BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan
istirahat tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus
dipenuhi. Setiap orang dengan latar belakang yang beragam memiliki kebutuhan
dan kebiasaan tidur yang berbeda-beda. (Mott, James, & Sperhae, 1990).
Demikian pula halnya dengan anak usiaprasekolah. Anak-anak usia ini masih
memerlukan waktu tidur yang rutin. Namun pada usia ini anak jarang tidur siang
dan sering terbangun di malam hari karena kegiatan fisik disiang hari meningkat
seperti bermain. Orang tua dapat membantu anak-anaknya dengan mengingatkan
waktu tidur, menggunakan pendekatan dan dilakukan secara terus menerus secara
konsisten (Rudolph, 2006).
Mengenai kapan anak tidur tergantung pada
umur, keadaan kesehatan, kegiatan sehari, dan bagaimana keadaan anak. Ketika
anak mengalami perawatan di rumah sakit, anak membutuhkan istirahat dan tidur
yang cukup, karena tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental,
emosional dan kesehatan. Kebutuhan tidur anak usia prasekolah adalah 11 jam/
hari dengan atau tanpa tidur siang. Pada anak-anak, tidur berdampak positif
terhadap kesehatan fisik, mental, emosi, serta sistem kekebalan tubuh. Lebih
penting lagi, tidur merupakan salah satu rangsang bagi tumbuh kembang otak di
samping sebagai upaya pendidikan (pembelajaran) dan pemenuhan gizi (Hidayat,
2006).
Anak
yang mengalami kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat
dinilai atau diidentifikasi dari kondisi fisik ataupun psikologis anak. Menurut
Kozier, Erb, Blais & Wilkinson (1995), untuk menilai masalah tidur dapat
dilihat dari penampilan wajah, tingkah laku dan tingkat energi. Adanya
lingkaran hitam di sekeliling mata, konjungtiva yang merah dan kantung mata
yang bengkak merupakan indikasi tidur yang tidak cukup. Hal ini tentu saja akan
berpengaruh pada tingkat kooperatif anak terhadap tindakan keperawatan ataupun
pengobatanselama anak mengalami hospitalisasi (Kozier, 1995).
Hospitalisasi merupakan
suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk
tetap tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan (Supartini,
2004). Penyakit dan hospitalisasi menjadi krisis pertama yang harus dihadapi
anak. Kecemasan karena perpisahan, kehilangan control, ketakutan tubuh disakiti
merupakan penyebab utama reaksi perilaku dari anak yang mengalami hospitalisasi.
Usia menunjukkan manifestasi khusus, anak prasekolah sering menunjukkan
perilaku seperti menangisi orang tua, tidak mau bekerja sama dengan perawat,
menolak makan, dan kemunduran eliminasi merupakan reaksi terhadap gangguan
pencapaian tugas perkembangan yang dicapai anak prasekolah (Wong, 2009) .
Selama mengalami
hospitalisasi anak harus beradaptasi terhadap lingkungan yang asing seperti
aktivitas rumah sakit, petugas rumah sakit, perubahan rutinitas, dan
ketergantungan yang harus dipatuhi yaitu tindakan keperawatan pengobatan
(Supartini, 2004).
Beberapa tindakan
keperawatan rutin yang diterima anak selama hospitalisasi adalah tindakan
injeksi, pemasangan infuse, harus minum obat yang rasanya tidak enak, serta
harus menjalani prosedur invasive (Wong, 2009). Tindakan lain seperti, pemeriksaan
telinga, hidung, dan tenggorok, dipaksa untuk berbaring, menjadi subjek untuk
prosedur yang tidak diketahui seperti sinar x, elektrokardiogram, elektroensefalogram, serta harus menggunakan
alat bantu untuk memenuhi kebutuhan seperti, kebutuhan nutrisi, respirasi dan
lain-lain (Rudolph, 2006).
Tindakan tersebut
sangat membuat anak merasa tidak nyaman, apalagi ada tindakan keperawatan yang
dilakukan pada malam hari yang dapat menganggu waktu tidur anak. Usaha pasien
dalam memenuhi kebutuhan tidurnya kurang menjadi fokus perhatian perawat,
selama ini perawat hanya fokus pada respon fisik yang muncul akibat penyakit
yang diderita pasien. Terpenuhi tidaknya kebutuhan tidur pasien merupakan suatu
yang bersifat subjektif, sulit dinilai sehingga perlu pendekatan yang baik (Wong,
2004).
Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan
pelayanan keperawatan pada anak. Berdasarkan hasil wawancara penulis pada 6
orang tua anak yang dirawat di Ruang Serune I, di peroleh bahwa anak merasa
takut dan terasa sakit saat diberikan tindakan medis seperti pemberian obat melalui
injeksi, pemasangan infus, pemasangan oksigen serta mengganti balutan yang
dapat mengganggu waktu tidur mereka. Dan orang tua anak juga mengatakan bahwa
anaknya sering meminta makanan dan minuman saat tengah malam sehingga butuh
waktu lagi untuk membuat mereka tertidur.
Salah satu penelitian
tindakan keperawatan yang mempengaruhi tidur yang telah dilakukanoleh
Huth,1999 menunjukkan bahwa pemberian
injeksi merupakan salah satu prosedur yang paling ditakuti. Karena injeksi
menyakitkan perawat harus melakukan teknik injeksi yang sempurna dan tindakan
pereda nyeri yang efektif untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Jika obat
diberikan selama 24 jam, perawat tidak boleh mencoba memberikan injeksi pada
anak yang sedang tidur sekalipun terlihat lebih mudah jika dibandingkan dengan anak
kecil yang tidak tidur. Hal ini dapat menyebabkan anak takut tidur, jika anak
dibangunkan terlebih dahulu ia akan mengetahui bahwa tidak akan ada yang
terjadi kecuali jika ia diberitahu terlebih dahulu (Wong,2008).
Menurut Evans dan French (1995), fungsi tidur adalah berhubungan dengan
penyembuhan, memperoleh kualitas tidur yang baik penting untuk peningkatan kesehatan yang baik
dan pemulihan klien yang sakit, karena tidur diyakini dapat memberikan
pemulihan fisiologis dan psikologis. Salah satu intervensi yang harus dilakukan
pada anak yang dirawat inap adalah menetapkan periode untuk tidur dan istirahat
tanpa gangguan (Potter & Perry, 2006)
Mengingat tidur yang baik sangat
berhubungan dengan penyembuhan maka peneliti tertarik untuk membuat sebuah penelitian
mengenai “ Hubungan Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia
Prasekolah Di Ruang Seurune I Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh
Tahun 2011.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan
penelitian adalah “Adakah Hubungan
Tindakan Keperawatan Dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang Seureune
I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.
C. Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui
hubungan tindakan keperawatan dengan Waktu tidur anak usia prasekolah di Ruang Seureune
I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi hubungan
pemberian obat secara injeksi dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune
I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
b. Untuk mengidentifikasi hubungan
pemasangan infus dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
c. Untuk mengidentifikasi hubungan
pemberian O2 dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune
I Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
d. Untuk mengidentifikasi hubungan
pemberian makanan dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
e. Untuk mengidentifikasi hubungan
pemberian minuman dengan waktu tidur anak usia prasekolah di ruang Seurune I
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan hasil berupa
“Hubungan Tindakan Keperawatan dengan Waktu Tidur Anak Usia Prasekolah Di Ruang
Serune I Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel AbidinBanda Aceh, sehingga dapat
memberikan manfaat bagi:
a.
Peneliti
Sebagai
bahan kajian ilmuwan untuk menambah wawasan tentang waktu tidur pada pasien
anak dan sebagai bahan dalam proses pembelajaran penyusunan skripsi.
b.
Institusi Rumah Sakit
Sebagai masukan kepada pihak
pengelola Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin dalam memberikan pelayanan
dan pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
c.
Tenaga Keperawatan
Sebagai masukan bagi perawat untuk melakukan praktek
keperawatan professional dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan
khususnya dalam memenuhi kebutuhan waktupada pasien anak.
d.
Instansi Pendidikan Keperawatan
Sebagai informasi bagi pendidikan keperawatan,
sehingga dapat memotivasi instansi pendidikan keperawatan untuk menciptakan
lulusan perawat yang siap mengimplementasikan praktek keperawatan professional
khususnya dalam keperawatan anak.
e. Penelitian
Keperawatan
Sebagai referensi dalam penelitian
selanjutnya dan bahan pertimbangan bagi yang berkepentingan untuk melanjutkan
penelitian dalam ruang lingkup yang sama dan sebagai tambahan dalam teori
keperawatan anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anak Usia Prasekolah
Anak adalah usia
individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, dimana
dapat memfalisitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri
(Supartini, 2004). Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja Masa prasekolah
yaitu usia 3 sampai 6 tahun, dimana pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami
kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2 kilogram dan tinggi badan bertambah
rata-rata 6,75 sampai 7,5 centimeter
setiap tahunnya (Hidayat, 2005).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar