Selasa, 13 Januari 2015

Download Skripsi Tentang Pemicu Hipertensi


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang mengubah gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat di negara maju maupun negara berkembang telah menyebabkan transisisi epidemiologi sehingga mengakibatkan munculnya berbagai penyakit tidak menular. Di Indonesia, interaksi pembangunan dalam bidang sosial budaya, ekonomi dan geografis menimbulkan Triple garden disease (segitiga beban penyakit) dimana ketika masalah penyakit menular belum tuntas dikendalikan, kejadian penyakit tidak menular sudah mulai naik diikuti dengan bermunculannya penyakit-penyakit baru ( Depkes, 2007:p1 ).
Fadillah dalam pembukaan simposium nasional IV hasil Riskesdas 2007 mengatakan bahwa peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 1995-2001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama, dengan demikian pemerintah khususnya departemen kesehatan dan dinas kesehatan menghadapi beban ganda, yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat (Depkes, 2007:p1)
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah menghubungkan antara berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi.  Laporan yang dibuat oleh Sugiri tahun 2003 dalam Irza (2009) di Jawa Tengah ditemukan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6 untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% untuk pria dan 17,4% wanita, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita (Yundini tahun 2006 dalam Irza 2009:p13).
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni  mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7%. Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang R. Sedyaningsih, Dr. PH, ketika membuka The 4th Scientific Meeting on Hypertension pada tanggal 13 Februari 2010 di Jakarta. Menurut Menkes, hipertensi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini. Kebanyakan orang merasa sehat dan energik walaupun  hipertensi.
Menurut hasil Riskesdas Tahun 2007, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi. Keadaan ini tentunya sangat berbahaya, yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat. Menkes menambahkan, hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah dengan gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko. Caranya, pertahankan berat badan dalam kondisi normal. Atur pola  makan, dengan  mengkonsumsi makan rendah garam dan rendah lemak serta perbanyak konsumsi sayur dan buah. Lakukan olahraga dengan teratur. Atasi stres dan emosi, hentikan kebiasaan merokok, hindari minuman beralkohol, dan periksa tekanan darah secara berkala (Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan, 2010:p1)
Hipertensi dibedakan atas yang tidak dapat dikontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada 70-80% kasus hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya hipertensi,
Faktor hipertensi yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu) sehingga apabila stres berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi (Depkes, 2008:p1)
Andra dalam Manansang (2009: p1) mengemukakan bahwa penyakit hipertensi menyerang seluruh dunia, berdasarkan data WHO tahun 2000 penyakit hipertensi telah menjangkiti  26,4% populasi dunia dengan perbandingan 26,6% pada pria dan 26,1 pada wanita. Dari 26,4% populasi dunia itu negara berkembang menyumbang 2/3 populasi yang terjangkit penyakit hipertensi sedangkan negara maju hanya menyumbangkan setengahnya saja.
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 menunjukkan prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi, yaitu 83 per 1.000 anggota rumah tangga. Pada umumnya perempuan lebih banyak menderita penyakit hipertensi dibandingkan dengan pria (Sianturi, 2003:p1).
Di Indonesia penyakit hipertensi menduduki peringkat ke tiga penyebab kematian utama untuk semua umur yaitu sebesar 6,8 %. Penyakit hipertensi merupakan penyakit sirkulasi darah yang merupakan kasus terbanyak pada rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit. Hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah sakit) menunjukkan kasus baru penyakit sistem sirkulasi darah terbanyak pada kunjungan rawat jalan maupun jumlah pasien keluar rawat inap dengan diagnosa penyakit hipertensi tertinggi pada tahun 2007. Hasil Rikesdas 2007 prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia sebesar 31,7%. Penyakit pembuluh darah lainnya yang menjadi pembunuh lebih dari 50% didunia adalah hipertensi, salah satu faktor risiko utama untuk penyakit jantung koroner, kejadian stroke, gagal ginjal kronik dan gagal jantung kongestif (Profil P2PL tahun 2007, 2008:p88).
Beevers tahun 2002 dalam Manansang (2009:p2) mengemukakan bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit hipertensi yang dilakukan melalui pengaturan makan sangat penting seperti dengan mengurangi konsumsi lemak, mengurangi garam, mengurangi kalori bagi pasien yang obesitas, dan juga makan makanan yang tinggi serat. Diet rendah garam dapat membantu menurunkan tekanan darah karena bila seseorang mengkonsumsi garam yang berlebihan selama bertahun-tahun dapat meningkatkan tekanan darah yang diakibatkan oleh adanya kadar natrium dalam sel-sel otot halus pada dinding arteri. Kadar natrium yang tinggi memudahkan masuknya kalsium dalam sel dan hal ini menyebabkan kontraksi pembuluh darah menyempit sehingga tekanan darah meningkat dan timbul penyakit hipertensi.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, menunjukkan bahwa hampir seperempat (24,5%) penduduk Indonesia mulai dari usia di atas 10 tahun telah mengkonsumsi makanan asin setiap hari, satu kali atau lebih. Sementara prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Dari jumlah itu, 60% pasien penyakit hipertensi berakhir dengan stroke, sedangkan sisa pada jantung, gagal ginjal, kebutaan di Indonesia (Haditama, 2009:p1).
Di provinsi Aceh tahun 2008 dari 10 besar penyakit terbanyak maka morbiditas pasien rawat inap rumah sakit pemerintah hipertensi berada pada urutan ke lima yaitu 905 orang. Serta urutan ke empat, yaitu 3.474  orang  untuk morbiditas pasien rawat jalan di RSUD yang diamati (Profil: Kesehatan Provinsi Aceh, 2009: p33). Di RSUD Kota Sabang pada tahun 2008 hipertensi tidak termasuk kedalam 10 besar penyakit utama di unit rawat jalan namun di tahun 2009 penyakit hipertensi berada diperingkat 8 penyakit utama dengan jumlah pasien baru sebanyak 145 orang. Pada unit rawat inap di tahun 2008 penyakit hipertensi berada di peringkat 4 dengan jumlah pasien baru sebanyak 103, namun ditahun 2009 penyakit hipertensi dirawat inap mencapai peringkat 3 dengan jumlah pasien baru mencapai 110 orang (Profil RSUD Kota Sabang, 2008/2009:p9/p10). Dari data tersebut menunjukan adanya peningkatan jumlah kunjungan pasien hipertensi baru yang cukup bermakna.
 Berdasarkan uraian, latar belakang serta fenomena di atas dapat diketahui bahwa faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pengaruh yang besar terhadap terjadinya hipertensi, hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian yang dituangkan dengan Judul “Gambaran Faktor Pemicu Hipertensi Yang Dapat Dikontrol Pada Pasien Hipertensi Di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011”.
B.       Rumusan masalah
Berdasarkan paparan dan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011?
C.      Tujuan Penelitian
1.         Tujuan umum
Mengetahui gambaran faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
2.         Tujuan khusus
a.        Mengetahui gambaran faktor kegemukan pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
b.        Mengetahui gambaran faktor aktivitas olah raga pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
c.        Mengetahui gambaran faktor kebiasaan merokok pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011
d.       Mengetahui gambaran faktor kebiasaan konsumsi alkohol pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
e.        Mengetahui gambaran faktor konsumsi garam berlebih pada pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
f.         Mengetahui katagori hipertensi yang dialami oleh pasien hipertensi di poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Sabang Tahun 2011.
D.      Manfaat Penelitian
1.          Peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian
2.          Perawat di RSUD Kota Sabang, dapat menjadi masukan dalam mengatasi dan membantu pasien hipertensi untuk mengatasi faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol dengan cara yang tepat.
3.          PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, sebagai bahan tinjauan keilmuan dibidang keperawatan medikal bedah
4.          RSUD Kota Sabang, terutama bagian pelayanan dan keperawatan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
5.          Peneliti selanjutnya, sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan faktor pemicu hipertensi yang dapat dikontrol pada pasien hipertensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar