BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sekitar
5% anak di Amerika Serikat mengalami hospitalisasi/ dirawat di rumah Sakit setiap
tahunnya. Hampir secara universal rumah sakit dapat menyebabkan stress bagi
anak yang dirawat, karena ada berbagai faktor yang berkaitan seperti, stres
perpisahan, perubahan rutinitas, kondisi yang yang tidak familiar dengan orang
dan lingkungan sekitar, ketakutan serta rasa nyeri yang berkaitan dengan
keadaan sakit dan pengobatan. Penting untuk meminimalkan dampak hospitalisasi
dengan memanfaatkan perawatan berbasis rumah
serta untuk membatasi pengunaan prosedur invasif yang merupakan tujuan
utama dari perawatan pediatrik (Rudolph,
Hoffman & Rudolph, 2006, p.128).
Sementara
menurut Wong dkk (2009, p.756), anak- anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi lebih bereaksi
terhadap perpisahan dengan aktivitas teman sebayanya dari pada ketidakhadiran
orang tua. Anak usia sekolah memiliki aktivitas fisik dan mental yang tinggi
yang tidak didapatkan atau tidak sesuai
dengan lingkungan rumah sakit, walaupun mereka tidak menyukai sekolah, namun
mereka mengakui akan kehilangan rutinitas dan merasa khawatir karena tidak
mampu untuk berkompetisi atau menyesuaikan diri dengan teman- teman sekelasnya.
Pada
anak usia sekolah reaksi hospitalisasi yang ditunjukkan yaitu sudah sedikit
menerima perpisahan dengan orang tua dan sudah dapat membentuk rasa percaya
dengan orang lain yang berarti ataupun teman sebaya, akan tetapi anak usia
sekolah tetap masih membutuhkan perlindungan orang tua. Anak usia sekolah
merasa cemas karena tidak bisa masuk sekolah, lingkungan rumah sakit yang
dirasakan terpencil, kesepian, asing dan lingkungan rumah sakit yang
membosankan (Supartini, 2004). Hal ini sependapat dengan Rasmun
(2004), Anak sangat memerlukan dukungan dari
orang lain, terutama dari keluarga dan
teman- temannya, dalam hal ini perawat
yang menjadi fasilitor yang dapat menghubungkan antara keduanya.
Lebih lanjut Soelaeman (1995), dikutip oleh Al-Aziz
(2009), juga mengatakan hubungan dengan teman sebaya sebagai bentuk
untuk memperoleh dukungan, memiliki arti penting bagi terciptanya dukungan dari
teman sebaya, diantaranya dimilikinya perhatian atau minat yang bervariasi dan
tetap, pencarian status dalam pergaulan dengan teman sebayanya, adanya suatu
keinginan untuk mengidentifikasikan diri dengan kelompoknya, kemauanya menerima
berbagai macam kegiatan dalam berbagai kesempatan untuk hubungan sosial.
Adapun dukungan teman sebaya merupakan sebagai hubungan antar pribadi yang di dalamnya
terdapat satu atau lebih ciri-ciri antara lain bantuan atau pertolongan dalam
bentuk fisik, perhatian emosional, pemberian informasi dan pujian. Pengaruh
lingkungan kelompok maupun lingkungan pergaulan umumnya memiliki peranan yang
sangat besar (Etzion, 1984 dikutip oleh Al-Aziz, 2009).
Penelitian
yang dilakukan oleh Rahmayanti (2010),
tidak dipublikasikan. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebanyak 27
responden yang menyatakan bahwa dukungan
perawat rendah dan sebanyak 26 responden menyatakan anaknya mengalami stress
hospitalisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 27 orang responden yang
menyatakan dukungan perawat rendah,
sebanyak 25 orang yang anaknya mengalami stress hospitalisasi. Sedangkan dari
13 orang responden yang menyatakan bahwa
dukungan perawat tinggi, sebanyak 3 orang yang anaknya mengalami stress
hospitalisasi.
Sementara
penelitian yang dilakukan oleh Hapunguan (2010), tidak dipublikasikan. Penelitian
dilakukan pada bulan januari 2010-
februari 2010 dengan menggunakan metode deskriptif dengan memberikan pernyataan
kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu, data demografi, dan dukungan keluarga terhadap anak yang mengalami hospitalisasi. Dukungan
keluarga terhadap anak yang mengalami
hospitalisasi di RSU Haji Adam
Malik Medan menunjukkan dukungan sedang
18 responden (13,6 %), dukungan tinggi 110 responden (83,4), dan
dukungan rendah 4 responden (3,1%). Dari pencapaian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga terhadap anak
yang mengalami hospitalisasi di RSU
Haji Adam Malik cukup tinggi.
Berdasarkan
hasil wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan terhadap 5 orang anak usia sekolah yang mengalami
hospitalisasi/ dirawat di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tabun 2011, 4 orang diantaranya mengatakan bahwa
mereka sangat merindukan teman- teman sekelasnya, dan mereka berharap agar
cepat sembuh dan dapat kembali ke sekolah untuk bermain bersama kembali.
Sedangkan satu orang anak lainnya mengatakan bahwa ia merasa sedih dan malu
dengan kehadiran teman- teman serta gurunya, karena dia terlihat lemah dan
tidak berdaya dihadapan mereka.
Berdasarkan
data yang didapatkan dari buku register ruangan Seurune 1 Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, jumlah anak usia sekolah yang dirawat di
Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
Aceh selama periode april 2010 sampai
dengan maret 2011 adalah sebanyak 412
orang anak dengan rata- rata perbulannya
adalah 34 orang.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian dari latar belakang diatas, maka rumusan
permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “ Bagaimana Gambaran Dukungan Teman
Sebaya Pada Anak Usia Sekolah Yang Mengalami Hospitalisasi Di Ruang Rawat Inap
Seurune 1 Rumah Sakit Umum Deaerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui
gambaran dukungan teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami
hospitalisasi di Ruang Rawat Inap
Seurune 1 Rumah sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun
2011.
2.
Tujuan
Khusus
a.
Untuk mengetahui
gambaran tentang dukungan emosional yang
diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi
di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
b.
Untuk mengetahui
gambaran tentang dukungan instrumental
yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami
hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
c.
Untuk mengetahui
gambaran tentang dukungan Informasional
yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami
hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
d.
Untuk mengetahui
gambaran tentang dukungan penilaian yang diberikan oleh teman sebaya pada anak
usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan,
ilmu pengetahuan serta sebagai
pengalaman didalam melakukan penelitian
keperawatan, khususnya dibidang
keperawatan anak.
2.
Bagi Institusi
Pendidikan, khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala
Dapat menjadi referensi, sebagai tambahan bahan bacaan, serta tinjauan
keilmuan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian, khususnya dibidang keperawatan anak yang berkaitan
dengan gambaran dukungan teman sebaya
pada anak usia sekolah (6- 12 tahun)
yang mengalami hospitalisasi.
3.
Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan kepada pihak pengelola Rumah Sakit Umum Dearah
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dalam
memberikan pelayanan serta pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu
pelayanan
4.
Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai dasar referensi
untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
5.
Bagi Tenaga Keperawatan
Sebagai bahan masukan
dan evaluasi yang bermakna dalam merawat pasien anak yang yang sedang mengalami
hospitalisasi.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Konsep
Dukungan
Sistem
dukungan adalah segala fasilitas berupa dukungan yang diberikan kepada klien
yang bersumber dari keluarga, teman dan masyarakat disekitarnya. Model terapi
dukungan merupakan model psikoterapi terbaru yang mulai digunakan diberbagai
tempat seperti rumah sakit, klinik psikiatri atau didalam kehidupan masyarakat
(Stuart & Sundeen, 1998, p.145).
Clark
et all (1991) dalam Perry & Potter (2005, p.578), mengatakan bahwa sistim
pendukung memberikan individu rasa sejahtera terbesar selama perawatan di rumah
sakit. Sistem pendukung berfungsi sebagai hubungan manusia yang menghubungkan
klien, perawat dan gaya hidup klien sebelum terjadi penyakit. Bagian dari
lingkungan pemberi perawatan klien adalah kehadiran yang teratur dari keluarga
dan teman yang dianggap oleh klien sebagai pendukung. Sistem pendukung sering memberikan
kepercayaan yang dapat memperbaharui jati diri klien.
Jika
ditemukan keluarga dan teman sebagai pemberi dukungan bagi klien maka mereka
dapat menjadi sebagai sumber terapi yang sangat baik. Seringkali penyakit dan
lingkungan pengobatan, yang begitu
banyak menimbulkan ketidaktahuan, dimana
keluarga dan teman yang terintimidasi.
Perawat memfasilitasi keluarga dan teman- temannya untuk dapat menerima dengan
baik kehadiran mereka dan mengetahui bahwa dukungan dan kehadiran mereka
merupakan bagian yang sangat penting dari penyembuhan klien (Perry &
Potter, 2005, p. 578).
Sebuah
studi menunjukkan bahwa terapi dukungan ini sangat efisien untuk menangani
kondisi kejiwaan yang tidak menentu, stress traumatik dan efektif untuk
mengatasi kecemasan serta gangguan psikologis lainnya. Menurut Stuart dan
Sundeen (1998, p.143), model terapi dukungan mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Menambah
kekuatan, keahlian dan kemampuan pasien dalam menggunakan sumber daya yang ada
dalam dirinya.
2. Menurunkan
tekanan/ distres klien serta respon maladaptif
3. Membantu
untuk meningkatkan kemandirian klien.
Sistem
terapi dukungan dapat digunakan pada pada segala pencegahan (primary, secondary, tertier), sebagai
strategi pencegahan utama, sistem dukungan ini tidak berusaha untuk menurunkan
pencetus stress atau faktor resikonya, tetapi berfungsi untuk meningkatkan
dukungan sebagai salah satu cara untuk menurunkan efek stress.
Sedangkan
terapi dukungan mempunyai beberapa prinsip utama, yang dinyatakan oleh Stuart
& Sundeen (1998, p.146), Yaitu:
1.
Menolong pasien dalam
menangani perasaan yang tidak menentu
2.
Berupa dukungan
keluarga atau dukungan sosial
3.
Berfokus pada keadaan
sekarang
4.
Menurunkan kecemasan
melalui sistem dukungan
5.
Menolong pasien untuk
menghindari situasi krisis
6.
Mengklarifikasi dan
menyelesaikan masalah melalui dukungan pendidikan dan perubahan lingkungan.
Cobb
& Jones (1994) dalam Niven (2002, p.135) mengatakan bahwa dukungan sosial
dapat diukur dengan melihat tiga elemen, yaitu:
1.
Prilaku suportif dan
aktual dari teman- temannya
2.
Sifat kerangka sosial
(apakah kelompok jaringan tertutup dari individu- individu atau lebih menyebar)
3.
Cara dimana seorang
individu merasakan dukungan yang diberikan oleh teman- temannya.
Sementara
menurut Niven (2002, p.136), hal ini menunjukkan suatu usaha yang baik untuk
mengenyampingkan praktik pemilihan- pemilihan dukungan sosial, yang dapat
ditunjukkan bahwa ada dua perspektif yang penting, yaitu:
1.
Perspektif individual
Yang menampilkan pandangan individu
tentang orang- oarang di dalam jaringan sosial tersebut. Seseorang dapat merasa
aman bila mengetahui bahwa ia mempunyai jaringan dukungan sosial yang sangat
berfungsi dari teman- temannya dan juga ia merasa sangat dapat berhubungan
dengan mereka dan mendiskusikan dengan mereka tentang perhatian- perhatian
personalnya.
2.
Perspektif jaringan
sosial
Hal ini menampilkan prilaku aktual dari
individu yang mendasari jaringan terhadap individu. Jaringan sosial dan perasaan
mendapatka dukungan sosial untuk membedakan antara kualitas dan kuantitas
dukungan. Jaringan sosial merupakan jumlah orang yang terlibat dalam memberikan
dukungan.
Secara
umum dapat diterima bahwa orang yang hidup dalam lingkungan yang bersifat
suportif, kondisinya jauh lebih baik dari mereka yang tidak memiliki dukungan,
karena dukungan dapat melemahkan dampak stress dan secara langsung dapat
memperkuat kesehatan mental individu dan keluarga. Anak sangat memerlukan
dukungan dari orang lain, terutama keluarga dan teman- temannya, dalam hal ini perawat yang menjadi fasilitor yang dapat
menghubungkan antara keduanya (Rasmun, 2004).
Menurut
Cohen & McKay (1984) dalam Niven (2002, p.137) menampilkan suatu model
kondisi di mana jaringan dukungan seseorang dapat menurunkan atau mencegah
stres. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa dukungan sosial memberikan
penyangga terhadap kejadian- kejadian yang penuh dengan stres, adapun bentuk- bentuk
dukungan social yaitu: dukungan emosional, dukungan iistrumental, dukungan
informasi dan dukungan penilaian.
1.
Emotional support
(Dukungan Emosional)
Adanya
rasa simpati dari orang-orang yang menegetahui individu yang mengalami tekanan,
dan orang tersebut juga bisa memberikan rasa peduli dan dukungan terhadap orang
yang mengalami masalah tersebut, yang meliputi ekspresi empati misalnya
mendengarkan, bersikap terbuka, menunjukkan sikap percaya terhadap apa yang
dikeluhkan, mau memahami, ekspresi kasih sayang dan perhatian. Dukungan
emosional akan membuat si penerima merasa berharga, nyaman, aman, terjamin, dan
disayangi (Al-Aziz, 2009).
Menurut
Niven (2002, p.138), jika sesuatu hal dapat mengurangi perasaan seseorang
terhadap sesuatu yang dimiliki dan dicintai, dukungan emosional dapat
menggantikannya atau menguatkan perasaan tersebut, jika hal ini terjadi, maka
jaringan pendukung akan memainkan peran yang sangat berarti dalam meningkatkan
pendapat dan rasa rendah terhadap diri sendiri.
Jadi
dukungan sosial hanya dapat lebih efektif bila hubungan interpersonal seseorang
memberikan sumber- sumber yang dapat memenuhi kebutuhan koping dari suatu
kejadian. Banyak individu mengumpulkan informsi tentang bagimana menerima
situasi yang penuh dengan stress dari teman- temannya. Sering mereka mendapat
lebih banyak informasi dan dukungan dari jaringan sosialnya dari pada tenaga
kesehatan (Niven, 2002, p.138).
2. Instrumental
support (Dukungan Instrumental).
Dukungan
instrumental yaitu dukungan yang diberikan berupa bantuan secara langsung/ praktik
terhadap individual yang mengalami masalah, yang bersifat fasilitas, rasa
peduli, memberikan makanan, permainan atau bantuan yang lain (Al-Aziz, 2009)
Meskipun
sebenarnya setiap individu dengan dengan sumber- sumber yang tercukupi yang
memberikan dukungan dalam bentuk uang
atau perhatian, dukungan yang nyata/ langsung
merupakan suatu hal yang paling efektif bila dihargai oleh penerima
dengan tepat (Niven, 2002, p.137).
3. Informational
support (Dukungan Informasi)
Bersedia
menerima ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk memecahkan suatu masalah yang
berkaitan dengan individu, dukungan ini meliputi memberikan nasehat, petunjuk,
masukan atau penjelasan bagaimana seseorang bersikap dan bertindak dalam
menghadapi situasi yang dianggap membebani (Al-Aziz, 2009).
Menurut
Wortman & Dunkel (1987) dalam Niven (2002, p.137) manyatakan bahwa dukungan
sosial dapat menyangga individu untuk melawan stress dengan membantu mereka
untuk mendefinisikan kembali bahwa situasi tersebut merupakan suatu ancaman
yang kecil/ tidak bermakna, serta mencontohkan pada individu lain yang telah
mengalami situasi yang sama untuk mengurangi beban yang dirasakan, dengan
memberiakan nasehat dan
Dukungan
sosial dapat juga membantu meningkatkan strategi koping individu dengan
menyarankan berbagai alternatif yang
didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan dengan mengarahkan individu untuk berfokus
pada aspek- aspek yang lebih positif
dari situasi tersebut (Niven, 2002, p.137)
4.
Companionship support (Dukungan
Penilaian)
Merupakan
bentuk dari suatu penguatan yang bersifat memberikan dukungan secara kekerabatan, atau membimbing seseorang
yang terkena masalah untuk tetap bisa
bersosialisasi kembali dengan aktivitas- aktivitas di lingkungannya.
B.
Teman
Sebaya
Untuk
proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, tetapi
perhatian dari orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak berteman
(Soetjiningsih, 1995, p.9).
Anak
– anak ingin menghabiskan waktunya lebih banyak dalam perkumpulan teman sebaya
dan tampak ingin sekali meninggalkan rumah, mereka lebih sering memilih
aktivitas- aktivitas bersama kelompok sebaya dibandingkan dengan keluarganya
(Wong, 2009). Hal ini juga dikemukakan oleh Thoist
(1986), dikutip oleh Al-Aziz (2009), dukungan sosial bersumber dari orang-orang
yang memiliki hubungan yang berarti bagi individu seperti keluarga, saudara, teman dekat, pasangan hidup, rekan kerja, maupun tetanga.
Teman sebaya menurut Kail dan Reilson dalam Rohani, (1999),
di kutip oleh Al-Aziz (2009), merupakan sumber dukungan sosial karena dapat
memberikan rasa senang dan dukungan selama mengalami suatu permasalahan.
Bergaul dengan teman sebaya merupakan bantuan dari seseorang yang kemudian
diberikan kepada orang lain yang berusia kurang lebih sama, dimana dukungan
tersebut bertujuan memberikan motifasi atau menimbulkan minat dalam diri
seseorang ketika melakukan kegiatan. Dukungan sosial diperoleh dari teman atau
persahabatan. Teman memiliki peran yang sangat penting, mereka harus memberikan
kasih sayang dan perhatian yang lebih pada sesamanya (Widiastuti, 2004).
Seorang teman yang baik merupakan
anugerah Allah SWT yang paling agung, dalam kesengsaraan hidup, hanya temanlah
yang menjadi tempat berlindung bagi seseorang sekaligus sebagai pelipur lara
hati dan jiwanya. Di dunia yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan ini,
keberadaan seorang teman sangatlah dibutuhkan
oleh setiap individu. Anak yang tidak
mempunyai teman, maka ia akan tumbuh menjadi sosok yang selalu menyendiri dan
tumbuh kembangnya akan sedikit terganggu, tidak ada satu orangpun yang
menunjukkan rasa simpati padanya disaat- saat ia membutuhkannya (Amini, 2006,
p.265).
1.
Hubungan dengan teman
sebaya
Hubungan dengan teman sebaya sebagai bentuk untuk
memperoleh dukungan, memiliki arti penting bagi terciptanya dukungan dari teman
sebaya, diantaranya dimilikinya perhatian atau minat yang bervariasi dan tetap,
pencarian status dalam pergaulan dengan teman sebayanya, adanya suatu keinginan
untuk mengidentifikasikan diri dengan kelompoknya, kemauanya menerima berbagai
macam kegiatan dalam berbagai kesempatan untuk hubungan sosial (Al- aziz dalam Soelaeman,
1995).
Teman
atau sahabat adalah sosok teramat penting dalam proses perkembangan kepribadian
seseorang. Masa kecil kita dipenuhi keceriaan dengan adanya sahabat, meski
terkadang ada sedikit pertikaian /pertengkaran antar teman, namun itu merupakan
sebuah proses pendewasaan (Maman, 2009).
Selama
tahap primer (6-7 tahun) anak laki- laki dan perempuan bermain bersama, bergantung
pada siapa yang bersedia dan mereka sukai. Sekitar usia 8 tahun, kelompok
sosial dengan kawan sebaya berjenis kelamin sama mulai terbentuk, hal ini
membuat anak menyatakan dari kemand irian mereka dari orang tua. Persahabtan
dikarakterisasikan dengan memilki teman yang jenis kelaminnya sama. Hubungan
ini mungkin bersifat sementara, tetapi hubungan mereka sangat erat dan
tercipta diskusi yang mencakup seluruh
kehidupannya (Perry & Potter, 2005, p.680).
Berinteraksi
dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya
mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya
dan terkadang terdapat suatu grup/ kelompok. Anak tidak lagi puas bermain
sendirian dirumah, hal ini karena anak mempunyai keinginan kuat untuk diterima
sebagai anggota kelompok.
Wong
(2009, p.564) mengatakan bahwa hubungan dengan teman sebaya dalam kehidupana sehari- hari memberikan interaksi sosial
paling penting untuk anak usia sekolah. Pengalaman berharga dipelajari dari
interaksi sehari hari dengan teman
sebaya:
a.
Anak belajar menghargai
berbagai perbedaan sudut pandang yang ditunjukkan dalam kelompok teman sebaya.
b.
Anak bertambah sensitif
terhadap norma sosial dan tekanan dari kelompok teman sebaya. Kelompok teman
sebaya menetapkan standart untuk menerima dan menolak, dan anak- anak mungkin
ingin memodifikasi prilaku mereka agar dapat diterima dalam kelompok. Kebutuhan
untuk diterima teman sebaya menjadi pengaruh kuat untuk penyesuaian.
c.
Interaksi diantara
teman sebaya berperan penting dalam pembentukan hubungan persahabatan dengan
teman sesama jenis. Periode usia sekolah adalah waktu ketika anak memiliki “sahabat”
yaitu teman tempat berbagi rahasia, lelucon pribadi, dan petualangan, mereka
saling membantu jika temannya menghadapi masalah.
2. Budaya
kelompok sebaya
Identifikasi
dengan teman sebaya memberikan pengaruh yang kuat bagi anak untuk memperoleh
kemandirian. Bantuan dan dukungan kelompok sebaya memberi anak keamanan yang cukup untuk
menghadapi berbagai resiko. Kelompok sebaya juga mempunyai dampak pada
sosialisasi anak, hubungan sebaya akan
semakin penting dan pengaruh anak masuk sekolah. Di sekolah, anak memiliki apa
yang dapat dianggap sebagai budaya mereka sendiri. Ini paling tampak pada anak
sekolah dan dalam kelompok bermain yang tidak diawasi (Wong, 2009, p.74 ).
Bentuk
sosialisasi yang diberikan oleh kelompok sebaya bergantung pada sub budaya yang
tercipta dari latar belakang, minat dan kemampuan dari anggotanya. Meskipu
tidak memiliki otoritas tradisional, orang tua dan otoritas hukum seperti
sekolah untuk memberikan informasi pengajaran, kelompok sebaya menyampaikan
sejumlah informasi kepada anggotanya (Wong, 2009, p.74)
Melalui
hubungan sebaya, anak belajar bagaimana
cara menghadapi dominasi dan permusuhan serta berhubungan dengan orang dalam
posisi kepemimpinan. Sub-budaya sebaya menghilangkan kebosanan dan memberikan
pemahaman yang tidak didapat oleh anggota kelompok sebaya dari orang tua, guru
dan figur otoritas lain. Pada anak usia sekolah mempunyai pengaruh besar
terhadap prilaku semua anggota kelompok (Wong, 2009, p.75)
Anak
usia sekolah telah meninggalkan kenyamanan rumah dan memasuki sistem keluarga,
seorang anak sudah mulai membangun suatu hubungan dengan anak yang lainnya. Karakteristik
anak usia sekolah adalah suka berkelompok dengan teman sebaya sesuai dengan
jenis kelaminnya, anak sekolah juga masih senang bermain- main dengan kelompok
seusiannya. sehinggga anak merasa cemas pada saat dirawat di rumah sakit karena
merasa kehilangan kelompok sosialnya dan takut dengan lingkungan rumah sakit
(Ngastiyah, 2005)
Dirumah
sakit anak akan lebih berespon terhadap perpisahan dengan teman sebayanya dari
pada berpisah dengan orang tuanya. Memberikan kesempatan pada anak untuk
berkomunikasi dengan teman sekolahnya merupakan hal yang terpenting, sebagai
contoh, mereka dapat dibantu untuk menulis surat atau menelfon teman- temannya,
jika memungkinkan teman- temannya dapat mengunjunginya ke rumah sakit (Hegner
& Caldwell, 2003, p.643).
Sementara
menurut Wong dkk (2009, p.756), anak- anak usia yang mengalami hospitalisasi
sekolah lebih bereaksi terhadap perpisahan dengan aktivitas teman sebayanya
dari pada ketidakhadiran orang tua. Anak usia sekolah memiliki aktivitas fisik
dan mental yang tinggi yang tidak didapatkan
atau tidak sesuai dengan lingkungan rumah sakit walaupun mereka tidak
menyukai sekolah, namun mereka mengakui akan kehilangan rutinitas dan merasa
khawatir karena tidak mampu untuk berkompetisi atau menyesuaikan diri dengan
teman- teman sekelasnya.
C.
Anak
Usia Sekolah
Anak
usia sekolah adalah anak usia sekolah dasar yang kira- kira berusia 6- 12 tahun.
Pada umumnya, usia sekolah merupakan suatu masa dimana kesehatan luar biasa baiknya,
lebih kuat dan rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan anak yang usianya
lebih muda. Pada usia sekolah mereka sudah hampir mengalami semua penyakit pada
masa kanak- kanaknya dan telah diimunisasi untuk melawan sisanya (Hegner &
caldwell, 2003, p.642).
Anak
usia sekolah harus memenuhi tantangan perkembangan ketrampilan kognitif yang
dapat meningkatkan pemikirannya dan memungkinkan mereka untuk belajar, menulis,
dan memanipulasi angka. Sekolah atau pengalaman pendidikan memperluas dunia
anak dan merupakan masa transisi dari kehidupan yang secara relatif bebas
bermain ke kehidupan dengan bermain, belajar dan bekerja yang terstruktur
(Perry & Potter, 2005, p.679).
Peningkatan
aktivitas fisik dan sosial merupakan ciri- ciri dari anak usia sekolah.
Hospitalisasi biasanya tidak cukup memberikan hiburan untuk anak- anak usia
sekolah, anak usia sekolah juga akan merindukan teman serta aktivitas-
aktivitas di sekolah, walaupun sering mereka menyangkalnya (Hagner &
Caldwell, 2003, p.643).
Sekolah
dan rumah mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan yang membutuhkan penyesuaian antara orang tua dan anak. Anak harus
belajar menghadapi peraturan dan harapan yang dituntut oleh sekolah dan teman
sebaya. Ketika anak usia sekolah sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit akan
menimbulkan rasa cemas dan takut, karena mereka harus berpisah dengan keluarga
dan teman sebaya/ kelompok sosialnya (Perry & Potter, 2005, p.679).
1.
Stressor pada anak usia
sekolah
Sakit dan dirawat di rumah sakit pada
anak usia sekolah menyebabkan kecemasan, karena tidak bisa masuk ke sekolah,
cemas kehilangan kelompok sosialnya, cemas kehilangan orang tua dan takut
terhadap lingkungan yang asing. Upaya untuk mencegah/ meminimalkan dampak
perpisahan dengan cara; melibatkan orang
tua berperan aktif dalam perawatan anak, memodifikasi ruang perawatan,
surat- menyurat dengan sekolah dan bertemu teman sekolah (Mahyuddin, 2008).
Menurut Nursalam, dkk (2005, p.17) sakit
dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Jika
seorang anak dirawat di rumah sakit, maka anak tersebut akan mudah mengalami
krisis karena anak mengalami strest akibat perubahan, baik terhadap status
kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari- hari, serta anak
mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah
maupun kejadian- kejadian yang bersifat menekan.
a.
Separation
/ perpisahan
Dengan semakin meningkatnya usia
anak, anak mulai memahami mengapa perpisahan terjadi, anak mulai mentolerir
perpisahan dengan orang tua yang berlangsung lama, perpisahan dengan teman
sekolah dan guru merupakan hal yang berarti bagi anak sehingga dapat
mengakibatkan anak menjadi cemas.
b.
Kehilangan fungsi kontrol
Reaksi kehilangan kontrol anak
merasa takut dan khawatir serta mengalami kelemahan fisik, reaksi terhadap
perlukaan tubuh dan nyeri dengan menggigit bibir dan memegang sesuatu (Wong,
2000). Bagi anak usia sekolah merupakan
ancaman akan harga diri mereka sehingga sering membuat anak frustasi,
marah dan depresi, dengan adanya kehilangan fungsi dan control anak merasa
bahwa inisiatif mereka terhambat.
Kekhawatiran
utama bagi anak usia sekolah pada saat dihospitalisasi adalah ketakutan mereka
akan perkataan bahwa ada sesuatau yang “salah” dengan mereka. Biasanya anak
usia sekolah sangat berminat secara aktif terhadap kesehatan atau penyakit
mereka, bahkan anak- anak anak sering mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan
pengetahuan yang detail tentang kondisi mereka dengan mendengarkan penuh
perhatian apa yang dikatakan oleh orang disekelilingnya. Mereka meminta
informasi yang faktual dan sangat mudah menerima kebohongan dan kebenaran (Wong dkk,
2009, p.761 ).
D.
Hospitalisasi
Hospitalisasi adalah keadaan krisis pada
anak saat sakit da dirawat di rumah sakit, sehingga anak harus beradaptasi
dengan lingkungan rumah sakit. Penyakit dan hospitalisasi sering sekali menjadi
krisis pertama yang harus dihadapi anak. Anak,
terutama pada saat- saat awal sangat rentan terhadap krisis dan
hospitalisasi karena sresst akibat perubahan dari keadaan sehat ke sakit dan
perbahan rutinitas yang biasa dilakukan dilingkungannya serta anak memiliki
jumlah mekanisme koping yang sangat terbatas untuk menyelesaikan stresor (Wong
dkk, 2009, p.754).
Hospitalisasi
adalah suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan
sampai pemulangannya kembali ke rumah. Berbagai
perasaan yang muncul pada anak yaitu: cemas, marah, sedih takut dan rasa
bersalah. Perasaan itu timbul karena menghadapi sesuatu yg baru dan belum
pernah dialami sebelumnya (Reza, 2010).
Hospitalisasi
adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebut
dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi
individu karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman,
seperti; Lingkungan yang asing, berpisah
dengan orang yang berarti, kurang informasi, kehilangan kebebasan dan
kemandirian, pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan , semakin
sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau
malah sebaliknya dan prilaku petugas rumah sakit (Jovan, 2007).
Untuk
anak- anak, hospitalisasi dan penyakit merupakan suatu pengalaman yang penuh
dengan tekanan, terutama karena perpisahan dengan lingkungan dimana berpisah
dengan dengan orang yang berarti, seleksi prilaku koping yang terbatas dan
perubahan status kesehatan (Perry & Potter, 2005, p. 665).
Menurut
Wong dkk (2009, p. ), upaya yang dapat
dilakukan untuk membantu anak dalam mempertahankan kontak dengan teman-
temannya, biasanya dapat meminimalkan efek perpisahan yang timbul akibat
hospitalisasi. Hal ini mencakup melanjutkan pelajaran sekolah selama sakit dan
terisolasi, dikunjungi oleh teman- temannya secara langsung maupun secara
tertulis, melalui surat- menyurat atau melalui telefon dan ikut berpartisipasi
dalam kelompok teman sebaya jika memungkinkan.
1. Reaksi
anak usia sekolah terhadap hospitalisasi
Pada
umumnya reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,
kehilangan, perlukaan tubuh dan rasa nyeri. Pada masa sekolah (6-12 tahun)
hospitalisasi dipersepsikan sebagai tempat perawatan yang memaksa untuk
meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok sosialnya, sehingga
dapat menimbulkan kecemasan (Jovan, 2007).
Selain
lingkungan rumah sakit, penyakit yang dapat menimbulkan kecemasan pada anak usia sekolah yang
mengalami hospitalisasi juga dapat disebabkan oleh perasaan kehilangan kendali
, yang merupakan salah satu masalah yang paling signifikan dari anak- anak
dalam usia ini, yang berpusat pada kebosanan. Jika keterbatasan fisik dapat
menghalangi kemampuan mereka untuk merawat diri sendiri atau untuk terlibat
dalam aktivitas yang disukainya, maka anak usia sekolah biasanya akan berespon
dengan depresi, bermusuhan atau frustasi (Wong dkk, 2009, p.758).
Reaksi hospitalisasi pada anak bersifat
individual dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman
sebelumnya terhdap proses sakit dan dirawat, sistem pendukung (support system) yang tersedia dan kemampuan koping yang dimiliki anak
(Nursalam, Susilaningrum & Utami, 2005, p. 17).
Sementara menurut Wong (1995) dalam Perry & Potter (2005,
p.666) reaksi anak terhadap penyakit dan hospitalisasi didasarkan pada usia
perkembangan, pengalaman sebelumnya dengan hospitalisasi, tersedianya orang
yang mendukung, ketrampilan koping serta keseriusan dari penyakit yang
diderita.
Sekitar 5% anak di Amerika Serikat mengalami dirawat di
rumah Sakit setiap tahunnya. Hampir secara universal rumah sakit dapat
menyebabkan stress bagi anak yang dirawat, karena ada berbagai faktor yang
berkaitan seperti, stres perpisahan, perubahan rutinitas, kondisi yang yang
tidak familiar dengan orang dan lingkungan sekitar, ketakutan serta rasa nyeri
yang berkaitan dengan keadaan sakit dan pengobatan. Penting untuk meminimalkan
dampak hospitalisasi dengan memanfaatkan perawatan berbasis rumah serta untuk membatasi pengunaan prosedur
invasif yang merupakan tujuan utama dari perawatan pediatrik (Rudolph, Hoffman & Rudolph, 2006, p.128).
Kecemasan
karena perpisahan, kehilangan kontrol, ketakutan tentang tubuhnya yang disakiti
dan nyeri merupakan penyebab utama dari reaksi prilaku dari anak- anak yang
mengalami hospitalisasi (Perry & Potter, 2005, p.666). Sedangkan menurut Hegner & Caldwell (2003,
p.643), perasaan takut atau stress yang berkaitan dengan penyakit dan dampak
lanjut dari hospitalisasi adalah perasaan kehilangan kendali pada anak usia
sekolah.
Sementara
menurut Wong (2009, p.756), Salah satu yang mempengaruhi jumlah stress akibat
hospitalisasi adalah jumlah kendali yang dirasakan oleh seseorang. Kurangnya
kendali akan meningkatkan persepsi ancaman dan dapat mempengaruhi ketrampilan
koping bagi anak- anak, situasi rumah sakit dapat menurunkan jumlah kendali
yang dirasakan anak. Kebutuhan anak sangat bervariasi yang tergantung pada usia
mereka, maka area utam mengenai kehilangan kendali dalm hal pembatasan fisik,
perubahan rutinitas dan ketergantungan.
2. Manfaat
hospitalisasi
Meskipun
hospitalisasi dapat dan biasanya menimbulkan kecemasan bagi anak, tetapi
hospitalisasi juga dapat bermanfaat. Manfaat yang paling nyata adalah pulih
dari sakit, tetapi hospitalisasi juga dapat memberi kesempatan pada anak- anak
untuk mengatasi stress dan merasa kompeten dalam kemampuan koping mereka,
selain itu lingkungan rumah sakit juga dapat memberikan pengalaman sosialisasi
yang baru bagi anak yang dapat memperluas hubungan interpersonal mereka (Wong
dkk, 2009, p.764)
Menurut
Nursalam dkk (2005, p.), mamfaat dari hospitalisasi adalah untuk memfasilitasi
perubahan kearah positif, yaitu:
a.
Membantu perkembangan hubungan orang tua- anak
Hospitalisasi memberi
kesempatan pada orang tua untuk belajar mengenai pertumbunhan dan perkembangan
anak. Jika orang tua mengetahui reaksi anak terhadap stress, seperti agresif dan regresi, maka mereka akan memberikan suatu dukungan, hal tersebut
akan memperluas pandangan orang tua dalam merawat anak yang sakit
b.
Memberikan kesempatan untuk pendidikan
Hospitalisasi memberika
kesempatan pada anak dan keluarga untuk belajar mengenai tubuh dan profesi
kesehatan
c.
Meningkatkan pengendalian diri
Pengalaman dan krisis
seperti penyakit atau hospitalisasi akan memberi kesempatan untuk mengendalikan
diri.
d.
Memberikan kesempatan untuk sosialisasi
Jika anak dirawat dalam
satu ruangan usia sebayanya, maka hal tersebut akan membantu anak untuk belajar
mengenai diri mereka.
Sedangkan
menurut Hegner & Caldwell (2003, p.642), reaksi anak usia sekolah terhadap
hospitalisasi sangat berbeda dari anak- anak yang lebih muda, anak usia sekolah
lebih mampu mengatasi stress karean penyakit dan hospitalisasi. Hospitalisasi
pada anak usia sekolah dapat memberikan kesemapatan kepadanya, untuk :
a.
Mengeksplorasi
lingkungan yang baru
b.
Bertemu dengan teman-
teman baru
c.
Mempelajari lebih
banyak tentang tubuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar