Selasa, 13 Januari 2015

Skripsi Tentang Penyakit Tuberkulosis


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. WHO (world health organization) memperkirakan sepertiga populasi dunia telah terinfeksi kuman TB. Setiap tahun didapatkan delapan sampai sepuluh juta kasus baru, 80% mengenai usia produktif. Penyakit ini membunuh 8000 orang setiap hari, atau dua sampai tiga juta orang setiap tahun (Wirawan, 2008). Apabila hal ini tidak ditanggulangi, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Melihat kondisi tersebut, World Health Organization (WHO) menyatakan TB sebagai kedaruratan global sejak tahun 1993 (WHO, 2006).
Penelitian WHO yang terbaru pada tahun 2006, masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India, dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun (Depkes RI, 2007).
Tuberkulosis juga menduduki peringkat 3 daftar 10 penyebab kematian di Indonesia, yang menyebabkan 146,000 kematian setiap tahun (10% mortalitas total) (Burhan, 2006).
            WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995 (DepKes, 2007). Istilah DOTS dapat diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas minum obat (PMO) selama 6 bulan (Sembiring, 2001). Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi dan berkontribusi untuk meningkatkan harapan hidup dan memperpanjang umur penderita (BBKPM, 2008). Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost-effective (DepKes, 2002).
            Fakta menunjukkan bahwa TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, antara lain, Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia, Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk (Depkes, 2007)
            Secara Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk, wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk, wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya. Sampai tahun 2005, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30% (Depkes 2007).
            Alasan utama faktor munculnya atau meningkatnya beban Tuberkolosis global ini antara lain disebabkan oleh : kemiskinan  pada berbagi penduduk, tidak hanya pada negara yang sedang berkembang tetapi juga pada penduduk perkotaan tertentu di negara - negara  maju, adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan dari stuktur usia yang hidup, perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada penduduk di kelompok yang rentan terutama di negeri – negeri, tidak memadainya pendidikan mengenai Tuberkolosis diantara para dokter, terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik, dan pengawasan kasus Tuberkolosis dimana terjadi deteksidan tatalaksana kasus yang adekuat, adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan di Asia (PAPDI, 2009).
            Menurut Notoatmodjo (2007), program penatalaksanaan kasus TBC meliputi beberapa kegiatan pokok yaitu, komponen diagnosis dan komponen pengobatan.
            Menurut Widoyono (2008),  program penatalaksanaan TBC secara nasional mengacu pada strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO, yang terdiri dari bebrapa komponen utama diantaranya, pengobatan dengan panduan OAT (obat anti tuberkolosis ) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawasan langsung oleh pengawas minum obat, pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memantau dan mengevaluasi program penanggulangan TBC.
            Menurut Ward et all (2008), pada penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru dikatakan prognosis baik apabila pasien tidak mengalami gangguan imun, nutrisi yang baik, pengurangan konsumsi Alkohol, dan patuh dalam minum obat.
            Menurut Lumenta dkk (2006), resistensi ganda TB terjadi karena terputusnya terapi pengobatan, kenyataan dilapangan mungkin saja pasien tidak menebus dan meminum semua obat yang sudah dirsepkan oleh dokter sampai pada batas waktu Yang sudah ditetapkan. Ketidakpatuhan pasien dalam aturan pengobatan TB baik meminum jumlah dan macam obat,  meminumnya secara tidak teratur  dan tidak tuntasnya pengobatan dari yang dianjurkan merupakan pemicu terjadinya kegagalan pengobatan, dan kebosanan dan ketidakpraktisan pengobatan TB untuk pasien yang memicu ketidak patuhan merupakan salah satu kendala utama dari pemberantasan TB ini.
Menurut Rizka (2010), makrofag tidak teraktivasi merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan kuman, sehingga perlu dihancurkan untuk menghambat proliferasi kuman lebih lanjut. Perkembangan infeksi berhubungan dengan kemampuan makrofag sekitar lesi mengendalikan proliferasi dan penyebaran kuman TB. Pada hampir semua pejamu normal, lesi primer dalam paru akan membaik karena pengaruh pertahanan seluler atau CMI(cell-mediated immunity). Pada sebagian pejamu kemampuan meningkatkan respons imun lemah sehingga tidak mampu mengendalikan TB. Pejamu tersebut secara klinis akan menderita TB beberapa minggu sampai bulan sesudah infeksi primer. Termasuk dalam kelompok ini adalah bayi (sistem imun imatur), usia lanjut (kompetensi imun menurun dengan bertambahnya usia), dan immunocompromised (khususnya orang dengan human immunodeficiency virus / HIV atau acquired immunodeficiency síndrome / AIDS).
Menurut muktisendjaja (2007) saat ini sudah disadari bahwa penurunan status gizi pada pasien dengan penyakit infeksi umumnya disebabkan anoreksia dan peningkatan kebutuhan metabolik sel oleh inflamasi, dampaknya bukan sekedar penurunan berat badan atau bertambah kurusnya penderita tetapi juga akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi seperti penurunan Sekretori Imunoigliobulin A (SIgA) yang memberikan kekebalan permukaan membran mukosa, gangguan sistem fagositosis, gangguan pembentukan kekebalan humoral tertentu, berkurangnya sebagian besar komplemen, dan berkurangnya thymus sel (T) sel yang sudah tentu akan mempengaruhi fungsinya Kesemuanya itu akan menjadi kendala dalam merawat dan mengobati penderita karena dapat memperburuk keadaan, memperpanjang masa perawatan, menghambat penyembuhan serta mempermudah kekambuhan atau reinfeksi di kemudian hari. Dari gambaran di atas sudah sewajarnya faktor penurunan status gizi ini mendapat perhatian dan penanganan yang intensif, lebih-lebih lagi pada saat ini dimana obat-obat anti tuberkulosis sudah demikian banyak dan ampuh, maka tunjangan nutrisi sebagai bagian dari mata rantai pengobatan dapat Lebih beperan dalam menentukan suksesnya pengobatan. Hal lain yang penting yaitu peningkatan status gizi akan memberikan dampak psikologis yang positif terhadap penderita sendiri maupun lingkungan, keluarga, masyarakat.
Konsumsi alkohol dan obat-obatan pada klien yang sedang menjalani terapi penanggulangan TB paru dapat menghambat proses penyembuhan dan memperlemah daya tahan tubuh sehingga penggulangan TB paru terhambat.  (dokum,2004).
Keberhasilan pengobatan TB paru sangat ditentukan oleh adanya keteraturan minum obat anti tuberkulosis (Sukana dkk, 2003). Hal ini dapat dicapai dengan adanya pengawas minum obat (PMO) yang memantau dan mengingatkan penderita TB paru untuk meminum obat secara teratur. PMO sangat penting untuk mendampingi penderita agar dicapai hasil yang optimal (DepKes, 2000). Kolaborasi petugas kesehatan dengan keluarga yang ditunjuk untuk mendampingi ketika penderita minum obat, juga faktor yang perlu dievaluasi untuk menentukan tingkat keberhasilannya (Purwanta, 2005).
Sementara jumlah tuberculosis (TBC) di Aceh dari tahun 2004 sampai Maret 2008 mencapai 1.057 orang, jumlah ini terbagi atas TBC paru BTA Positif 760 kasus, dan BTA negatif 282 kasus, ekstar paru sebanyak 15 kasus, ditemukan juga 12 kasus kambuh.(Waspada,2008)
Dari data Rumah Sakit Umum Zainoel abidin pada tahun 2003 jumlah kasus TB paru di Aceh yaitu 351 kasus, pada tahun 2004 jumlah kasus TB paru di Aceh yaitu 263 kasus, dan pada tahun 2005 yaitu 102 kasus (Abidin, 2006).
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik meneliti bagaimanakah Gambaran  Penatalaksanaan Kasus Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan  Lhong Aceh Besar Provinsi Aceh Tahun 2011.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik meneliti bagaimanakah Gambaran  Penatalaksanaan Kasus Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan  Lhong Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh Tahun 2011.

C.  Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Gambaran  Penatalaksanaan Kasus Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan  Lhong Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.    Untuk  mengetahui gambaran penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru ditinjau fungsi imun.
b.    Untuk  mengetahui gambaran penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru ditinjau dari nutrisi .
c.    Untuk  mengetahui gambaran penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru ditinjau dari konsumsi alkohol.
d.   Untuk  mengetahui gambaran penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru ditinjau dari kepatuhan minum obat.

D.      Manfaat Penelitian
1.     Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian serta dapat dijadikan sebagai bekal dalam melakukan penelitian dimasa yang akan datang.



2.     Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi bahan tinjauan keilmuan di bidang keperawatan komunitas sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya Tuberkolosis Paru.
3.    Bagi masyarakat
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi para masyarakat dalam memperbaiki perilakunya untuk mencapai hidup sehat terutama terhindar atau dapat menghindari dan mengetahui tentang TB sehingga akan meningkatkan derajat kesehatannya.
4.    Bagi institusi kesehatan
Sebagai masukan dan evaluasi dalam penatalaksanaan kasus TB paru baik di bidang promotif, preventif,  kuratif maupun rehabilitatif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar