan sosial dengan masyarakat di sekitarnyapun agak sedikit terbatas, walaupun penerimaan masyarakat terhadap mereka itu baik.
Dalam menilai perkembangan sosial remaja, banyak hal yang mempengaruhinya antara lain keluarga, kematangan anak, status ekonomi sosial, pendidikan dan kapasitas mental, emosi serta inteligensi (Maimalu, 2010). Satu hal yang lainnya yang ikut mempengaruhi perkembangan sosial yaitu keyakinan. Di dalam ajaran agama islam memiliki aturan atau norma-norma dalam bergaul dengan teman lawan jenis. Sejak syariat Islam ditetapkan di Provinsi Aceh pada tanggal 14 Maret 2002, hal tersebut telah mempengaruhi interaksi sosial terhadap setiap kalangan dari masyarakat, termasuk remaja (Yusni, 2010).
Berkomunikasi atau berinteraksi dengan lawan jenis diperbolehkan dalam ajaran agama islam, asalkan dalam batasan yang wajar dan sesuai dengan aturan-aturan (Bioman, 2010). Aturan bergaul dengan teman lawan jenis dalam ajaran Islam antara lain dilarang untuk berkholwat (berdua-duaan), menjaga aurat terhadap lawan jenis, menundukkan pandangan, tidak boleh ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita) dan menjaga kemaluan (Zainab, 2010).
Menurut Meizara (2006), perilaku anak panti asuhan cenderung rendah diri dan memiliki kenakalan yang luar biasa. Banyak hal yang menjadikan mereka bersikap rendah diri, karena status mereka sebagai anak yang tidak mempunyai orang tua dan besar di lingkungan panti asuhan. Pemberian kasih sayang dari pengasuh tidak dapat disalurkan secara menyeluruh, banyaknya anak yang harus mendapatkan perhatian sehingga secara totalitas tidak tercapai. Secara fisik mungkin dirasakan, namun secara psikologis anak tidak mendapatkannya. Setiap anak menginginkan perhatian dan kasih sayang yang lebih, tetapi karena jumlah mereka yang banyak menjadikan para pengasuh panti tidak dapat memberikan perhatian secara utuh. Secara psikologis anak-anak akan merasakan kesendirian, tidak ada keluarga untuk berbagi dan ini cenderung tidak diperhatikan oleh pengurus panti asuhan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Susanti (2006, p.43), mengenai gambaran kebutuhan psikologis anak yatim usia remaja di panti asuhan Nirmala Lampineung Banda Aceh terhadap 33 responden secara garis besar didapat hasil 51,52% dengan kategori kurang. Keikut sertaan dan diterima dalam kelompok sosial pada anak remaja di panti asuhan Nirmala berada pada kategori baik, yaitu 66,67%. Hal ini disebabkan karena adanya solidaritas dan rasa kepedulian yang tinggi dari masyarakat setempat terhadap anak yatim yang tinggal di panti.
Penelitian yang dilakukan oleh Rosita (2008, p.79), tentang hubungan pola bimbingan perkembangan sosial oleh keluarga terhadap perilaku sosial pada remaja di SMA Negeri 5 Banda Aceh, pola bimbingan perkembangan sosial pada siswa-siswi di SMAN 5 Banda Aceh sebagian besar dalam kategori positif, sebanyak 57 orang (64%). Perilaku sosial siswa-siswi di SMAN 5 Banda Aceh sebagian besar berada pada kategori baik, sebanyak 58 orang (64%).
Berdasarkan data yang dimiliki oleh lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khususnya anak-anak (Unicef) pada tahun 2010, jumlah anak yatim/piatu di Indonesia mencapai 4,4 juta jiwa dan jumlah panti asuhan diperkirakan mencapai 7.000 panti (Hiru, 2010). Di Propinsi NAD terdapat 222 Panti Asuhan (Swasta dan Pemda) dengan jumlah anak yatim/piatu sekitar 124.003 orang. Ada 12 panti asuhan di Banda Aceh dengan jumlah anak yatim/piatu di sekitar 2.902 orang (Data Dinas Sosial Propinsi Aceh, 2010).
Berdasarkan hasil pengumpulan data awal pada bulan April 2011 di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh terdapat 80 orang anak yang tinggal di panti (50 orang laki-laki dan 30 orang perempuan). Jumlah pengasuh di panti sebanyak 6 orang, termasuk juru masak. Semua anak-anak di panti  mendapatkan pendidikan formal yang berada diluar panti, diantaranya 5 orang sedang mengikuti sekolah dasar (SD), 60 orang SMP dan 15 orang SMA. Jumlah anak remaja di Panti Asuhan tersebut ada 75 orang.
Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Perkembangan Sosial Remaja Di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011”.


B.     Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran perkembangan sosial remaja di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011?.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja di Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan pengasuh di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
b.      Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan teman sebaya di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
c.       Untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja dengan teman lawan jenis (heteroseksual) di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan, pengetahuan serta pengalaman dalam melakukan penelitian keperawatan, khususnya yang berkaitan dengan gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
2.      Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan, pengetahuan dan menambah wawasan khususnya tentang gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
3.      Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan tinjauan keilmuan khususnya dibidang keperawatan serta dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
4.      Bagi Panti Asuhan
Untuk menambah wawasan dan sebagai bahan masukan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan khususnya pada perkembangan sosial remaja yang tinggal di panti asuhan.
5.      Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai dasar referensi untuk penelitian selanjutnya, mengenai gambaran perkembangan sosial anak remaja di panti asuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar