BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang.
Konsep
diri didefinisikan sebagai semua pikiran, kenyakinan dan kepercayaan yang
membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan
orang lain. termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan. nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman
dan objek, tujuan serta keinginannya. Konsep diri memberikan rasa kontinuitas,
keutuhan dan konsistensi pada seseorang. Konsep diri yang sehat mempunyai kestabilan
yang tinggi dan membangkitkann perasaan positif atau negatif pada diri sendiri
(Stuart & Sundeen, 1998).
Menurut
Stuart dan Sundeen (1998), komponen konsep diri terdiri dari; citra tubuh,
ideal diri, harga diri, penampilan peran dan identitas personal. Citra tubuh
adalah kumpulan sikap individu yang disadari terhadap tubuhnya termasuk
persepsi masa lalu dan sekarang serta perasaan tentang ukuran, fungsi,
penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasikan dengan
persepsi dan pengalaman yang baru. Ideal diri adalah persepsi individu tentang
bagaimana dia seharusnya berperilaku berdasarka standar, aspirasi, tujuan atau
nilai personal tertentu. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai
interpersonal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku yang
diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dengan
kelompok sosial. Identitas personal adalah
pengorganisasian
prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan,
keseimbangan, kosistensi dan komunikasi individu.
Perry
dan Potter (2005), mengatakan bahwa kita mulai membentuk konsep d iri saat usia
muda. Jika seseorang anak mempunyai masa kanak-kanak yang aman dan stabil, maka
konsep diri masa remaja anak tersebut secara mengejutkan akan sangat stabil.
Ketidaksesuaian antara aspek tertentu dari kepribadian dan konsep diri dapat
menjadi sumber stres atau konflik.
Konsep
diri pada pasien dapat terganggu karena fraktur. Fraktur merupakan terputusnya
kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Cacat fisik
merupakan keadaan tubuh yang kurang atau tidak normal. Stressor fisik yang
dapat mencetuskan masalah konsep diri antara lain hilangnya bagian tubuh dan
perubahan struktur fungsi tubuh. Perubahan bentuk tubuh dan fungsi tubuh yang
sementara menurun akibat operasi fraktur dapat mempengaruhi konsep diri pasien
tersebut. (Kasan, 2009).
Fraktur
kebanyakan disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki dari pada orang
perempuan dengan perbandingan 3:1. Fraktur disebabkan karena sering berhubungan
dengan olah raga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kendaraan bermotor.
(Smeltzer & Bare, 2002).
Tingginya
angka kecelakaan menyebabkan angka kejadian atau insiden fraktur tinggi dan
salah satu fraktur yang paling sering terjadi adalah fraktur femur yang
termasuk daam kelompok tiga besar kasus fraktur yang disebabkan karena benturan
dengan tenaga yang tinggi atau kuat seperti kecelakaan sepeda
motor atau mobil.
Insiden fraktur di USA diperkirakan menimpa satu orang pada setiap 10.000
populasi setiap tahunnya (Armis, 2002). Sedangkan di Indonesia dari data yang
dikumpulkan oleh Unit Pelaksana Teknis Makmal Terpadu Imunoendokrinologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pada tahun 2006 dari 1960
kasus kecelakaan lalu lintas, ternyata yang mengalami fraktur 249 kasus atau
14,7% (M. Judha, 2009).
Dari
pengamatan awal yang peneliti dapatkan bahwa jumlah pasien fraktur di Ruang
Jeumpa dalam setahun dari bulan Mei 2010 sampai dengan April 2011 didapatkan
sebanyak 972 pasien, dengan rata-rata perbulan 81 pasien.
Dari
hasil wawancara sementara dengan 10 pasien fraktur diruang jeumpa didapatkan
bahwa dari 10 pasien fraktur, 7 orang pasien fraktur mengalami gangguan konsep
diri. Dimana pasien fraktur menganggap dirinya tidak berguna lagi, merasa malu
dengan kondisinya sekarang.
Berdasarkan
fenomena-fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Gambaran Konsep Diri
Pasien Fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel
Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.
B.
Perumusan
Masalah.
Berdasarkan
latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini
adalah bagaimana gambaran konsep diri pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
C.
Tujuan
Penelitian.
1.
Tujuan
Umum.
Untuk mengetahui
gambaran konsep diri pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2.
Tujuan
Khusus.
a. Untuk
mengetahui gambaran citra tubuh pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
b. Untuk
mengetahui gambaran ideal diri pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
c. Untuk
mengetahui gambaran harga diri pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
d. Untuk
mengetahui gambaran penampilan peran pasien fraktur di Ruang Rawat Inap Jeumpa
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
e. Untuk
mengetahui gambaran identitas personal pasien fraktur di Ruang Rawat Inap
Jeumpa Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
D.
Manfaat
Penelitian.
1. Bagi
peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian serta
dapat dijadikan bekal dalam melakukan penelitian dimasa yang akan datang.
2. Pemberi
pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, sebagai
bahan kajian keilmuan dalam asuhan keperawatan pada pasien terutama konsep diri
pasien fraktur sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
3. Institusi
Pendidikan Perawatan Poltekkes Pemerintah Aceh, khususnya Program D-IV
Keperawatan Medikal Bedah sebagai bahan tinjauan keilmuan di bidang keperawatan
Medikal Bedah sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik dalam
merapkan asuhan keperawatan pada pasien fraktur.
4. Profesi
Keperawatan, sebagai bahan kajian dalam menerapkan asuhan keperawatan pada
pasien fraktur sehingga meningkatkan peran perawat peneliti di bidang
keperawatan.
5. Bagi
peneliti lain sebagai bahan informasi apabila berminat untuk menindak lanjuti
hasil penelitian ini dari segi aspek yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar