BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan
salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
dunia. WHO (world health organization)
memperkirakan sepertiga populasi dunia telah terinfeksi kuman TB. Setiap tahun
didapatkan delapan sampai sepuluh juta kasus baru, 80% mengenai usia produktif.
Penyakit ini membunuh 8000 orang setiap hari, atau dua sampai tiga juta orang
setiap tahun (Wirawan, 2008). Apabila hal ini tidak ditanggulangi, dalam 20
tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Melihat kondisi tersebut, World
Health Organization (WHO) menyatakan TB sebagai kedaruratan global sejak
tahun 1993 (WHO, 2006).
Penelitian WHO yang terbaru pada tahun
2006, masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di
dunia setelah India, dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan
jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun (Depkes RI, 2007).
Tuberkulosis juga menduduki peringkat 3
daftar 10 penyebab kematian di Indonesia, yang menyebabkan 146,000 kematian
setiap tahun (10% mortalitas total) (Burhan, 2006).
WHO
telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment
Shortcourse) sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995
(DepKes, 2007). Istilah DOTS dapat diartikan sebagai pengawasan langsung
menelan obat jangka pendek oleh pengawas minum obat (PMO) selama 6 bulan
(Sembiring, 2001). Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka
kesembuhan yang tinggi dan berkontribusi untuk meningkatkan harapan hidup dan
memperpanjang umur penderita (BBKPM, 2008). Bank Dunia menyatakan strategi DOTS
merupakan strategi kesehatan yang paling cost-effective (DepKes, 2002).
Fakta
menunjukkan bahwa TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat
Indonesia, antara lain, Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak
ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di
Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia, Hasil Survey
Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA
positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk
(Depkes, 2007)
Secara
Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah,
yaitu: wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk, wilayah
Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk, wilayah
Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil
survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB BTA positif
secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya. Sampai tahun 2005, program Penanggulangan
TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan
BP4/RSP baru sekitar 30% (Depkes 2007).
Alasan
utama faktor munculnya atau meningkatnya beban Tuberkolosis global ini antara
lain disebabkan oleh : kemiskinan pada
berbagi penduduk, tidak hanya pada negara yang sedang berkembang tetapi juga
pada penduduk perkotaan tertentu di negara - negara maju, adanya perubahan demografik dengan
meningkatnya penduduk dunia dan perubahan dari stuktur usia yang hidup,
perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada penduduk di kelompok yang
rentan terutama di negeri – negeri, tidak memadainya pendidikan mengenai
Tuberkolosis diantara para dokter, terlantar dan kurangnya biaya untuk obat,
sarana diagnostik, dan pengawasan kasus Tuberkolosis dimana terjadi deteksidan
tatalaksana kasus yang adekuat, adanya epidemi HIV terutama di Afrika dan di
Asia (PAPDI, 2009).
Menurut
Notoatmodjo (2007), program penatalaksanaan kasus TBC meliputi beberapa
kegiatan pokok yaitu, komponen diagnosis dan komponen pengobatan.
Menurut
Widoyono (2008), program penatalaksanaan
TBC secara nasional mengacu pada strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO,
yang terdiri dari bebrapa komponen utama diantaranya, pengobatan dengan panduan
OAT (obat anti tuberkolosis ) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh
pengawasan langsung oleh pengawas minum obat, pencatatan dan pelaporan secara
baku untuk memantau dan mengevaluasi program penanggulangan TBC.
Menurut
Ward et all (2008), pada penatalaksanaan kasus tuberkolosis paru dikatakan
prognosis baik apabila pasien tidak mengalami gangguan imun, nutrisi yang baik,
pengurangan konsumsi Alkohol, dan patuh dalam minum obat.
Menurut
Lumenta dkk (2006), resistensi ganda TB terjadi karena terputusnya terapi
pengobatan, kenyataan dilapangan mungkin saja pasien tidak menebus dan meminum
semua obat yang sudah dirsepkan oleh dokter sampai pada batas waktu Yang sudah
ditetapkan. Ketidakpatuhan pasien dalam aturan pengobatan TB baik meminum
jumlah dan macam obat, meminumnya secara
tidak teratur dan tidak tuntasnya
pengobatan dari yang dianjurkan merupakan pemicu terjadinya kegagalan pengobatan,
dan kebosanan dan ketidakpraktisan pengobatan TB untuk pasien yang memicu
ketidak patuhan merupakan salah satu kendala utama dari pemberantasan TB ini.
Menurut Rizka (2010), makrofag
tidak teraktivasi merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan kuman, sehingga
perlu dihancurkan untuk menghambat proliferasi kuman lebih lanjut. Perkembangan
infeksi berhubungan dengan kemampuan makrofag sekitar lesi mengendalikan
proliferasi dan penyebaran kuman TB. Pada hampir semua pejamu normal, lesi
primer dalam paru akan membaik karena pengaruh pertahanan seluler atau
CMI(cell-mediated immunity). Pada sebagian pejamu kemampuan meningkatkan
respons imun lemah sehingga tidak mampu mengendalikan TB. Pejamu tersebut
secara klinis akan menderita TB beberapa minggu sampai bulan sesudah infeksi
primer. Termasuk dalam kelompok ini adalah bayi (sistem imun imatur), usia
lanjut (kompetensi imun menurun dengan bertambahnya usia), dan
immunocompromised (khususnya orang dengan human immunodeficiency virus / HIV
atau acquired immunodeficiency síndrome / AIDS).
Menurut muktisendjaja (2007) saat ini
sudah disadari bahwa penurunan status gizi pada pasien dengan penyakit infeksi
umumnya disebabkan anoreksia dan
peningkatan kebutuhan metabolik sel oleh inflamasi,
dampaknya bukan sekedar penurunan berat badan atau bertambah kurusnya penderita
tetapi juga akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang memberi perlindungan
terhadap penyakit infeksi seperti penurunan Sekretori
Imunoigliobulin A (SIgA) yang memberikan kekebalan permukaan membran mukosa, gangguan
sistem fagositosis, gangguan
pembentukan kekebalan humoral tertentu, berkurangnya sebagian besar komplemen,
dan berkurangnya thymus sel (T) sel
yang sudah tentu akan mempengaruhi fungsinya Kesemuanya itu akan menjadi
kendala dalam merawat dan mengobati penderita karena dapat memperburuk keadaan,
memperpanjang masa perawatan, menghambat penyembuhan serta mempermudah
kekambuhan atau reinfeksi di kemudian hari. Dari gambaran di atas sudah
sewajarnya faktor penurunan status gizi ini mendapat perhatian dan penanganan
yang intensif, lebih-lebih lagi pada saat ini dimana obat-obat anti
tuberkulosis sudah demikian banyak dan ampuh, maka tunjangan nutrisi sebagai
bagian dari mata rantai pengobatan dapat Lebih beperan dalam menentukan
suksesnya pengobatan. Hal lain yang penting yaitu peningkatan status gizi akan
memberikan dampak psikologis yang positif terhadap penderita sendiri maupun
lingkungan, keluarga, masyarakat.
Konsumsi alkohol dan obat-obatan pada
klien yang sedang menjalani terapi penanggulangan TB paru dapat menghambat
proses penyembuhan dan memperlemah daya tahan tubuh sehingga penggulangan TB
paru terhambat. (dokum,2004).
Keberhasilan pengobatan TB
paru sangat ditentukan oleh adanya keteraturan minum obat anti tuberkulosis
(Sukana dkk, 2003). Hal ini dapat dicapai dengan adanya pengawas minum obat
(PMO) yang memantau dan mengingatkan penderita TB paru untuk meminum obat
secara teratur. PMO sangat penting untuk mendampingi penderita agar dicapai
hasil yang optimal (DepKes, 2000). Kolaborasi petugas kesehatan dengan keluarga
yang ditunjuk untuk mendampingi ketika penderita minum obat, juga faktor yang
perlu dievaluasi untuk menentukan tingkat keberhasilannya (Purwanta, 2005).
Sementara
jumlah tuberculosis (TBC) di Aceh dari tahun 2004 sampai Maret 2008 mencapai
1.057 orang, jumlah ini terbagi atas TBC paru BTA Positif 760 kasus, dan BTA
negatif 282 kasus, ekstar paru sebanyak 15 kasus, ditemukan juga 12 kasus
kambuh.(Waspada,2008)
Dari data Rumah Sakit
Umum Zainoel abidin pada tahun 2003 jumlah kasus TB paru di Aceh yaitu 351
kasus, pada tahun 2004 jumlah kasus TB paru di Aceh yaitu 263 kasus, dan pada
tahun 2005 yaitu 102 kasus (Abidin, 2006).
Berdasarkan
latar belakang diatas, penulis merasa tertarik meneliti bagaimanakah
Gambaran Penatalaksanaan Kasus
Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan
Lhong Aceh Besar Provinsi Aceh Tahun 2011.
B.
Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, penulis merasa tertarik meneliti bagaimanakah
Gambaran Penatalaksanaan Kasus
Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan
Lhong Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh Tahun 2011.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk
mengetahui Gambaran Penatalaksanaan
Kasus Tuberkolosis Paru Di Desa Chundin Kecamatan Lhong Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh
Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan
kasus tuberkolosis paru
ditinjau fungsi imun.
b.
Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan
kasus tuberkolosis paru
ditinjau dari nutrisi .
c.
Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan
kasus tuberkolosis paru
ditinjau dari konsumsi alkohol.
d.
Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan
kasus tuberkolosis paru
ditinjau dari kepatuhan minum obat.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi Peneliti
Diharapkan
dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian
serta dapat dijadikan sebagai bekal dalam melakukan penelitian dimasa yang akan
datang.
2.
Bagi Institusi
Pendidikan
Diharapkan
dapat menjadi bahan tinjauan keilmuan di bidang keperawatan komunitas sehingga
dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya Tuberkolosis Paru.
3. Bagi
masyarakat
Diharapkan
dapat menjadi masukan bagi para masyarakat dalam memperbaiki perilakunya untuk
mencapai hidup sehat terutama
terhindar atau dapat menghindari dan mengetahui tentang TB
sehingga akan meningkatkan derajat kesehatannya.
4. Bagi
institusi kesehatan
Sebagai masukan
dan evaluasi dalam penatalaksanaan
kasus TB paru baik di bidang promotif,
preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar