Selasa, 13 Januari 2015

Download Skripsi Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung kecamatan Darussalam kabupaten Aceh Besar Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Penyakit menular merupakan sebab dari 37,2% kematian didunia sejak tahun 1992. Namun untuk kelompok usia 1-4 tahun, diare merupakan problema kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi. Diare sering dianggap penyakit yang biasa, padahal ditingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya, kejadian diare masih menunjukkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah penderita terbanyak dalam waktu yang singkat (Amiruddin dkk, 2009).
Penyakit diare hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian utama pada anak usia di bawah lima tahun (balita). Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang berjudul "Diarrhoea: why children are still dying and what can be done" menyebutkan, setiap tahun 1,5 juta anak balita meninggal dunia akibat diare. Penyakit itu menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada anak balita setelah penyakit ISPA (Tvonenews, 2011).
World Health Organization (WHO), memperkirakan setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare. Angka kejadian diare pada anak didunia mencapai 1 milyar kasus tiap tahunnya dan penyebab kematian sekitar 5 juta jiwa. Statistik di Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta kasus diare dan 16,5 juta diantaranya balita (Warman, 2005).
Menurut Astaqauliah (2010), kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau usia lanjut, di mana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara maju. 
Angka kesakitan diare adalah sekitar 200–400 kejadian diare, dapat ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawah lima tahun (± 40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare. Sebagian dari penderita (1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000–500.000 anak dibawah lima tahun meninggal setiap tahunnya (Astaqauliah, 2010).
Berdasarkan data Profil Dinas Kesehatan Provinsi Aceh tahun 2009, diare merupakan penyakit yang banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita. Jumlah pasien untuk semua golongan umur yang dilaporkan pada periode tahun 2009 mencapai 88.569. Sedikit menurun bila dibandingkan tahun 2008 yang jumlah kasusnya mencapai 88.913. Adapun proporsi kasus diare balita tidak jauh berbeda dibandingkan tahun yang lalu. Pada tahun 2009 proporsi kasus diare balita mencapai 44,5%, sedangkan pada tahun 2008 sebesar 44,3%. Berdasarkan jumlah kasus diare diatas, maka angka kesakitan diare pada semua kelompok umur adalah 18 per 1.000 penduduk. 
Menurut Savitri (2002), ada beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita yaitu faktor lingkungan, faktor penyapihan yang buruk, dan faktor individu. Menurut Nilton dkk (2008) faktor yang mempengaruhi terjadinya diare diantaranya yaitu penggunaan air bersih, pemakaian jamban, pengolahan sampah, sanitasi makanan, kebiasaan mencuci tangan, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Sedangkan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung dalam penentuan perilaku hidup bersih dan sehat (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2007, p:13) menyatakan bahwa orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status kesehatan kepada anak-anak mereka. Orang tua yang sehat dan gizinya baik akan mewariskan kesehatan yang baik pula kepada anaknya. Sebaliknya kesehatan orang tua, khususnya kesehatan ibu yang rendah dan kurang gizi, akan mewariskan kesehatan yang rendah pula pada anaknya. Rendahnya kesehatan orang tua, terutama ibu, bukan hanya karena sosial ekonominya rendah, tetapi sering juga disebabkan karena orang tua atau ibu tidak mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatannya atau tidak tahu makanan yang bergizi yang harus dimakan.
Hasil penelitian Adisasmito (2007), faktor resiko diare menurut faktor ibu yang bermakna adalah pengetahuan ibu terhadap diare, perilaku dan hygiene ibu. Sedangkan faktor resiko anak adalah status gizi, dan pemberian ASI Eksklusif, faktor lingkungan sarana air bersih yang tercemar jamban. Menurut Ngastiyah (2005, p:233), kurangnya pengetahuan orang tua terhadap penyakit diare merupakan salah salah satu faktor resiko yang ikut berperan dalam timbulnya diare, maka perlu diberikan penyuluhan kepada orang tua tentang kebersihan perorangan anak maupun lingkungan dan  pola pemberian makanan.
Hasil analisis Yunus (2003), menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian diare balita yaitu sarana air bersih, jamban, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian diare balita adalah kualitas air bersih, sampah, dan rumah. Dari ke empat variabel yang berhubungan tersebut yang paling dominan berisiko terhadap kejadian diare balita adalah perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare.
Peran ibu dalam melakukan pelaksanaan dan pencegahan terhadap diare diperlukan suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi mempunyai hubungan yang positif, yakni dengan peningkatan pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan cepat (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan pengumpulan data awal oleh peneliti, didapatkan bahwa pada tahun 2009 Aceh Besar tercatat sebagai kabupaten/kota yang memiliki angka kematian balita terbanyak ke-4 setelah Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Aceh singkil yaitu sebanyak 9 orang. Diare juga merupakan penyakit yang ke-2 paling banyak terjadi di Puskesmas setelah influenza. Di kabupaten/kota Aceh Besar merupakan kota yang memiliki jumlah kasus ke-3 terbanyak yaitu sebanyak 9.629 kasus, kasus diare yang terjadi pada balita sebanyak 9.628 kasus, yang ditangani sebanyak 2.590 kasus (26,90%) dari kasus yang ada yang terjadi pada tahun 2009. Berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan Darussalam tahun 2011 terdapat 282 kasus diare pada balita yang diakumulasikan dari bulan maret 2010 sampai maret 2011.
Berdasarkan data diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung kecamatan Darussalam kabupaten Aceh Besar Tahun 2011”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalahnya adalah “Bagaimana Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011?”.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011.

2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara penggunaan air bersih dalam upaya pencegahan diare pada balita.
b.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian jamban dalam upaya pencegahan diare pada balita.
c.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pengolahan sampah dalam upaya pencegahan diare pada balita.
d.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara mengolah makanan (sanitasi makanan) dalam upaya pencegahan diare pada balita.
e.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap kebiasaan mencuci tangan dalam upaya pencegahan diare pada balita.
f.       Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara memanfaatkan ketersediaan fasilitas kesehatan dalam upaya pencegahan diare pada balita.
g.      Untuk mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian botol susu dalam upaya pencegahan diare pada balita.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penelitian khususnya berkaitan dengan  faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
2.    Bagi Institusi pendidikan, khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, diharapkan agar dapat menjadi bahan tinjauan dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
3.    Bagi Profesi Keperawatan, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam upaya peningkatan kesehatan khususnya tentang upaya pencegahan diare pada balita.
4.    Bagi Masyarakat, sebagai sumber informasi tentang faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita.
5.    Bagi Peneliti selanjutnya, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan dapat melanjutkan penelitian pada aspek yang lainnya mengenai penyakit diare.
                                                                                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar