BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang mengubah gaya hidup dan sosial
ekonomi masyarakat di negara maju maupun negara berkembang telah menyebabkan
transisisi epidemiologi sehingga mengakibatkan munculnya berbagai penyakit
tidak menular. Di Indonesia, interaksi pembangunan dalam bidang sosial budaya,
ekonomi dan geografis menimbulkan Triple
garden disease (segitiga beban penyakit) dimana ketika masalah penyakit
menular belum tuntas dikendalikan, kejadian penyakit tidak menular sudah mulai naik
diikuti dengan bermunculannya penyakit-penyakit baru ( Depkes, 2007:p1 ).
Fadillah
dalam pembukaan simposium nasional IV hasil Riskesdas 2007 mengatakan bahwa
peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 1995-2001 dan
periode tahun 2001-2007 hampir sama, dengan demikian pemerintah khususnya
departemen kesehatan dan dinas kesehatan menghadapi beban
ganda, yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung
menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat
(Depkes, 2007:p1)
Hipertensi
merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor
resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan antara
berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi. Laporan yang dibuat oleh Sugiri tahun 2003
dalam Irza (2009) di Jawa Tengah ditemukan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan
11,6 untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% untuk pria dan 17,4%
wanita, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6%
pria dan 13,7% wanita (Yundini tahun 2006 dalam Irza 2009:p13).
Hipertensi
merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis,
yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia.
Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan
tekanan darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg.
Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi
hipertensi secara nasional mencapai 31,7%. Hal
itu disampaikan Menkes dr. Endang R. Sedyaningsih, Dr. PH, ketika membuka The
4th Scientific Meeting on Hypertension pada tanggal 13 Februari 2010 di Jakarta. Menurut Menkes, hipertensi merupakan penyakit
yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai
peringatan dini. Kebanyakan orang merasa sehat dan energik walaupun
hipertensi.
Menurut hasil
Riskesdas Tahun 2007, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum
terdeteksi. Keadaan ini tentunya sangat berbahaya, yang dapat menyebabkan
kematian mendadak pada masyarakat. Menkes
menambahkan, hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan gaya hidup sehat
dan mengendalikan faktor risiko. Caranya, pertahankan berat badan dalam kondisi
normal. Atur pola makan, dengan mengkonsumsi makan rendah garam dan
rendah lemak serta perbanyak konsumsi sayur dan buah. Lakukan olahraga dengan
teratur. Atasi stres dan emosi, hentikan kebiasaan merokok, hindari minuman
beralkohol, dan periksa tekanan darah secara berkala (Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal
Kementerian Kesehatan, 2010:p1)
Hipertensi dibedakan atas
yang tidak dapat dikontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada
70-80% kasus hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam
keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka
dugaan hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada
penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita
hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam
terjadinya hipertensi,
Faktor hipertensi yang dapat
dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga, merokok, serta
konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap
timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan hipertensi, diduga
melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada
saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat
kita tidak beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan
tekanan darah secara intermitten (tidak menentu) sehingga apabila stres berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan
darah menetap tinggi (Depkes, 2008:p1)
Andra dalam Manansang (2009: p1) mengemukakan bahwa penyakit hipertensi
menyerang seluruh dunia, berdasarkan data WHO tahun 2000 penyakit hipertensi
telah menjangkiti 26,4% populasi dunia
dengan perbandingan 26,6% pada pria dan 26,1 pada wanita. Dari 26,4% populasi
dunia itu negara berkembang menyumbang 2/3 populasi yang terjangkit penyakit hipertensi
sedangkan negara maju hanya menyumbangkan setengahnya saja.
Hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga tahun 1995 menunjukkan prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan
darah tinggi di Indonesia cukup tinggi, yaitu 83 per 1.000 anggota rumah tangga.
Pada umumnya perempuan lebih banyak menderita penyakit hipertensi dibandingkan dengan pria (Sianturi, 2003:p1).
Di
Indonesia penyakit hipertensi menduduki peringkat ke tiga penyebab kematian
utama untuk semua umur yaitu sebesar 6,8 %. Penyakit hipertensi merupakan
penyakit sirkulasi darah yang merupakan kasus terbanyak pada rawat jalan maupun
rawat inap di rumah sakit. Hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS,
Sistem Informasi Rumah sakit) menunjukkan kasus baru penyakit sistem sirkulasi
darah terbanyak pada kunjungan rawat jalan maupun jumlah pasien keluar rawat
inap dengan diagnosa penyakit hipertensi tertinggi pada tahun 2007. Hasil
Rikesdas 2007 prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di
Indonesia sebesar 31,7%. Penyakit pembuluh darah lainnya yang menjadi pembunuh
lebih dari 50% didunia adalah hipertensi, salah satu faktor risiko utama untuk
penyakit jantung koroner, kejadian stroke, gagal ginjal kronik dan gagal
jantung kongestif (Profil P2PL tahun 2007, 2008:p88).
Beevers tahun
2002 dalam Manansang (2009:p2)
mengemukakan bahwa upaya
pencegahan dan penanggulangan penyakit hipertensi yang dilakukan melalui
pengaturan makan sangat penting seperti dengan mengurangi konsumsi lemak,
mengurangi garam, mengurangi kalori bagi pasien yang obesitas, dan juga makan
makanan yang tinggi serat. Diet rendah garam dapat membantu menurunkan tekanan
darah karena bila seseorang mengkonsumsi garam yang berlebihan selama
bertahun-tahun dapat meningkatkan tekanan darah yang diakibatkan oleh adanya
kadar natrium dalam sel-sel otot halus pada dinding arteri. Kadar natrium yang
tinggi memudahkan masuknya kalsium dalam
sel dan hal ini menyebabkan kontraksi pembuluh darah menyempit sehingga
tekanan darah meningkat dan timbul penyakit hipertensi.
Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, menunjukkan
bahwa hampir seperempat (24,5%) penduduk Indonesia mulai dari usia di
atas 10 tahun telah mengkonsumsi makanan asin setiap hari, satu kali atau
lebih. Sementara prevalensi penyakit
hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke
atas. Dari jumlah itu, 60% pasien penyakit hipertensi berakhir dengan stroke,
sedangkan sisa pada jantung, gagal ginjal, kebutaan di Indonesia (Haditama,
2009:p1).
Di provinsi
Aceh tahun 2008 dari 10 besar penyakit terbanyak maka morbiditas pasien rawat
inap rumah sakit pemerintah hipertensi berada pada urutan ke lima yaitu 905
orang. Serta urutan ke empat,
yaitu 3.474 orang
untuk morbiditas pasien rawat jalan di RSUD yang diamati (Profil:
Kesehatan Provinsi Aceh, 2009: p33). Di
RSUD Kota Sabang pada tahun 2008 hipertensi tidak termasuk kedalam 10 besar
penyakit utama di unit rawat jalan namun di tahun 2009 penyakit hipertensi
berada diperingkat 8 penyakit utama dengan jumlah pasien baru sebanyak 145 orang.
Pada unit rawat inap di tahun 2008 penyakit hipertensi berada di peringkat 4
dengan jumlah pasien baru sebanyak 103, namun ditahun 2009 penyakit hipertensi
dirawat inap mencapai peringkat 3 dengan jumlah pasien baru mencapai 110 orang
(Profil RSUD Kota Sabang, 2008/2009:p9/p10). Dari data tersebut menunjukan adanya peningkatan jumlah kunjungan
pasien hipertensi baru yang cukup bermakna.
Berdasarkan uraian, latar
belakang serta fenomena di atas
dapat diketahui bahwa faktor
pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pengaruh yang besar terhadap terjadinya hipertensi, hal ini mendorong
peneliti untuk melakukan penelitian yang dituangkan dengan Judul “Gambaran Faktor Pemicu Hipertensi Yang Dapat
Dikontrol Pada Pasien
Hipertensi Di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011”.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan
paparan dan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan permasalahan dalam
penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi
di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011?
C.
Tujuan Penelitian
1.
Tujuan
umum
Mengetahui gambaran faktor
pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi di
poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
2.
Tujuan
khusus
a.
Mengetahui gambaran faktor kegemukan pada pasien hipertensi di poliklinik
penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
b.
Mengetahui gambaran faktor aktivitas
olah
raga pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit
dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
c.
Mengetahui gambaran faktor kebiasaan
merokok pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit
dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011
d.
Mengetahui
gambaran faktor kebiasaan konsumsi alkohol pada
pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
e.
Mengetahui gambaran faktor konsumsi garam berlebih pada pasien
hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
f.
Mengetahui katagori hipertensi yang dialami oleh pasien
hipertensi di poliklinik penyakit
dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman
dalam melakukan penelitian
2.
Perawat di RSUD Kota Sabang, dapat menjadi
masukan dalam mengatasi dan membantu pasien hipertensi untuk mengatasi
faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol dengan cara yang tepat.
3.
PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Syiah
Kuala Banda Aceh, sebagai bahan tinjauan keilmuan dibidang keperawatan medikal
bedah
4.
RSUD Kota Sabang, terutama bagian pelayanan dan
keperawatan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
5.
Peneliti selanjutnya, sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan
dengan faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar