BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Penyakit menular merupakan sebab dari
37,2% kematian didunia sejak tahun 1992. Namun untuk kelompok usia 1-4 tahun,
diare merupakan problema kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi.
Diare sering dianggap penyakit yang biasa, padahal ditingkat global dan
nasional fakta menunjukkan sebaliknya, kejadian diare masih menunjukkan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah penderita terbanyak dalam waktu yang
singkat (Amiruddin dkk, 2009).
Penyakit diare hingga kini masih menjadi
salah satu penyebab kematian utama pada anak usia di bawah lima tahun (balita).
Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (World
Health Organization/WHO) yang berjudul "Diarrhoea: why children are still dying and what can be done"
menyebutkan, setiap tahun 1,5 juta anak balita meninggal dunia akibat diare.
Penyakit itu menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada anak balita setelah
penyakit ISPA (Tvonenews, 2011).
World
Health Organization (WHO), memperkirakan setiap 30 detik ada
satu anak yang meninggal dunia karena diare. Angka kejadian diare pada anak
didunia mencapai 1 milyar kasus tiap tahunnya dan penyebab kematian sekitar 5
juta jiwa. Statistik di Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta kasus
diare dan 16,5 juta diantaranya balita (Warman, 2005).
Menurut Astaqauliah (2010), kematian yang
terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau usia
lanjut, di mana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi
sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada negara-negara berkembang
termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara maju.
Angka kesakitan diare adalah sekitar
200–400 kejadian diare, dapat ditemukan penderita diare sekitar 60 juta
kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah
anak dibawah lima tahun (± 40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya
mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare. Sebagian dari penderita
(1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60%
diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000–500.000
anak dibawah lima tahun meninggal setiap tahunnya (Astaqauliah, 2010).
Berdasarkan data Profil Dinas Kesehatan Provinsi
Aceh tahun 2009, diare merupakan penyakit yang banyak menyerang golongan umur
anak-anak terutama balita. Jumlah pasien untuk semua golongan umur yang
dilaporkan pada periode tahun 2009 mencapai 88.569. Sedikit menurun bila
dibandingkan tahun 2008 yang jumlah kasusnya mencapai 88.913. Adapun proporsi
kasus diare balita tidak jauh berbeda dibandingkan tahun yang lalu. Pada tahun
2009 proporsi kasus diare balita mencapai 44,5%, sedangkan pada tahun 2008
sebesar 44,3%. Berdasarkan jumlah kasus diare diatas, maka angka kesakitan
diare pada semua kelompok umur adalah 18 per 1.000 penduduk.
Menurut Savitri (2002), ada beberapa
faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita yaitu faktor
lingkungan, faktor penyapihan yang buruk, dan faktor individu. Menurut Nilton
dkk (2008) faktor yang mempengaruhi terjadinya diare diantaranya yaitu
penggunaan air bersih, pemakaian jamban, pengolahan sampah, sanitasi makanan,
kebiasaan mencuci tangan, dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Sedangkan tingkat
pendidikan dan pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang sangat
mendukung dalam penentuan perilaku hidup bersih dan sehat (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2007, p:13)
menyatakan bahwa orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang sangat penting
dalam mewariskan status kesehatan kepada anak-anak mereka. Orang tua yang sehat
dan gizinya baik akan mewariskan kesehatan yang baik pula kepada anaknya.
Sebaliknya kesehatan orang tua, khususnya kesehatan ibu yang rendah dan kurang
gizi, akan mewariskan kesehatan yang rendah pula pada anaknya. Rendahnya
kesehatan orang tua, terutama ibu, bukan hanya karena sosial ekonominya rendah,
tetapi sering juga disebabkan karena orang tua atau ibu tidak mengetahui
bagaimana cara memelihara kesehatannya atau tidak tahu makanan yang bergizi
yang harus dimakan.
Hasil penelitian Adisasmito (2007), faktor resiko
diare menurut faktor ibu yang bermakna adalah pengetahuan ibu terhadap diare,
perilaku dan hygiene ibu. Sedangkan faktor resiko anak adalah status gizi, dan
pemberian ASI Eksklusif, faktor lingkungan sarana air bersih yang tercemar
jamban. Menurut Ngastiyah (2005, p:233), kurangnya pengetahuan orang tua
terhadap penyakit diare merupakan salah salah satu faktor resiko yang ikut berperan
dalam timbulnya diare, maka perlu diberikan penyuluhan kepada orang tua tentang
kebersihan perorangan anak maupun lingkungan dan pola pemberian makanan.
Hasil
analisis Yunus (2003), menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang
berhubungan secara signifikan dengan kejadian diare balita yaitu sarana air
bersih, jamban, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan perilaku ibu dalam
upaya pencegahan diare. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan
kejadian diare balita adalah kualitas air bersih, sampah, dan rumah. Dari ke
empat variabel yang berhubungan tersebut yang paling dominan berisiko terhadap kejadian
diare balita adalah perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare.
Peran ibu dalam melakukan pelaksanaan dan pencegahan
terhadap diare diperlukan suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah
satu faktor predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu
menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi mempunyai hubungan
yang positif, yakni dengan peningkatan pengetahuan maka terjadinya perubahan
perilaku akan cepat (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan
pengumpulan data awal oleh peneliti, didapatkan bahwa pada tahun 2009 Aceh
Besar tercatat sebagai kabupaten/kota yang memiliki angka kematian balita
terbanyak ke-4 setelah Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Aceh singkil yaitu
sebanyak 9 orang. Diare juga merupakan penyakit yang ke-2 paling banyak terjadi
di Puskesmas setelah influenza. Di kabupaten/kota Aceh Besar merupakan kota
yang memiliki jumlah kasus ke-3 terbanyak yaitu sebanyak 9.629 kasus, kasus diare
yang terjadi pada balita sebanyak 9.628 kasus, yang ditangani sebanyak 2.590
kasus (26,90%) dari kasus yang ada yang terjadi pada tahun 2009. Berdasarkan
data dari Puskesmas kecamatan Darussalam tahun 2011 terdapat 282 kasus diare
pada balita yang diakumulasikan dari bulan maret 2010 sampai maret 2011.
Berdasarkan data diatas maka peneliti
tertarik untuk mengetahui “Gambaran perilaku
ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa Barabung kecamatan
Darussalam kabupaten Aceh Besar Tahun 2011”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan
masalahnya adalah “Bagaimana Gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare
pada balita di Desa Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun
2011?”.
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Untuk
mengetahui gambaran perilaku ibu dalam upaya pencegahan diare pada balita di Desa
Barabung Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011.
2.
Tujuan
Khusus
a. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara penggunaan air bersih dalam upaya
pencegahan diare pada balita.
b. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian jamban dalam upaya pencegahan
diare pada balita.
c. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara pengolahan sampah dalam upaya pencegahan
diare pada balita.
d. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara mengolah makanan (sanitasi makanan) dalam
upaya pencegahan diare pada balita.
e. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap kebiasaan mencuci tangan dalam upaya
pencegahan diare pada balita.
f. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara memanfaatkan ketersediaan fasilitas
kesehatan dalam upaya pencegahan diare pada balita.
g. Untuk
mengetahui perilaku ibu terhadap cara pemakaian botol susu dalam upaya
pencegahan diare pada balita.
D. Manfaat
Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagi
Peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang
penelitian khususnya berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya
pencegahan diare pada balita.
2. Bagi Institusi pendidikan, khususnya Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, diharapkan agar dapat menjadi bahan tinjauan
dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam upaya
pencegahan diare pada balita.
3.
Bagi
Profesi
Keperawatan, diharapkan
dapat digunakan sebagai bahan
masukan dalam upaya peningkatan kesehatan khususnya tentang upaya
pencegahan diare pada balita.
4.
Bagi
Masyarakat, sebagai sumber informasi tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku ibu dalam
upaya pencegahan diare pada balita.
5.
Bagi Peneliti selanjutnya, diharapkan
dapat digunakan sebagai bahan masukan dan dapat melanjutkan penelitian pada
aspek yang lainnya mengenai penyakit diare.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar