Selasa, 13 Januari 2015

hubungan antara konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum


               BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Konsep diri didefinisikan sebagai semua  pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir tetapi dipelajari sebagai pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Konsep diri memberikan rasa kontinuitas, keutuhan dan konsistensi pada seseorang. Konsep diri yang sehat mempunyai kestabilan yang tinggi dan  membangkitkan perasaan positif atau negatif pada diri sendiri (Stuart & Sundeen, 1998, p.227).
Komponen konsep diri terdiri dari citra tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran dan identitas personal. Citra tubuh adalah kumpulan sikap individu yang disadari terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan sekarang serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan di modifikasikan dengan persepsi dan pengalaman yang baru. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku  berdasarkan standar, aspirasi, tujuan  atau nilai personal tertentu. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai interpesonal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dengan kelompok sosial. Peran merupakan serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dengan berbagai kelompok sosial. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, keseimbangan, konsisten dan komunikasi individu (Stuart & Sundeen, 1998, p.228).
Metode pembedahan pada pasien fraktur ekstremitas dapat mengakibatkan kerusakan bentuk tubuh dan gangguan fungsi. pendekatan multi disiplin sangat penting selama dan setelah menjalani pembedahan. pendekatan ini memberikan pasien tersebut sesuatu yang positif untuk difokuskan ketika pikiran–pikiran tentang perubahan bentuk tubuh yang mungkin begitu kuat. efek pembedahan pada citra tubuh, harga diri, dan kemempuan fungsi menjadi perhatian. bila perlu rencana rehabilitasi pascaoperatif dibuat sebelum intervensi pembedahan (Smeltzer & Bare, 2001, p.327)
Stres menurut Selye (1950) dikutip oleh Hidayat (2007, p.55) merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stres apabila seseorang mengalami beban yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi bebannya, maka tubuh akan berespons dengan tidak mampu terhadap beban tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres. Sebaliknya apabila seseorang dengan beban yang berat tetapi mampu mengatasi beban tersebut dan tubuh berespons dengan baik maka orang itu tidak mengalami stres.
Pembedahan atau operasi pada pasien fraktur ekstremitas merupakan salah satu bentuk terapi medis, tindakan tersebut dapat menyebabkan stres karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Komunikasi yang jujur dan informatif dengan pasien dan keluarga mengenai tujuan dari pembedahan adalah penting untuk mencegah harapan yang tidak nyata dan kekecewaan. Pasien membutuhkan bantuan untuk menghadapi kemungkinan perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh pembedahan. Pasien post operasi fraktur ekstremitas biasanya merasa cemas akan perubahan kondisi fisiknya karena pasien merasa akan tidak sanggup lagi melakukan aktifitas seperti biasa (Smeltzer & Bare, 2001, p.329).
Pasien post operasi fraktur ekstremitas yang mengalami stres tubuhnya akan mengaktifkan respon melawan atau menghindari baik tubuhnya tetap aktif maupun diam saja. Akibatnya tubuh akan mengeluarkan banyak energi yang dapat menyebabkan keletihan baik secara mental maupun fisik, dan bila stres tidak segera teratasi dikhawatirkan akan memperpanjang hari rawatan dan memperlambat proses penyembuhannya (Hudak & Gallo, 1997,p.31).
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang, penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2007 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda, dari hasil survey tim Depkes RI didapatkan 25% penderita fraktur yang mengalami kematian, 45 mengalami cacat fisik, 15% mengalami stress psikologis dan 10% mengalami kesembuhan dengan baik. dan di Sumatera Selatan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2006 didapatkan sekitar 2700 orang mengalami insiden fraktur, 56% penderita mengalami kecacatan fisik, 24% mengalami kematian, 15% mengalami kesembuhan dan 5% mengalami gangguan psikologis terhadap adanya kejadian fraktur (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti dari buku register pasien di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, Jeumpa II dan Jeumpa III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh didapatkan jumlah pasien post operasi fraktur ekstremitas yang dirawat dari Januari 2010 sampai dengan Desember 2010 di Ruang Jeumpa I berjumlah 80 orang, Ruang Jeumpa II berjumlah 58 orang serta Ruang Jeumpa III berjumlah 75 orang. dan totalnya semua berjumlah 213 dengan rata-rata perbulan 18 orang.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama 4 tahun bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, sebagian besar pasien post operasi fraktur ekstremitas menunjukkan reaksi peningkatan ketegangan psikologis dimana pasien merasa khawatir, merasa kurang berharga, sedih dan malu akibat keadaan fisiknya yang sudah jelek dan tidak sempurna lagi setelah tindakan operasi serta sering bertanya apakah fisiknya masih bisa kuat seperti sebelumya.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap 10 pasien post operasi fraktur ekstremitas di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, II , III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 15 April 2011, semuanya menunjukkan tanda-tanda gelisah dan sedih akan kondisi fisiknya dan selalu bertanya tentang  kondisi penyakitnya, 6 orang diantaranya merasa sedih dan malu dengan kondisi fisiknya yang sudah jelek setelah operasi dan menanyakan apakah masih mungkin untuk kembali sempurna seperti semula. 8 orang diantaranya mengatakan sangat mudah marah, frustasi dan tersinggung dengan keluarga dan petugas setelah tindakan operasi dilakukan. Pasien juga merasa khawatir soal pekerjaan, khawatir tergantung pada keluarga, khawatir soal keuangan dan takut akan hari depannya.
Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Konsep Diri dengan Stres Pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011”.


B.     Perumusan Masalah
Konsep diri yang sehat mempunyai kestabilan yang tinggi dan membangkitkan perasaan positif atau negatif pada diri sendiri. ketidak sesuaian antara aspek tertentu dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi sumber stres atau konflik. berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama 4 tahun bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, sebagian besar pasien post operasi menunjukkan reaksi peningkatan ketegangan psikologis, sedangkan berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap 10 pasien post operasi  di Ruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 15 April 2011, semuanya menunjukkan tanda-tanda gelisah dan sedih akan kondisi fisiknya dan selalu bertanya tentang  kondisi penyakitnya.
Berdasarkan fenomena diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011?.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui hubungan konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui hubungan citra tubuh dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.
b.      Mengetahui hubungan peran dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh 2011.
c.       Mengetahui hubungan harga diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas Diruang Rawat Inap Jeumpa I, II, III Rumah Sakit Umum daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi peneliti, Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan penelitian tentang hubungan konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas serta dapat dijadikan sebagai bekal dalam melakukan penelitian dimasa yang akan datang.
2.      Bagi pihak Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh,
Sebagai bahan masukan dalam mengevaluasi setiap tindakan keperawatan terkait konsep diri dan stres.
3.      Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan, Sebagai bahan masukan dan informasi tambahan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang konsep diri dengan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas.
4.      Bagi peneliti lain, menjadi data dasar dan masukan maupun informasi tambahan untuk penelitian selanjutnya mengenai konsep diri dan stres pada pasien post operasi fraktur ekstremitas.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar