BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja atau adolesensi merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam
kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak
ke masa remaja yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental,
emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan
(Narendra, Sularyo, Soetjiningsih, Suyitno, Ranuh & Wiradisurya. 2002,
p.138).
Untuk memperoleh kematangan penuh,
remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan
sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua. Bagian dari kebebasan
ini memerlukan perkembangan hubungan sosial di luar keluarga yang membantu
remaja mengidentifikasi peran mereka di masyarakat. Pada masa remaja kemampuan
bersosialisasi yang sangat kuat dan sering kali merupakan suatu masa kesepian
yang sama-sama kuat, penerimaan teman sebaya, beberapa teman dekat dan jaminan
rasa cinta dari keluarga yang mendukung merupakan syarat-syarat untuk proses
kematangan interpersonal. Variabel dari perkembangan sosial antara lain
perkembangan sosial dengan pengasuh, dengan teman sebaya dan dengan teman lawan
jenis (heteroseksual) (Wong, Eaton, Wilson, Winkelstein & Schwartz. 2008,
p.592).
Perkembangan sosial pada masa puber dapat dilihat dari dua ciri khas
yaitu mulai terbentuknya kelompok teman sebaya baik dengan jenis
kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda dan mulai memisahkan
diri dari orang tua (Suprobo,
2008).
Pola perilaku sosial atau prilaku yang
tidak sosial dibina pada masa kanak-kanak awal atau masa pembentukan,
pengalaman sosial awal sangat menentukan kepribadian setelah anak menjadi
remaja atau dewasa. Banyaknya pengalaman kebahagiaan mendorong anak untuk
mencari pengalaman semacam itu lagi dan untuk menjadi orang yang mempunyai
sifat sosial. Pengalaman yang tidak menyenangkan yang terlalu banyak juga dapat
mendorong remaja menjadi tidak sosial dan anti sosial (Hurlock, 1978, p.256).
Panti asuhan merupakan salah satu tempat
penampungan anak yatim/piatu, anak terlantar dan anak fakir miskin. Bagi
kebanyakan anak, panti asuhan memberi lingkungan hidup yang aman dan kesempatan
untuk tumbuh dan berkembang secara fisik dan mengembangkan potensi yang
dipunyainya. Namun untuk anak yang lain, panti asuhan merupakan salah satu
tempat yang dianggap sebagai riwayat perampasan kehidupannya (Behrman, Kliegman
& Arvin, 1996, p.33). Pada umumnya anak-anak yang ada di panti asuhan
merasa rendah diri karena mereka merasa berbeda dengan anak lainnya, mereka di
asuh bukan oleh keluarganya sendiri. Dalam hubungan sosial mereka juga merasa
agak sedikit minder karena statusnya sebagai anak panti. Dengan demikian
hubungan sosial dengan masyarakat di sekitarnyapun agak sedikit terbatas,
walaupun penerimaan masyarakat terhadap mereka itu baik.
Dalam menilai perkembangan sosial
remaja, banyak hal yang mempengaruhinya antara lain keluarga, kematangan anak,
status ekonomi sosial, pendidikan dan kapasitas mental, emosi serta inteligensi
(Maimalu, 2010). Satu hal yang lainnya yang ikut mempengaruhi perkembangan
sosial yaitu keyakinan. Di dalam ajaran agama islam memiliki aturan atau
norma-norma dalam bergaul dengan teman lawan jenis. Sejak syariat Islam ditetapkan
di Provinsi Aceh pada tanggal 14 Maret 2002, hal tersebut telah mempengaruhi interaksi
sosial terhadap setiap kalangan dari masyarakat, termasuk remaja (Yusni, 2010).
Berkomunikasi atau berinteraksi dengan
lawan jenis diperbolehkan dalam ajaran agama islam, asalkan dalam batasan yang
wajar dan sesuai dengan aturan-aturan (Bioman, 2010). Aturan bergaul dengan
teman lawan jenis dalam ajaran Islam antara lain dilarang untuk berkholwat
(berdua-duaan), menjaga aurat terhadap lawan jenis, menundukkan pandangan,
tidak boleh ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita) dan menjaga kemaluan
(Zainab, 2010).
Menurut Meizara (2006), perilaku anak
panti asuhan cenderung rendah diri dan memiliki kenakalan yang luar biasa.
Banyak hal yang menjadikan mereka bersikap rendah diri, karena status mereka
sebagai anak yang tidak mempunyai orang tua dan besar di lingkungan panti
asuhan. Pemberian kasih sayang dari pengasuh tidak dapat disalurkan secara
menyeluruh, banyaknya anak yang harus mendapatkan perhatian sehingga secara
totalitas tidak tercapai. Secara fisik mungkin dirasakan, namun secara psikologis
anak tidak mendapatkannya. Setiap anak menginginkan perhatian dan kasih sayang
yang lebih, tetapi karena jumlah mereka yang banyak menjadikan para pengasuh
panti tidak dapat memberikan perhatian secara utuh. Secara psikologis anak-anak
akan merasakan kesendirian, tidak ada keluarga untuk berbagi dan ini cenderung
tidak diperhatikan oleh pengurus panti asuhan.
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh Susanti (2006, p.43), mengenai gambaran kebutuhan psikologis
anak yatim usia remaja di panti asuhan Nirmala Lampineung Banda Aceh terhadap
33 responden secara garis besar didapat hasil 51,52% dengan kategori kurang.
Keikut sertaan dan diterima dalam kelompok sosial pada anak remaja di panti
asuhan Nirmala berada pada kategori baik, yaitu 66,67%. Hal ini disebabkan
karena adanya solidaritas dan rasa kepedulian yang tinggi dari masyarakat
setempat terhadap anak yatim yang tinggal di panti.
Penelitian yang dilakukan oleh Rosita
(2008, p.79), tentang hubungan pola bimbingan perkembangan sosial oleh keluarga
terhadap perilaku sosial pada remaja di SMA Negeri 5 Banda Aceh, pola bimbingan
perkembangan sosial pada siswa-siswi di SMAN 5 Banda Aceh sebagian besar dalam
kategori positif, sebanyak 57 orang (64%). Perilaku sosial siswa-siswi di SMAN
5 Banda Aceh sebagian besar berada pada kategori baik, sebanyak 58 orang (64%).
Berdasarkan data yang dimiliki oleh lembaga
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khususnya anak-anak (Unicef) pada tahun 2010,
jumlah anak yatim/piatu di Indonesia mencapai 4,4 juta jiwa dan jumlah panti
asuhan diperkirakan mencapai 7.000 panti (Hiru, 2010). Di Propinsi NAD terdapat
222 Panti Asuhan (Swasta dan Pemda) dengan jumlah anak yatim/piatu sekitar
124.003 orang. Ada 12 panti asuhan di Banda Aceh dengan jumlah anak yatim/piatu
di sekitar 2.902 orang (Data Dinas Sosial Propinsi Aceh, 2010).
Berdasarkan hasil pengumpulan data awal
pada bulan April 2011 di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda
Aceh terdapat 80 orang anak yang tinggal di panti (50 orang laki-laki dan 30
orang perempuan). Jumlah pengasuh di panti sebanyak 6 orang, termasuk juru
masak. Semua anak-anak di panti
mendapatkan pendidikan formal yang berada diluar panti, diantaranya 5
orang sedang mengikuti sekolah dasar (SD), 60 orang SMP dan 15 orang SMA.
Jumlah anak remaja di Panti Asuhan tersebut ada 75 orang.
Berdasarkan fenomena tersebut di atas,
maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Perkembangan Sosial Remaja Di
Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng
Kota Banda Aceh Tahun 2011”.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran perkembangan sosial remaja di
Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng
Kota Banda Aceh Tahun 2011?.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan sosial remaja di
Panti Asuhan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (BTRG) Kecamatan Ulee Kareng
Kota Banda Aceh Tahun 2011.
2.
Tujuan khusus
a.
Untuk mengetahui gambaran
perkembangan sosial remaja dengan pengasuh di Panti Asuhan BTRG Kecamatan Ulee
Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
b.
Untuk mengetahui
gambaran perkembangan sosial remaja dengan teman sebaya di Panti Asuhan BTRG Kecamatan
Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
c.
Untuk mengetahui gambaran
perkembangan sosial remaja dengan teman lawan jenis (heteroseksual) di Panti
Asuhan BTRG Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2011.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan,
pengetahuan serta pengalaman dalam melakukan penelitian keperawatan, khususnya
yang berkaitan dengan gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
2.
Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan,
pengetahuan dan menambah wawasan khususnya tentang gambaran perkembangan sosial
remaja di panti asuhan.
3.
Institusi Pendidikan
Keperawatan
Sebagai bahan tinjauan
keilmuan khususnya dibidang keperawatan serta dapat meningkatkan pengetahuan
peserta didik tentang gambaran perkembangan sosial remaja di panti asuhan.
4.
Bagi Panti Asuhan
Untuk menambah wawasan dan
sebagai bahan masukan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan khususnya
pada perkembangan sosial remaja yang tinggal di panti asuhan.
5.
Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai
dasar referensi untuk penelitian selanjutnya, mengenai gambaran perkembangan
sosial anak remaja di panti asuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar