Selasa, 13 Januari 2015

skripsi tentang Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan istirahat tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Setiap orang dengan latar belakang yang beragam memiliki kebutuhan dan kebiasaan tidur yang berbeda-beda. (Mott, James, & Sperhae, 1990). Demikian pula halnya dengan anak usiaprasekolah. Anak-anak usia ini masih memerlukan waktu tidur yang rutin. Namun pada usia ini anak jarang tidur siang dan sering terbangun di malam hari karena kegiatan fisik disiang hari meningkat seperti bermain. Orang tua dapat membantu anak-anaknya dengan mengingatkan waktu tidur, menggunakan pendekatan dan dilakukan secara terus menerus secara konsisten (Rudolph, 2006).
 Mengenai kapan anak tidur tergantung pada umur, keadaan kesehatan, kegiatan sehari, dan bagaimana keadaan anak. Ketika anak mengalami perawatan di rumah sakit, anak membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup, karena tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan. Kebutuhan tidur anak usia prasekolah adalah 11 jam/ hari dengan atau tanpa tidur siang. Pada anak-anak, tidur berdampak positif terhadap kesehatan fisik, mental, emosi, serta sistem kekebalan tubuh. Lebih penting lagi, tidur merupakan salah satu rangsang bagi tumbuh kembang otak di samping sebagai upaya pendidikan (pembelajaran) dan pemenuhan gizi (Hidayat, 2006).
Anak yang mengalami kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat dinilai atau diidentifikasi dari kondisi fisik ataupun psikologis anak. Menurut Kozier, Erb, Blais & Wilkinson (1995), untuk menilai masalah tidur dapat dilihat dari penampilan wajah, tingkah laku dan tingkat energi. Adanya lingkaran hitam di sekeliling mata, konjungtiva yang merah dan kantung mata yang bengkak merupakan indikasi tidur yang tidak cukup. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada tingkat kooperatif anak terhadap tindakan keperawatan ataupun pengobatanselama anak mengalami hospitalisasi (Kozier, 1995).
Hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan (Supartini, 2004). Penyakit dan hospitalisasi menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Kecemasan karena perpisahan, kehilangan control, ketakutan tubuh disakiti merupakan penyebab utama reaksi perilaku dari anak yang mengalami hospitalisasi. Usia menunjukkan manifestasi khusus, anak prasekolah sering menunjukkan perilaku seperti menangisi orang tua, tidak mau bekerja sama dengan perawat, menolak makan, dan kemunduran eliminasi merupakan reaksi terhadap gangguan pencapaian tugas perkembangan yang dicapai anak prasekolah (Wong, 2009) .
Selama mengalami hospitalisasi anak harus beradaptasi terhadap lingkungan yang asing seperti aktivitas rumah sakit, petugas rumah sakit, perubahan rutinitas, dan ketergantungan yang harus dipatuhi yaitu tindakan keperawatan pengobatan (Supartini, 2004).
Beberapa tindakan keperawatan rutin yang diterima anak selama hospitalisasi adalah tindakan injeksi, pemasangan infuse, harus minum obat yang rasanya tidak enak, serta harus menjalani prosedur invasive (Wong, 2009). Tindakan lain seperti, pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok, dipaksa untuk berbaring, menjadi subjek untuk prosedur yang tidak diketahui seperti sinar x, elektrokardiogram,  elektroensefalogram, serta harus menggunakan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan seperti, kebutuhan nutrisi, respirasi dan lain-lain (Rudolph, 2006).
Tindakan tersebut sangat membuat anak merasa tidak nyaman, apalagi ada tindakan keperawatan yang dilakukan pada malam hari yang dapat menganggu waktu tidur anak. Usaha pasien dalam memenuhi kebutuhan tidurnya kurang menjadi fokus perhatian perawat, selama ini perawat hanya fokus pada respon fisik yang muncul akibat penyakit yang diderita pasien. Terpenuhi tidaknya kebutuhan tidur pasien merupakan suatu yang bersifat subjektif, sulit dinilai sehingga perlu pendekatan yang baik (Wong, 2004).
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan keperawatan pada anak. Berdasarkan hasil wawancara penulis pada 6 orang tua anak yang dirawat di Ruang Serune I, di peroleh bahwa anak merasa takut dan terasa sakit saat diberikan tindakan medis seperti pemberian obat melalui injeksi, pemasangan infus, pemasangan oksigen serta mengganti balutan yang dapat mengganggu waktu tidur mereka. Dan orang tua anak juga mengatakan bahwa anaknya sering meminta makanan dan minuman saat tengah malam sehingga butuh waktu lagi untuk membuat mereka tertidur.
Salah satu penelitian tindakan keperawatan yang mempengaruhi tidur yang telah dilakukanoleh Huth,1999  menunjukkan bahwa pemberian injeksi merupakan salah satu prosedur yang paling ditakuti. Karena injeksi menyakitkan perawat harus melakukan teknik injeksi yang sempurna dan tindakan pereda nyeri yang efektif untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Jika obat diberikan selama 24 jam, perawat tidak boleh mencoba memberikan injeksi pada anak yang sedang tidur sekalipun terlihat lebih mudah jika dibandingkan dengan anak kecil yang tidak tidur. Hal ini dapat menyebabkan anak takut tidur, jika anak dibangunkan terlebih dahulu ia akan mengetahui bahwa tidak akan ada yang terjadi kecuali jika ia diberitahu terlebih dahulu (Wong,2008).
Menurut Evans dan French (1995),  fungsi tidur adalah berhubungan dengan penyembuhan, memperoleh kualitas tidur yang baik  penting untuk peningkatan kesehatan yang baik dan pemulihan klien yang sakit, karena tidur diyakini dapat memberikan pemulihan fisiologis dan psikologis. Salah satu intervensi yang harus dilakukan pada anak yang dirawat inap adalah menetapkan periode untuk tidur dan istirahat tanpa gangguan (Potter & Perry, 2006)
Mengingat tidur yang baik sangat berhubungan dengan penyembuhan maka peneliti tertarik untuk membuat sebuah penelitian mengenai “ Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  di atas maka yang menjadi permasalahan penelitian adalah  “Adakah Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui hubungan tindakan keperawatan dengan Waktu tidur anak usia prasekolah di Ruang Seureune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian obat secara injeksi dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
b.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemasangan infus dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
c.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian O2 dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
d.   Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian makanan dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
e.    Untuk mengidentifikasi hubungan pemberian minuman dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan hasil berupa “Hubungan Tindakan Keperawatan dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Serune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel AbidinBanda Aceh, sehingga dapat memberikan manfaat bagi:
a.       Peneliti
Sebagai bahan kajian ilmuwan untuk menambah wawasan tentang waktu tidur pada pasien anak dan sebagai bahan dalam proses pembelajaran penyusunan skripsi.
b.      Institusi Rumah Sakit
Sebagai masukan kepada pihak pengelola Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin dalam memberikan pelayanan dan pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.


c.       Tenaga Keperawatan
Sebagai masukan bagi perawat untuk melakukan praktek keperawatan professional dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya dalam memenuhi kebutuhan waktupada pasien anak.
d.      Instansi Pendidikan Keperawatan
Sebagai informasi bagi pendidikan keperawatan, sehingga dapat memotivasi instansi pendidikan keperawatan untuk menciptakan lulusan perawat yang siap mengimplementasikan praktek keperawatan professional khususnya dalam keperawatan anak.
e.       Penelitian Keperawatan
Sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya dan bahan pertimbangan bagi yang berkepentingan untuk melanjutkan penelitian dalam ruang lingkup yang sama dan sebagai tambahan dalam teori keperawatan anak.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anak Usia Prasekolah
Anak adalah usia individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, dimana dapat memfalisitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, 2004). Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja Masa prasekolah yaitu usia 3 sampai 6 tahun, dimana pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kilogram dan tinggi badan bertambah rata-rata 6,75  sampai 7,5 centimeter setiap tahunnya (Hidayat, 2005). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar