Selasa, 13 Januari 2015

Download Skripsi Tentang Anak Usia Sekolah Yang Mengalami Hospitalisasi Di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Deaerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sekitar 5%  anak di Amerika Serikat mengalami  hospitalisasi/ dirawat di rumah Sakit setiap tahunnya. Hampir secara universal rumah sakit dapat menyebabkan stress bagi anak yang dirawat, karena ada berbagai faktor yang berkaitan seperti, stres perpisahan, perubahan rutinitas, kondisi yang yang tidak familiar dengan orang dan lingkungan sekitar, ketakutan serta rasa nyeri yang berkaitan dengan keadaan sakit dan pengobatan. Penting untuk meminimalkan dampak hospitalisasi dengan memanfaatkan perawatan berbasis rumah  serta untuk membatasi pengunaan prosedur invasif yang merupakan tujuan utama dari perawatan pediatrik (Rudolph, Hoffman & Rudolph, 2006, p.128).
Sementara menurut Wong dkk (2009, p.756), anak- anak usia sekolah  yang mengalami hospitalisasi lebih bereaksi terhadap perpisahan dengan aktivitas teman sebayanya dari pada ketidakhadiran orang tua. Anak usia sekolah memiliki aktivitas fisik dan mental yang tinggi yang tidak didapatkan  atau tidak sesuai dengan lingkungan rumah sakit, walaupun mereka tidak menyukai sekolah, namun mereka mengakui akan kehilangan rutinitas dan merasa khawatir karena tidak mampu untuk berkompetisi atau menyesuaikan diri dengan teman- teman sekelasnya.
Pada anak usia sekolah reaksi hospitalisasi yang ditunjukkan yaitu sudah sedikit menerima perpisahan dengan orang tua dan sudah dapat membentuk rasa percaya dengan orang lain yang berarti ataupun teman sebaya, akan tetapi anak usia sekolah tetap masih membutuhkan perlindungan orang tua. Anak usia sekolah merasa cemas karena tidak bisa masuk sekolah, lingkungan rumah sakit yang dirasakan terpencil, kesepian, asing dan lingkungan rumah sakit yang membosankan (Supartini, 2004). Hal ini sependapat dengan Rasmun (2004), Anak sangat memerlukan dukungan dari orang lain, terutama dari  keluarga dan teman- temannya, dalam hal ini  perawat yang menjadi fasilitor yang dapat menghubungkan antara keduanya.
Lebih lanjut Soelaeman (1995), dikutip oleh Al-Aziz (2009),  juga mengatakan  hubungan dengan teman sebaya sebagai bentuk untuk memperoleh dukungan, memiliki arti penting bagi terciptanya dukungan dari teman sebaya, diantaranya dimilikinya perhatian atau minat yang bervariasi dan tetap, pencarian status dalam pergaulan dengan teman sebayanya, adanya suatu keinginan untuk mengidentifikasikan diri dengan kelompoknya, kemauanya menerima berbagai macam kegiatan dalam berbagai kesempatan untuk hubungan sosial.
Adapun dukungan teman sebaya merupakan sebagai  hubungan antar pribadi yang di dalamnya terdapat satu atau lebih ciri-ciri antara lain bantuan atau pertolongan dalam bentuk fisik, perhatian emosional, pemberian informasi dan pujian. Pengaruh lingkungan kelompok maupun lingkungan pergaulan umumnya memiliki peranan yang sangat besar (Etzion, 1984 dikutip oleh Al-Aziz, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh  Rahmayanti (2010), tidak dipublikasikan. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebanyak 27 responden yang  menyatakan bahwa dukungan perawat rendah dan sebanyak 26 responden menyatakan anaknya mengalami stress hospitalisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 27 orang responden yang menyatakan dukungan  perawat rendah, sebanyak 25 orang yang anaknya mengalami stress hospitalisasi. Sedangkan dari 13 orang  responden yang menyatakan bahwa dukungan perawat tinggi, sebanyak 3 orang yang anaknya mengalami stress hospitalisasi.
Sementara penelitian yang dilakukan oleh Hapunguan (2010), tidak dipublikasikan. Penelitian dilakukan pada bulan januari  2010- februari 2010 dengan menggunakan metode deskriptif dengan memberikan pernyataan kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu, data demografi, dan dukungan  keluarga terhadap  anak yang mengalami hospitalisasi. Dukungan keluarga terhadap anak yang mengalami  hospitalisasi  di RSU Haji Adam Malik Medan menunjukkan dukungan sedang  18 responden (13,6 %), dukungan tinggi 110 responden (83,4), dan dukungan  rendah  4 responden (3,1%). Dari pencapaian  tersebut maka dapat disimpulkan  bahwa dukungan  keluarga terhadap  anak  yang mengalami  hospitalisasi di RSU Haji Adam Malik cukup tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan  terhadap 5 orang anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi/ dirawat di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tabun 2011, 4 orang diantaranya mengatakan bahwa mereka sangat merindukan teman- teman sekelasnya, dan mereka berharap agar cepat sembuh dan dapat kembali ke sekolah untuk bermain bersama kembali. Sedangkan satu orang anak lainnya mengatakan bahwa ia merasa sedih dan malu dengan kehadiran teman- teman serta gurunya, karena dia terlihat lemah dan tidak berdaya dihadapan mereka.
Berdasarkan data yang didapatkan dari buku register ruangan Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, jumlah anak usia sekolah yang dirawat di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh selama  periode april 2010 sampai dengan maret 2011 adalah sebanyak  412 orang anak dengan rata- rata  perbulannya adalah  34 orang.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian  dari latar belakang diatas, maka rumusan permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “ Bagaimana Gambaran Dukungan Teman Sebaya Pada Anak Usia Sekolah Yang Mengalami Hospitalisasi Di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Deaerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.

C.      Tujuan Penelitian
1.         Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran dukungan teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap  Seurune 1 Rumah sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2.         Tujuan Khusus
a.         Untuk mengetahui gambaran tentang  dukungan emosional yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
b.        Untuk mengetahui gambaran tentang  dukungan instrumental yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1  Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
c.         Untuk mengetahui gambaran tentang dukungan Informasional  yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1  Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
d.        Untuk mengetahui gambaran tentang dukungan penilaian yang diberikan oleh teman sebaya pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruang Rawat Inap Seurune 1 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

D.    Manfaat Penelitian
1.         Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan  serta sebagai pengalaman didalam melakukan  penelitian keperawatan,  khususnya dibidang keperawatan anak.
2.         Bagi Institusi Pendidikan, khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
Dapat menjadi  referensi,  sebagai tambahan bahan bacaan, serta tinjauan keilmuan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian,  khususnya  dibidang keperawatan anak yang berkaitan dengan  gambaran dukungan teman sebaya pada anak usia  sekolah (6- 12 tahun) yang mengalami hospitalisasi.
3.         Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan  kepada pihak pengelola Rumah Sakit Umum Dearah dr. Zainoel Abidin  Banda Aceh dalam memberikan pelayanan  serta  pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu pelayanan
4.         Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai dasar referensi untuk  melakukan penelitian lebih lanjut.
5.         Bagi Tenaga Keperawatan
Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang bermakna dalam merawat pasien anak yang yang sedang mengalami hospitalisasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Konsep Dukungan
Sistem dukungan adalah segala fasilitas berupa dukungan yang diberikan kepada klien yang bersumber dari keluarga, teman dan masyarakat disekitarnya. Model terapi dukungan merupakan model psikoterapi terbaru yang mulai digunakan diberbagai tempat seperti rumah sakit, klinik psikiatri atau didalam kehidupan masyarakat (Stuart & Sundeen, 1998, p.145).
Clark et all (1991) dalam Perry & Potter (2005, p.578), mengatakan bahwa sistim pendukung memberikan individu rasa sejahtera terbesar selama perawatan di rumah sakit. Sistem pendukung berfungsi sebagai hubungan manusia yang menghubungkan klien, perawat dan gaya hidup klien sebelum terjadi penyakit. Bagian dari lingkungan pemberi perawatan klien adalah kehadiran yang teratur dari keluarga dan teman yang dianggap oleh klien sebagai pendukung. Sistem pendukung sering memberikan kepercayaan yang dapat memperbaharui jati diri klien.
Jika ditemukan keluarga dan teman sebagai pemberi dukungan bagi klien maka mereka dapat menjadi sebagai sumber terapi yang sangat baik. Seringkali penyakit dan lingkungan pengobatan,  yang begitu banyak  menimbulkan ketidaktahuan, dimana keluarga dan teman yang  terintimidasi. Perawat memfasilitasi keluarga dan teman- temannya untuk dapat menerima dengan baik kehadiran mereka dan mengetahui bahwa dukungan dan kehadiran mereka merupakan bagian yang sangat penting dari penyembuhan klien (Perry & Potter, 2005, p. 578).
Sebuah studi menunjukkan bahwa terapi dukungan ini sangat efisien untuk menangani kondisi kejiwaan yang tidak menentu, stress traumatik dan efektif untuk mengatasi kecemasan serta gangguan psikologis lainnya. Menurut Stuart dan Sundeen (1998, p.143), model terapi dukungan mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1.      Menambah kekuatan, keahlian dan kemampuan pasien dalam menggunakan sumber daya yang ada dalam dirinya.
2.      Menurunkan tekanan/ distres klien serta respon maladaptif
3.      Membantu untuk meningkatkan kemandirian klien.
Sistem terapi dukungan dapat digunakan pada pada segala pencegahan (primary, secondary, tertier), sebagai strategi pencegahan utama, sistem dukungan ini tidak berusaha untuk menurunkan pencetus stress atau faktor resikonya, tetapi berfungsi untuk meningkatkan dukungan sebagai salah satu cara untuk menurunkan efek stress.
Sedangkan terapi dukungan mempunyai beberapa prinsip utama, yang dinyatakan oleh Stuart & Sundeen (1998, p.146),  Yaitu:
1.         Menolong pasien dalam menangani perasaan yang tidak menentu
2.         Berupa dukungan keluarga atau dukungan sosial
3.         Berfokus pada keadaan sekarang
4.         Menurunkan kecemasan melalui sistem dukungan
5.         Menolong pasien untuk menghindari situasi krisis
6.         Mengklarifikasi dan menyelesaikan masalah melalui dukungan pendidikan dan perubahan lingkungan.
Cobb & Jones (1994) dalam Niven (2002, p.135) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat diukur dengan melihat tiga elemen, yaitu:
1.         Prilaku suportif dan aktual dari teman- temannya
2.         Sifat kerangka sosial (apakah kelompok jaringan tertutup dari individu- individu atau lebih menyebar)
3.         Cara dimana seorang individu merasakan dukungan yang diberikan oleh teman- temannya.
Sementara menurut Niven (2002, p.136), hal ini menunjukkan suatu usaha yang baik untuk mengenyampingkan praktik pemilihan- pemilihan dukungan sosial, yang dapat ditunjukkan bahwa ada dua perspektif yang penting, yaitu:
1.         Perspektif individual
       Yang menampilkan pandangan individu tentang orang- oarang di dalam jaringan sosial tersebut. Seseorang dapat merasa aman bila mengetahui bahwa ia mempunyai jaringan dukungan sosial yang sangat berfungsi dari teman- temannya dan juga ia merasa sangat dapat berhubungan dengan mereka dan mendiskusikan dengan mereka tentang perhatian- perhatian personalnya.
2.         Perspektif jaringan sosial
       Hal ini menampilkan prilaku aktual dari individu yang mendasari jaringan terhadap individu. Jaringan sosial dan perasaan mendapatka dukungan sosial untuk membedakan antara kualitas dan kuantitas dukungan. Jaringan sosial merupakan jumlah orang yang terlibat dalam memberikan dukungan.
Secara umum dapat diterima bahwa orang yang hidup dalam lingkungan yang bersifat suportif, kondisinya jauh lebih baik dari mereka yang tidak memiliki dukungan, karena dukungan dapat melemahkan dampak stress dan secara langsung dapat memperkuat kesehatan mental individu dan keluarga. Anak sangat memerlukan dukungan dari orang lain, terutama keluarga dan teman- temannya, dalam hal ini  perawat yang menjadi fasilitor yang dapat menghubungkan antara keduanya (Rasmun, 2004).
Menurut Cohen & McKay (1984) dalam Niven (2002, p.137) menampilkan suatu model kondisi di mana jaringan dukungan seseorang dapat menurunkan atau mencegah stres. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa dukungan sosial memberikan penyangga terhadap kejadian- kejadian yang penuh dengan stres, adapun bentuk- bentuk dukungan social yaitu: dukungan emosional, dukungan iistrumental, dukungan informasi dan dukungan penilaian.

1.         Emotional support (Dukungan Emosional)
Adanya rasa simpati dari orang-orang yang menegetahui individu yang mengalami tekanan, dan orang tersebut juga bisa memberikan rasa peduli dan dukungan terhadap orang yang mengalami masalah tersebut, yang meliputi ekspresi empati misalnya mendengarkan, bersikap terbuka, menunjukkan sikap percaya terhadap apa yang dikeluhkan, mau memahami, ekspresi kasih sayang dan perhatian. Dukungan emosional akan membuat si penerima merasa berharga, nyaman, aman, terjamin, dan disayangi (Al-Aziz, 2009).
Menurut Niven (2002, p.138), jika sesuatu hal dapat mengurangi perasaan seseorang terhadap sesuatu yang dimiliki dan dicintai, dukungan emosional dapat menggantikannya atau menguatkan perasaan tersebut, jika hal ini terjadi, maka jaringan pendukung akan memainkan peran yang sangat berarti dalam meningkatkan pendapat dan rasa rendah terhadap diri sendiri.
Jadi dukungan sosial hanya dapat lebih efektif bila hubungan interpersonal seseorang memberikan sumber- sumber yang dapat memenuhi kebutuhan koping dari suatu kejadian. Banyak individu mengumpulkan informsi tentang bagimana menerima situasi yang penuh dengan stress dari teman- temannya. Sering mereka mendapat lebih banyak informasi dan dukungan dari jaringan sosialnya dari pada tenaga kesehatan (Niven, 2002, p.138).

2.    Instrumental support (Dukungan Instrumental).
Dukungan instrumental yaitu dukungan yang diberikan berupa bantuan secara langsung/ praktik terhadap individual yang mengalami masalah, yang bersifat fasilitas, rasa peduli, memberikan makanan, permainan atau bantuan yang lain (Al-Aziz, 2009)
Meskipun sebenarnya setiap individu dengan dengan sumber- sumber yang tercukupi yang memberikan dukungan  dalam bentuk uang atau perhatian, dukungan yang nyata/ langsung  merupakan suatu hal yang paling efektif bila dihargai oleh penerima dengan tepat (Niven, 2002, p.137).

3.    Informational support (Dukungan Informasi)
Bersedia menerima ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan individu, dukungan ini meliputi memberikan nasehat, petunjuk, masukan atau penjelasan bagaimana seseorang bersikap dan bertindak dalam menghadapi situasi yang dianggap membebani (Al-Aziz, 2009).
Menurut Wortman & Dunkel (1987) dalam Niven (2002, p.137) manyatakan bahwa dukungan sosial dapat menyangga individu untuk melawan stress dengan membantu mereka untuk mendefinisikan kembali bahwa situasi tersebut merupakan suatu ancaman yang kecil/ tidak bermakna, serta mencontohkan pada individu lain yang telah mengalami situasi yang sama untuk mengurangi beban yang dirasakan, dengan memberiakan nasehat dan
Dukungan sosial dapat juga membantu meningkatkan strategi koping individu dengan menyarankan berbagai alternatif  yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan dengan mengarahkan individu untuk berfokus pada aspek- aspek yang lebih positif  dari situasi tersebut (Niven, 2002, p.137)

4.       Companionship support (Dukungan Penilaian)
Merupakan bentuk dari suatu penguatan   yang bersifat memberikan dukungan  secara kekerabatan, atau membimbing seseorang yang terkena masalah untuk tetap  bisa bersosialisasi kembali dengan aktivitas- aktivitas di lingkungannya.

B.       Teman Sebaya
Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, tetapi perhatian dari orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak berteman (Soetjiningsih, 1995, p.9).
Anak – anak ingin menghabiskan waktunya lebih banyak dalam perkumpulan teman sebaya dan tampak ingin sekali meninggalkan rumah, mereka lebih sering memilih aktivitas- aktivitas bersama kelompok sebaya dibandingkan dengan keluarganya (Wong, 2009). Hal ini juga dikemukakan oleh Thoist (1986), dikutip oleh Al-Aziz (2009),    dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan yang berarti bagi individu seperti keluarga, saudara,  teman dekat, pasangan hidup, rekan kerja,  maupun tetanga.
Teman sebaya menurut Kail dan Reilson dalam Rohani, (1999), di kutip oleh Al-Aziz (2009), merupakan sumber dukungan sosial karena dapat memberikan rasa senang dan dukungan selama mengalami suatu permasalahan. Bergaul dengan teman sebaya merupakan bantuan dari seseorang yang kemudian diberikan kepada orang lain yang berusia kurang lebih sama, dimana dukungan tersebut bertujuan memberikan motifasi atau menimbulkan minat dalam diri seseorang ketika melakukan kegiatan. Dukungan sosial diperoleh dari teman atau persahabatan. Teman memiliki peran yang sangat penting, mereka harus memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih pada sesamanya (Widiastuti, 2004).
Seorang teman yang baik merupakan anugerah Allah SWT yang paling agung, dalam kesengsaraan hidup, hanya temanlah yang menjadi tempat berlindung bagi seseorang sekaligus sebagai pelipur lara hati dan jiwanya. Di dunia yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan ini, keberadaan seorang teman sangatlah dibutuhkan  oleh setiap individu. Anak  yang tidak mempunyai teman, maka ia akan tumbuh menjadi sosok yang selalu menyendiri dan tumbuh kembangnya akan sedikit terganggu, tidak ada satu orangpun yang menunjukkan rasa simpati padanya disaat- saat ia membutuhkannya (Amini, 2006, p.265).
1.    Hubungan dengan teman sebaya
Hubungan dengan teman sebaya sebagai bentuk untuk memperoleh dukungan, memiliki arti penting bagi terciptanya dukungan dari teman sebaya, diantaranya dimilikinya perhatian atau minat yang bervariasi dan tetap, pencarian status dalam pergaulan dengan teman sebayanya, adanya suatu keinginan untuk mengidentifikasikan diri dengan kelompoknya, kemauanya menerima berbagai macam kegiatan dalam berbagai kesempatan untuk hubungan sosial (Al- aziz dalam Soelaeman, 1995).
Teman atau sahabat adalah sosok teramat penting dalam proses perkembangan kepribadian seseorang. Masa kecil kita dipenuhi keceriaan dengan adanya sahabat, meski terkadang ada sedikit pertikaian /pertengkaran antar teman, namun itu merupakan sebuah proses pendewasaan (Maman, 2009).
Selama tahap primer (6-7 tahun) anak laki- laki dan perempuan bermain bersama, bergantung pada siapa yang bersedia dan mereka sukai. Sekitar usia 8 tahun, kelompok sosial dengan kawan sebaya berjenis kelamin sama mulai terbentuk, hal ini membuat anak menyatakan dari kemand irian mereka dari orang tua. Persahabtan dikarakterisasikan dengan memilki teman yang jenis kelaminnya sama. Hubungan ini mungkin bersifat sementara, tetapi hubungan mereka sangat erat dan tercipta  diskusi yang mencakup seluruh kehidupannya (Perry & Potter, 2005, p.680).
Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat suatu grup/ kelompok. Anak tidak lagi puas bermain sendirian dirumah, hal ini karena anak mempunyai keinginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.
Wong (2009, p.564) mengatakan bahwa hubungan dengan teman sebaya dalam kehidupana  sehari- hari memberikan interaksi sosial paling penting untuk anak usia sekolah. Pengalaman berharga dipelajari dari interaksi sehari hari  dengan teman sebaya:
a.       Anak belajar menghargai berbagai perbedaan sudut pandang yang ditunjukkan dalam kelompok teman sebaya.
b.      Anak bertambah sensitif terhadap norma sosial dan tekanan dari kelompok teman sebaya. Kelompok teman sebaya menetapkan standart untuk menerima dan menolak, dan anak- anak mungkin ingin memodifikasi prilaku mereka agar dapat diterima dalam kelompok. Kebutuhan untuk diterima teman sebaya menjadi pengaruh kuat untuk penyesuaian.
c.       Interaksi diantara teman sebaya berperan penting dalam pembentukan hubungan persahabatan dengan teman sesama jenis. Periode usia sekolah adalah waktu ketika anak memiliki “sahabat” yaitu teman tempat berbagi rahasia, lelucon pribadi, dan petualangan, mereka saling membantu jika temannya menghadapi masalah.

2.    Budaya kelompok sebaya
Identifikasi dengan teman sebaya memberikan pengaruh yang kuat bagi anak untuk memperoleh kemandirian. Bantuan dan dukungan kelompok sebaya  memberi anak keamanan yang cukup untuk menghadapi berbagai resiko. Kelompok sebaya juga mempunyai dampak pada sosialisasi anak, hubungan sebaya  akan semakin penting dan pengaruh anak masuk sekolah. Di sekolah, anak memiliki apa yang dapat dianggap sebagai budaya mereka sendiri. Ini paling tampak pada anak sekolah dan dalam kelompok bermain yang tidak diawasi (Wong, 2009, p.74 ).
Bentuk sosialisasi yang diberikan oleh kelompok sebaya bergantung pada sub budaya yang tercipta dari latar belakang, minat dan kemampuan dari anggotanya. Meskipu tidak memiliki otoritas tradisional, orang tua dan otoritas hukum seperti sekolah untuk memberikan informasi pengajaran, kelompok sebaya menyampaikan sejumlah informasi kepada anggotanya (Wong, 2009, p.74)
Melalui hubungan sebaya, anak belajar  bagaimana cara menghadapi dominasi dan permusuhan serta berhubungan dengan orang dalam posisi kepemimpinan. Sub-budaya sebaya menghilangkan kebosanan dan memberikan pemahaman yang tidak didapat oleh anggota kelompok sebaya dari orang tua, guru dan figur otoritas lain. Pada anak usia sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap prilaku semua anggota kelompok (Wong, 2009, p.75)
Anak usia sekolah telah meninggalkan kenyamanan rumah dan memasuki sistem keluarga, seorang anak sudah mulai membangun suatu hubungan dengan anak yang lainnya. Karakteristik anak usia sekolah adalah suka berkelompok dengan teman sebaya sesuai dengan jenis kelaminnya, anak sekolah juga masih senang bermain- main dengan kelompok seusiannya. sehinggga anak merasa cemas pada saat dirawat di rumah sakit karena merasa kehilangan kelompok sosialnya dan takut dengan lingkungan rumah sakit (Ngastiyah, 2005)
Dirumah sakit anak akan lebih berespon terhadap perpisahan dengan teman sebayanya dari pada berpisah dengan orang tuanya. Memberikan kesempatan pada anak untuk berkomunikasi dengan teman sekolahnya merupakan hal yang terpenting, sebagai contoh, mereka dapat dibantu untuk menulis surat atau menelfon teman- temannya, jika memungkinkan teman- temannya dapat mengunjunginya ke rumah sakit (Hegner & Caldwell, 2003, p.643).
Sementara menurut Wong dkk (2009, p.756), anak- anak usia yang mengalami hospitalisasi sekolah lebih bereaksi terhadap perpisahan dengan aktivitas teman sebayanya dari pada ketidakhadiran orang tua. Anak usia sekolah memiliki aktivitas fisik dan mental yang tinggi yang tidak didapatkan  atau tidak sesuai dengan lingkungan rumah sakit walaupun mereka tidak menyukai sekolah, namun mereka mengakui akan kehilangan rutinitas dan merasa khawatir karena tidak mampu untuk berkompetisi atau menyesuaikan diri dengan teman- teman sekelasnya.

C.      Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah adalah anak usia sekolah dasar yang kira- kira berusia 6- 12 tahun. Pada umumnya, usia sekolah merupakan suatu masa dimana kesehatan luar biasa baiknya, lebih kuat dan rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan anak yang usianya lebih muda. Pada usia sekolah mereka sudah hampir mengalami semua penyakit pada masa kanak- kanaknya dan telah diimunisasi untuk melawan sisanya (Hegner & caldwell, 2003, p.642).
Anak usia sekolah harus memenuhi tantangan perkembangan ketrampilan kognitif yang dapat meningkatkan pemikirannya dan memungkinkan mereka untuk belajar, menulis, dan memanipulasi angka. Sekolah atau pengalaman pendidikan memperluas dunia anak dan merupakan masa transisi dari kehidupan yang secara relatif bebas bermain ke kehidupan dengan bermain, belajar dan bekerja yang terstruktur (Perry & Potter, 2005, p.679).
Peningkatan aktivitas fisik dan sosial merupakan ciri- ciri dari anak usia sekolah. Hospitalisasi biasanya tidak cukup memberikan hiburan untuk anak- anak usia sekolah, anak usia sekolah juga akan merindukan teman serta aktivitas- aktivitas di sekolah, walaupun sering mereka menyangkalnya (Hagner & Caldwell, 2003, p.643).
Sekolah dan rumah mempengaruhi  pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan penyesuaian antara orang tua dan anak. Anak harus belajar menghadapi peraturan dan harapan yang dituntut oleh sekolah dan teman sebaya. Ketika anak usia sekolah sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit akan menimbulkan rasa cemas dan takut, karena mereka harus berpisah dengan keluarga dan teman sebaya/ kelompok sosialnya (Perry & Potter, 2005, p.679).

1.      Stressor pada anak usia sekolah
Sakit dan dirawat di rumah sakit pada anak usia sekolah menyebabkan kecemasan, karena tidak bisa masuk ke sekolah, cemas kehilangan kelompok sosialnya, cemas kehilangan orang tua dan takut terhadap lingkungan yang asing. Upaya untuk mencegah/ meminimalkan dampak perpisahan dengan cara; melibatkan orang  tua berperan aktif dalam perawatan anak, memodifikasi ruang perawatan, surat- menyurat dengan sekolah dan bertemu teman sekolah (Mahyuddin, 2008).
Menurut Nursalam, dkk (2005, p.17) sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Jika seorang anak dirawat di rumah sakit, maka anak tersebut akan mudah mengalami krisis karena anak mengalami strest akibat perubahan, baik terhadap status kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari- hari, serta anak mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah maupun kejadian- kejadian yang bersifat menekan.
a.      Separation / perpisahan
Dengan semakin meningkatnya usia anak, anak mulai memahami mengapa perpisahan terjadi, anak mulai mentolerir perpisahan dengan orang tua yang berlangsung lama, perpisahan dengan teman sekolah dan guru merupakan hal yang berarti bagi anak sehingga dapat mengakibatkan anak menjadi cemas.
b.      Kehilangan fungsi kontrol
Reaksi kehilangan kontrol anak merasa takut dan khawatir serta mengalami kelemahan fisik, reaksi terhadap perlukaan tubuh dan nyeri dengan menggigit bibir dan memegang sesuatu (Wong, 2000). Bagi anak usia sekolah merupakan  ancaman akan harga diri mereka sehingga sering membuat anak frustasi, marah dan depresi, dengan adanya kehilangan fungsi dan control anak merasa bahwa inisiatif mereka terhambat.
Kekhawatiran utama bagi anak usia sekolah pada saat dihospitalisasi adalah ketakutan mereka akan perkataan bahwa ada sesuatau yang “salah” dengan mereka. Biasanya anak usia sekolah sangat berminat secara aktif terhadap kesehatan atau penyakit mereka, bahkan anak- anak anak sering mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan pengetahuan yang detail tentang kondisi mereka dengan mendengarkan penuh perhatian apa yang dikatakan oleh orang disekelilingnya. Mereka meminta informasi yang faktual dan sangat  mudah  menerima kebohongan dan kebenaran (Wong dkk, 2009, p.761 ).
D.      Hospitalisasi
Hospitalisasi adalah keadaan krisis pada anak saat sakit da dirawat di rumah sakit, sehingga anak harus beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Penyakit dan hospitalisasi sering sekali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Anak,  terutama pada saat- saat awal sangat rentan terhadap krisis dan hospitalisasi karena sresst akibat perubahan dari keadaan sehat ke sakit dan perbahan rutinitas yang biasa dilakukan dilingkungannya serta anak memiliki jumlah mekanisme koping yang sangat terbatas untuk menyelesaikan stresor (Wong dkk, 2009, p.754).
Hospitalisasi adalah suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.  Berbagai perasaan yang muncul pada anak yaitu: cemas, marah, sedih takut dan rasa bersalah. Perasaan itu timbul karena menghadapi sesuatu yg baru dan belum pernah dialami sebelumnya (Reza, 2010).
Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebut dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti;  Lingkungan yang asing, berpisah dengan orang yang berarti, kurang informasi, kehilangan kebebasan dan kemandirian, pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan , semakin sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau malah sebaliknya dan prilaku petugas rumah sakit (Jovan, 2007).
Untuk anak- anak, hospitalisasi dan penyakit merupakan suatu pengalaman yang penuh dengan tekanan, terutama karena perpisahan dengan lingkungan dimana berpisah dengan dengan orang yang berarti, seleksi prilaku koping yang terbatas dan perubahan status kesehatan (Perry & Potter, 2005, p. 665).
Menurut Wong dkk (2009, p.  ), upaya yang dapat dilakukan untuk membantu anak dalam mempertahankan kontak dengan teman- temannya, biasanya dapat meminimalkan efek perpisahan yang timbul akibat hospitalisasi. Hal ini mencakup melanjutkan pelajaran sekolah selama sakit dan terisolasi, dikunjungi oleh teman- temannya secara langsung maupun secara tertulis, melalui surat- menyurat atau melalui telefon dan ikut berpartisipasi dalam kelompok teman sebaya jika memungkinkan.

1.      Reaksi anak usia sekolah terhadap hospitalisasi
Pada umumnya reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh dan rasa nyeri. Pada masa sekolah (6-12 tahun) hospitalisasi dipersepsikan sebagai tempat perawatan yang memaksa untuk meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok sosialnya, sehingga dapat menimbulkan kecemasan (Jovan, 2007).
Selain lingkungan rumah sakit, penyakit yang dapat menimbulkan  kecemasan pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi juga dapat disebabkan oleh perasaan kehilangan kendali , yang merupakan salah satu masalah yang paling signifikan dari anak- anak dalam usia ini, yang berpusat pada kebosanan. Jika keterbatasan fisik dapat menghalangi kemampuan mereka untuk merawat diri sendiri atau untuk terlibat dalam aktivitas yang disukainya, maka anak usia sekolah biasanya akan berespon dengan depresi, bermusuhan atau frustasi (Wong dkk, 2009, p.758).
Reaksi hospitalisasi pada anak bersifat individual dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhdap proses sakit dan dirawat, sistem pendukung (support system) yang tersedia  dan kemampuan koping yang dimiliki anak (Nursalam, Susilaningrum & Utami, 2005, p. 17).
Sementara menurut  Wong (1995) dalam Perry & Potter (2005, p.666) reaksi anak terhadap penyakit dan hospitalisasi didasarkan pada usia perkembangan, pengalaman sebelumnya dengan hospitalisasi, tersedianya orang yang mendukung, ketrampilan koping serta keseriusan dari penyakit yang diderita.
Sekitar 5%  anak di Amerika Serikat mengalami dirawat di rumah Sakit setiap tahunnya. Hampir secara universal rumah sakit dapat menyebabkan stress bagi anak yang dirawat, karena ada berbagai faktor yang berkaitan seperti, stres perpisahan, perubahan rutinitas, kondisi yang yang tidak familiar dengan orang dan lingkungan sekitar, ketakutan serta rasa nyeri yang berkaitan dengan keadaan sakit dan pengobatan. Penting untuk meminimalkan dampak hospitalisasi dengan memanfaatkan perawatan berbasis rumah  serta untuk membatasi pengunaan prosedur invasif yang merupakan tujuan utama dari perawatan pediatrik (Rudolph, Hoffman & Rudolph, 2006, p.128).
Kecemasan karena perpisahan, kehilangan kontrol, ketakutan tentang tubuhnya yang disakiti dan nyeri merupakan penyebab utama dari reaksi prilaku dari anak- anak yang mengalami hospitalisasi (Perry & Potter, 2005, p.666).  Sedangkan menurut Hegner & Caldwell (2003, p.643), perasaan takut atau stress yang berkaitan dengan penyakit dan dampak lanjut dari hospitalisasi adalah perasaan kehilangan kendali pada anak usia sekolah.
Sementara menurut Wong (2009, p.756), Salah satu yang mempengaruhi jumlah stress akibat hospitalisasi adalah jumlah kendali yang dirasakan oleh seseorang. Kurangnya kendali akan meningkatkan persepsi ancaman dan dapat mempengaruhi ketrampilan koping bagi anak- anak, situasi rumah sakit dapat menurunkan jumlah kendali yang dirasakan anak. Kebutuhan anak sangat bervariasi yang tergantung pada usia mereka, maka area utam mengenai kehilangan kendali dalm hal pembatasan fisik, perubahan rutinitas dan ketergantungan.

2.      Manfaat hospitalisasi
Meskipun hospitalisasi dapat dan biasanya menimbulkan kecemasan bagi anak, tetapi hospitalisasi juga dapat bermanfaat. Manfaat yang paling nyata adalah pulih dari sakit, tetapi hospitalisasi juga dapat memberi kesempatan pada anak- anak untuk mengatasi stress dan merasa kompeten dalam kemampuan koping mereka, selain itu lingkungan rumah sakit juga dapat memberikan pengalaman sosialisasi yang baru bagi anak yang dapat memperluas hubungan interpersonal mereka (Wong dkk, 2009, p.764)
Menurut Nursalam dkk (2005, p.), mamfaat dari hospitalisasi adalah untuk memfasilitasi perubahan kearah positif, yaitu:
a. Membantu perkembangan hubungan orang tua- anak
Hospitalisasi memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar mengenai pertumbunhan dan perkembangan anak. Jika orang tua mengetahui reaksi anak terhadap stress, seperti agresif dan regresi, maka mereka akan memberikan suatu dukungan, hal tersebut akan memperluas pandangan orang tua dalam merawat anak yang sakit
b. Memberikan kesempatan untuk pendidikan
Hospitalisasi memberika kesempatan pada anak dan keluarga untuk belajar mengenai tubuh dan profesi kesehatan
c. Meningkatkan pengendalian diri
Pengalaman dan krisis seperti penyakit atau hospitalisasi akan memberi kesempatan untuk mengendalikan diri.
d. Memberikan kesempatan untuk sosialisasi
Jika anak dirawat dalam satu ruangan usia sebayanya, maka hal tersebut akan membantu anak untuk belajar mengenai diri mereka.
Sedangkan menurut Hegner & Caldwell (2003, p.642), reaksi anak usia sekolah terhadap hospitalisasi sangat berbeda dari anak- anak yang lebih muda, anak usia sekolah lebih mampu mengatasi stress karean penyakit dan hospitalisasi. Hospitalisasi pada anak usia sekolah dapat memberikan kesemapatan kepadanya, untuk :
a.    Mengeksplorasi lingkungan yang baru
b.    Bertemu dengan teman- teman baru
c.    Mempelajari lebih banyak tentang tubuhnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar